"Mereka yang pandai membangkitkan marah Lewiatan" merujuk kepada ahli-ahli sihir, yang mampu menyampaikan kutukan yang benar-benar terjadi. "Lewiatan", baik di Alkitab (lihat Ayub 41, Mazmur 74:14; Mazmur 104:26; Yesaya 27:1; juga Ayub7:12; Yesaya 51:9; Habakuk 3:8) maupun sastra Timur Dekat kuno lainnya, adalah monster laut yang melambangkan kekacauan alam semesta. Ancaman terhadap alam semesta juga dinyatakan dalam bentuk datangnya kegelapan yang meliputi langit (ayat 4-6, 9).[4]
Ayat 25
Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.[5]
bahasa Ibrani: כי פחד פחדתי ויאתיני ואשר יגרתי יבא לי׃
Transliterasi Ibrani: kî p̄a·khaḏ pā·khaḏ·tî wa·ye·’ĕ·ṯā·yê·nî; wa·’ă·sher yā·ḡō·rə·tî, yā·ḇō lî.
Kerinduan terbesar Ayub ialah mengalami kehadiran dan perkenan Allah; kini hal yang paling ditakutinya terjadi. Allah tampaknya telah meninggalkan dia dan ia sama sekali tidak mengetahui alasannya. Namun, Ayub tidak mengutuki Allah; ia masih berdoa kepada-Nya memohon kemurahan dan pembebasan (Ayub 6:8–9).[6]
Referensi
↑J. Blommendaal. Pengantar kepada perjanjian lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857
↑(Indonesia) WS Lasor, Pengantar Perjanjian Lama 2, sastra dan nubuatan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1994.
↑The New Oxford Annotated Bible with the Apocrypha, Augmented Third Edition, New Revised Standard Version, Indexed. Michael D. Coogan, Marc Brettler, Carol A. Newsom, Editors. Publisher: Oxford University Press, USA; 2007. ISBN 0-19-528881-5, 978-0195288810