Tradisi di Cirebon memiliki sembilan tokoh punakawan yang berbeda dengan wilayah Yogyakarta dan Solo, yang umumnya hanya mengenal empat sosok punakawan utama saja, yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Kesembilan tokoh tersebut memiliki peran utama sebagai penghibur sekaligus penggambaran dari pengabdian kawula kepada raja, yang menjalankan tugasnya dengan penuh ketulusan.[3]
Bentuk visual
Wayang kulit
Sosok Bagal Buntung digambarkan memiliki perawakan yang pendek dan cenderung berisi dengan karakteristik kaki yang buntung.[4] Bagian perutnya tampak menonjol atau buncit, sementara wajahnya ditandai dengan mata yang lebar. Selain itu, ia memiliki hidung berbentuk bulat lonjong yang seolah-olah menggantung, serta digambarkan dengan bibir atas yang tebal serta posisi mulut yang terbuka.[2]
Karakter
Bagal Buntung digambarkan sebagai tokoh yang memiliki perbedaan fisik, khususnya disabilitas, yang membedakannya dari para punakawan lainnya. Meskipun demikian, Bagal Buntung memiliki keinginan untuk bisa menjalani kesehariannya dengan normal sebagaimana layaknya manusia pada umumnya.[4] Tokoh ini membawakan pesan bahwa keterbatasan jasmani tidaklah merupakan penghalang untuk menjadi tokoh yang pemberani.[3]
Contoh lakon
Salah satu lakon menceritakn konflik antara Amarta dan Negeri Girikobaran, yang disebabkan oleh tuntutan sepihak dari Girikobaran terhadap Jimat Layang Kalimasuda, yang ternyata dilaporkan sudah hilang. Pusaka tersebut ternyata telah dimanfaatkan oleh Bagal Buntung mengubah keadaan fisiknya sehingga ia memperoleh tubuh yang sempurna, berwajah rupawan, serta memiliki kesaktian luar biasa yang melampaui siapa saja. Sebagai bentuk tanggung jawabannya atas kekacauan yang terjadi, Bagal Buntung kemudian terjun langsung ke medan laga dengan penampilan barunya yang membuatnya nyaris tidak dikenali rekan-rekannya. Dengan kesaktian dan kemampuan perangnya yang telah sangat meningkat, ia berhasil memenangkan pertempuran dan mengalahkan kekuatan musuh, sehingga pihak Amarta berbalik unggul kembali dan akhirnya memenangkan peperangan.[4]