Jalan Veteran (Jakarta) adalah salah satu jalan di Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Pada masa kolonial Hindia Belanda, bersama dengan Jalan Ir. H. Juanda, kawasan Jalan Veteran dikenal sebagai kawasan elit di Batavia. Bersama-sama dengan Jalan Juanda dan Jalan Majapahit, tempat yang dulu dinamai Noordwijk dan Risjwijk ini dipenuhi oleh pusat perbelanjaan mewah, dengan tujuan mengembalikan status Batavia sebagai kota bergengsi di Asia Tenggara. [1][2][3]
Karena sudah banyak bangunan lama yang dirubuhkan, maka saat ini Jalan Veteran lebih banyak menjadi akses belakang atau samping dari beberapa gedung penting, seperti Istana Negara dan Kementerian Dalam Negeri. Sementara Bina Graha, Lembaga Administrasi Negara, Markas Besar TNI AD, Kementerian Sekretariat Negara, dan PT Kimia Farma memiliki akses utama dari jalan ini.
Sejarah
Dimulainya pembangunan gedung-gedung mewah di sekitar Jalan Veteran dan Majapahit diprakarsai oleh Gubernur Jendral Reinier de Klerk tahun 1776. Namun eksekusinya secara keseluruhan baru dikerjakan pada masa Herman Willem Daendels, dan diselesaikan oleh Rafless.[4]
Tempat ini dikembangkan dengan menggusur penduduk lokal, keturunan Tionghoa, dan pemakaman umum, lalu menetapkannya hanya boleh dimasuki para keturunan Eropa. Rafless kemudian menetapkan sebagian lahan sebagai tempat membangun kediamannya sendiri, yang kini dikenal sebagai Gedung Bina Graha. Pembangunan gereja Katolik sekalipun awalnya dilarang. Baru pada 8 Mei 1807, Louis Bonaparte, adik Napoleon Bonaparte, yang menaklukkan Nederland, membolehkan dibangunnya tempat peribadatan Katolik di daerah ini.[3]
Beberapa bangunan bersejarah yang berada di antara Jalan Veteran dan Jalan Majapahit telah dirobohkan pada tahun 1985 akibat pelebaran Jalan Majapahit, dan sebagian lainnya menjadi tempat parkir.[5][6][7]
Di jalan ini juga terdapat Paleis te Rijswijk atau Istana Rijswijk, sekalipun akses utamanya kini ada di Jalan Medan Merdeka Utara. Istana tersebut kini dikenal sebagai Istana Negara Jakarta.[8]