*Daftar ini juga mencakup mereka yang tidak melabeli diri sebagai umat Theravāda, seperti mereka dalam masa prasektarian, masa awal, modernis, EBT-is, dll., tetapi sangat dipengaruhi dan/atau memengaruhi ajaran Theravāda klasik.
Buddhadāsa (27 May 1906–25 May 1993) adalah seorang biku asal Thailand.[2][3] Dikenal sebagai penafsir baru ajaran Buddha dan kepercayaan tradisional Thailand, ia mendorong reformasi persepsi keagamaan konvensional di negara asalnya, Thailand, dan juga di luar negeri. Ia mengembangkan pandangan pribadi bahwa mereka yang telah menembus hakikat hakiki agama menganggap "semua agama secara batiniah sama", sementara mereka yang memiliki pemahaman tertinggi tentang Dhamma merasa "tidak ada agama". Ia juga memahami ajaran punarbawa atau kelahiran kembali dan penjelasan hukum karma yang terkait dengannya dengan cara yang kontroversial.[4] Buddhadāsa juga dikenal karena keterlibatannya dalam politik dan mengembangkan suatu bentuk sosialisme Buddhis yang ia sebut "sosialisme Dhammik".
Penafsiran kontroversial
Buddhadāsa berusaha keras untuk melakukan praktik yang sederhana dan murni dalam upayanya untuk meniru ajaran inti Buddha Gotama, "Lakukan kebaikan, hindari kejahatan, dan sucikan pikiran." Oleh karena itu, ia menghindari ritualisme adat dan politik internal yang mendominasi kehidupan monastik Siam. Kemampuannya untuk menjelaskan gagasan filosofis dan keagamaan yang rumit dalam bahasa asli Thailand Selatan menarik banyak orang ke wiharanya di hutan.
Ajaran utamanya terutama berfokus pada kesadaran yang tenang pola pernapasan seseorang yang disebut anapanasati. Namun, praktik pribadinya sangat didasarkan pada penelitian dan penafsiran tingkat lanjut dari kitab-kitab Pali awal di satu sisi dan pada eksperimen pribadinya yang radikal di sisi lain.
Penolakan punarbawa
Buddhadāsa menafsirkan ulang pandangan tradisional tentang punarbawa atau kelahiran kembali dan penjelasan hukum karma yang terkait dengannya karena menurutnya pandangan tersebut tidak sesuai dengan suññatā (Sanskerta: śūnyatā), dan tidak membantu dalam melenyapkan dukkha.[2]
Buddhadāsa, menurut John Powers – seorang profesor Studi Asia dan Buddhisme, menawarkan sebuah “penafsiran rasionalis” dan menganggap “seluruh pertanyaan tentang kelahiran kembali adalah bodoh”.[3] Menurut Buddhadāsa, Sang Buddha mengajarkan 'tanpa atma' (Pali:anattācode: pi is deprecated ; Sanskerta: anātman), yang menolak adanya entitas, jiwa, atau roh sebagai inti yang berpindah-pindah.[3] Powers mengutip pandangan Buddhadāsa sebagai, "karena tidak ada seorang pun yang dilahirkan, maka tidak ada seorang pun yang meninggal dan terlahir kembali". Oleh karena itu, Buddhadāsa menyatakan, "seluruh pertanyaan tentang kelahiran kembali tidak ada hubungannya dengan ajaran Buddha... dalam lingkup ajaran Buddha tidak ada pertanyaan tentang kelahiran kembali atau reinkarnasi". Tujuannya adalah Nibbāna, yang Buddhadāsa gambarkan sebagai suatu keadaan "melampaui semua penderitaan yang juga melampaui konsepsi kebahagiaan biasa."[3]
"Arti sebenarnya dari kata 'kelahiran' sebagaimana yang dimaksudkan oleh Sang Buddha bukanlah kelahiran dari rahim seorang ibu, itu terlalu fisik. Kelahiran yang ditunjukkan oleh Sang Buddha adalah kelahiran spiritual, kelahiran yang melekat pada 'aku' dan 'milikku'. Dalam satu hari bisa ada ratusan kelahiran; jumlahnya tergantung pada kapasitas seseorang, tetapi dalam setiap kelahiran 'aku' dan 'milikku' muncul, perlahan memudar, dan secara bertahap menghilang dan mati. Singkatnya, saat bersentuhan dengan objek indra, muncul yang lain. Setiap kelahiran menghasilkan reaksi yang berlanjut ke kelahiran berikutnya. Inilah yang disebut kamma dari kehidupan sebelumnya yang matang dalam kelahiran saat ini. Kemudian, kamma ditransmisikan lebih lanjut. Setiap kelahiran seperti ini."[5]
Dengan melepaskan anggapan tentang “aku” dan “milikku” maka kemelekatan yang egois akan ditinggalkan, dan Nirwana atau kekosongan sejati akan tercapai.[2] Hal ini dapat dilakukan dengan “tidak membiarkan munculnya ketergantungan terjadi; memotongnya tepat pada saat kontak indra."[2]
Pandangan Buddhadāsa telah "dikritik secara keras"[2] dan ditolak oleh banyak rekan biku aliran Theravāda dengan pandangan yang lebih ortodoks terhadap ajaran Buddha. Misalnya, Bhikkhu Bodhi menyatakan bahwa pendekatan Buddhadāsa dalam memandang ajaran tentang punarbawa atau kelahiran kembali "pada dasarnya akan menghancurkan Dhamma [...] konsepsi kelahiran kembali adalah landasan penting bagi teori etika Dhamma, yang memberikan insentif untuk menghindari semua kejahatan dan melakukan kebaikan," sebagaimana disimpulkan oleh Powers.[3]
Tidak ada agama
Sejak periode awal studi agamanya, Buddhadāsa menggunakan pendekatan komparatif dan berusaha untuk dapat menjelaskan "ajaran Buddha melalui sistem pemikiran lain seperti Taoisme, Hinduisme, Konfusianisme, Jainisme, dan Sains Alam."[6] Melalui metodologi semacam itu, ia mengadopsi pandangan dunia keagamaan yang menyatakan, "Mereka yang telah menembus hakikat hakiki agama akan menganggap semua agama itu sama. Meskipun mereka mungkin mengatakan ada Buddhisme, Yudaisme, Taoisme, Islam, atau apa pun, mereka juga akan mengatakan bahwa semua agama secara batiniah sama."
Dalam bukunya No Religion (1993), Buddhadāsa juga menyatakan:
...mereka yang telah menembus pemahaman 'Dhamma tertinggi akan merasa bahwa apa yang disebut "agama" itu tidak ada sama sekali. Tidak ada agama Buddha; tidak ada agama Kristen; tidak ada agama Islam. Bagaimana mungkin mereka sama atau bertentangan jika mereka bahkan tidak ada? (...) Jadi, frasa “Tidak ada agama!” sebenarnya adalah bahasa Dhamma tingkat tertinggi.[7]