Berisi jawaban Ayub atas perkataan pertama Zofar, orang Naama, mengenai pencobaan yang dialami Ayub dalam pembicaraan antara Ayub dengan ketiga sahabatnya.
Ayub 12:2–25 = Ayub mengakui kekuasaan dan hikmat Allah
Ayat 13
"Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian."[3]
Manusia harus percaya bahwa Allah itu bijaksana dan berkuasa sehingga cara-cara-Nya menghadapi manusia itulah yang terbaik dan yang paling tepat untuk mencapai yang paling baik bagi manusia (bandingkan Ayub 9:4; 36:5; Yesaya 40:26,28; Daniel 2:20; Roma 8:28; 16:25,27)
1) Orang percaya tidak boleh berpikir bahwa Allah menjanjikan hidup tanpa kesukaran (bandingkan Mazmur 34:20). Allah mungkin mengirim baik kesenangan maupun kesusahan supaya melepaskan kasih manusia akan hal-hal dari dunia ini dan mengikat kasih itu kepada diri-Nya.
2) Allah mengarahkan semua peristiwa di dalam kehidupan manusia percaya yang mengabdi dengan tujuan pengudusan pribadi dan menggenapi pelayanannya di dalam kerajaan Allah (bandingkan Yakub dalam Kejadian 28:1–35:29; Yusuf dalam Kejadian 37:28)
3) Di dalam hidup ini manusia percaya tidak pernah dapat memahami sepenuhnya tujuan akhir dari segala sesuatu yang menimpa diri mereka, demikian pula tidak senantiasa jelas bagaimana Allah bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Pengkhotbah 3:11; 7:13; 11:5; Roma 8:28). Selama saat-saat itu, ketika manusia tidak bisa mengerti sepenuhnya cara Allah menangani manusia, manusia harus menyerahkan diri kepada Bapa sorgawi, sama seperti yang dilakukan Kristus ketika Ia disalibkan (bandingkan Matius 27:46; Lukas 23:46).[4]
Referensi
↑J. Blommendaal. Pengantar kepada perjanjian lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857
↑(Indonesia) WS Lasor, Pengantar Perjanjian Lama 2, sastra dan nubuatan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1994.