Wayang Ajen adalah bentuk pertunjukan wayangkontemporer berbasis wayang golekSunda yang dikembangkan sejak tahun 1998 di Bekasi, Jawa Barat oleh dalang Wawan S. Gunawan atau biasa dikenal sebagai Wawan Ajen bersama budayawan Arthur S. Nalan.[1] Kata Ajen berasal dari bahasa Sundangajén yang berarti "nilai" atau "menghargai", merujuk pada penghormatan terhadap nilai-nilai tradisi wayang golek Nama ini pertama kali digunakan oleh Arthur S. Nalan sebagai penanda identitas pertunjukan wayang yang tidak hanya berorientasi pada hiburan, melainkan juga pendidikan dan transformasi sosial.
Sejarah
Satu tahun setelah, pertunjukan Wayang Ajen pertama kali dipentaskan di Indonesia yakni Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakartata pada Pekan Wayang Nasional dengan membawakan lakon berjudul ”Kidung Kurusetra”. Sanggar Wayang Ajen resmi didirikan di Bekasi Timur pada 2000 untuk menjadi pusat pelatihan dan pengembangan seni ini. Sejak sekitar tahun 2000, Wayang Ajen telah tampil di panggung internasional di lebih dari 47 negara termasuk Prancis, Yunani, Spanyol, Mesir, India, dan Korea Selatan. Sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia, Wayang Ajen tampil di festival internasional seperti Alexandria International Puppet Festival (Mesir) dan Bucheon World Intangible Cultural Heritage Expo (Korea Selatan).[2] Wayang Ajen sebagai wayang kontemporer Indonesia telah diakui oleh UNESCO sejak tahun 2003.[3]
Ritual
Lakon-lakon Wayang Ajen bersifat carangan, yaitu cerita baru yang diambil dari Mahabharata atau Ramayana dengan interpretasi kreatif dan pesan moral relevan. Tari yang digunakan pada awal pertunjukan Wayang Ajen adalah Tari Badaya. Tari ini dipakai karena tidak menggambarkan penokohan seperti tari wayang yang lain, tetapi hanya menggambarkan ungkapan pengabdian dan penghormatan kepada raja atau kepada petinggi di keraton serta menggambarkan pengabdian emban terhadap sang raja, atau secara lahiriahnya mengungkapkan abdi keraton.[4]
Kontroversi
Beberapa kalangan menyebut Wayang Ajen telah merusak nilai-nilai estetika dan nilai-nilai luhur dalam wayang tersebut. Selain itu, Wayang Golek juga mendapatkan nilai negatif karena dianggap kurang artistik, sekadar hiburan biasa, remeh, sehingga wayang ini sering dianggap mengalami kemunduran. Para dalang Wayang Golek induk dari Wayang Ajen ini juga dituduh merusak bentuk wayang.[5]
↑"Si Ucrit Wayang Ajen". Si Ucrit Wayang Ajen (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-17.
↑Nalan, Arthur Supardan (2020). [file:///Users/mac/Downloads/125937359%20(1).pdf "Wayang Ajen: Cultural Media Diplomated Culture"] (PDF). Atlantis Press. 419.