Berisi jawaban Ayub atas perkataan pertama Bildad, orang Suah, mengenai pencobaan yang dialami Ayub dalam pembicaraan antara Ayub dengan ketiga sahabatnya.
Ayub 9:2–35 = Jawab Ayub: Tidak seorangpun dapat bertahan di hadapan Allah
Ayat 2
"Sungguh, aku tahu, bahwa demikianlah halnya, masakan manusia benar di hadapan Allah?"[3]
Dalam pasal Ayub 9:1-35 Ayub mengakui bahwa dia tidak mungkin benar secara sempurna di hadapan Allah. Ia mengerti bahwa pada dasarnya ia cenderung kepada keakuan dan dosa sehingga tidak tanpa cacat di hadapan Allah (bandingkan Ayub 7:21). Namun, dengan segenap hati dan jiwanya ia telah melawan kejahatan dan berbalik daripadanya (Ayub 1:1,8; 2:3); ia yakin bahwa dirinya tidak melakukan dosa besar sehingga tidak patut menderita sehebat itu (Ayub 6:24; 7:20). Jadi, Ayub mengeluh bahwa Allah telah menghukum dirinya tanpa alasan (Ayub 9:16–20). Sekalipun demikian, imannya tetap kokoh, karena ia terus berseru kepada-Nya (lihat Ayub 10:2,8–12; bandingkan Yakobus 5:11). Ia tidak mengutuk Allah sebagaimana diperkirakan Iblis (Ayub 1:11; 2:5), sekalipun ia mengeluarkan kata-kata yang kemudian disesalinya (Ayub 9:17,20,22–23,30–31; 42:3–6).[4]
Ayat 9
Yang menjadikan bintang Biduk, bintang Belantik, bintang Kartika, dan gugusan-gugusan bintang Ruang Selatan;[5]
↑The New Oxford Annotated Bible with the Apocrypha, Augmented Third Edition, New Revised Standard Version, Indexed. Michael D. Coogan, Marc Brettler, Carol A. Newsom, Editors. Publisher: Oxford University Press, USA; 2007. ISBN 0-19-528881-5, 978-0195288810