Walaupun sumber ceritanya kebanyakan berasal dari cerita Mahabarata dan Ramayana yang berasal dari India, tetapi beberapa isi detailnya telah diadaptasi untuk keadaan masyarakat Pulau Jawa. Beberapa modifikasi cerita ini misalnya mengenai Drupadi. Dalam Mahabarata versi asli India, ia adalah istri dari kelima bersaudara Pendawa, tetapi dalam Pustaka Raja Purwa dia hanya dinyatakan sebagai istri dari saudara tertua Pendawa yaitu Puntadewa (Yudistira). Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan timbulnya konflik sosial, karena seorang wanita tidak bisa mempunyai lima orang suami. Hal ini penting karena masyarakat Jawa memandang cerita wayang dipakai sebagai petuah, contoh dan pedoman hidup kebanyakan masyarakat.[4]
Judul lakon cerita dalam Pustaka Raja Purwa ini paling sedikit berjumlah 177 lakon (lampahan). Beberapa lakon tersebut adalah sebagai berikut:
Manikmaya, yaitu cerita mengenai Manik (Bathara Guru di Kahyangan) dan Ismaya (Semar di alam marcapada/dunia).
Watugunung, yaitu cerita mengenai Raden Buduk dari kerajaan Gilingwesi yang mengawini ibunya sendiri.
Mumpuni, yaitu cerita mengenai perkawinan antara dewi Mumpuni dan bathara Yamadipati.
Wisnu krama
Bambang Kalingga/Sekutrem
Palasara Krama
Dewabrata
Pandu Lahir
Narasoma Kawin
Puntadewa Lahir
Suyudana Lahir
Bima Bungkus
Arjuna Lahir
Yamawidura Kawin
Pandhu Papa
Palgunadi
Bale Sigala-gala
Babad Alas Wanamarta
Arimba
Mustakaweni
Antasena Lahir
Gathotkaca Lahir
Pergiwa-Pergiwati
Gathotkaca Kawin
Gathotkaca Dadi Ratu
Sasikirana
Brajadenta mbalela.
……
Wahyu Cakraningrat
Jagal Abilawa
Kresna Duta
Kresna gGugah
Seta Gugur
Bambang Wisanggeni
Pendawa Dadu
Yudayana Ilang
…
Arjunawiwaha
Sumantri Ngenger
Dasarata Kawin
Dewi Sinta Lahir
Rama Kawin
Tundhungan
Rama Dhuta
Rama Gandrung
Rama Tambak
Pejahipun Kumbakarna
Pejahipun Indrajid
Pejahipun Dasamuka
Sinta Obong
Rama Obong
Rama Nitis, dst.
Referensi
↑Suluk, Kawruh Pedhalangan lan Macapat, oleh Nanang Windradi, Penerbit Cendrawasih.