Berisi jawaban Ayub atas perkataan pertama Bildad, orang Suah, mengenai pencobaan yang dialami Ayub dalam pembicaraan antara Ayub dengan ketiga sahabatnya.
Ayub 10:1–2 = Ayub menjawab Bildad bahwa ia ingin berbicara dengan Allah
Ayub 10:3–17 = Ayub bertanya apakah maksud Allah dengan penderitaan?
Ayub 10:18–22 = Ayub lebih suka kematian atau tidak pernah ada.
Ayat 2
"Aku akan berkata kepada Allah: Jangan mempersalahkan aku; beritahukanlah aku, mengapa Engkau beperkara dengan aku."[3]
Tidak pernah Ayub berdoa memohon kesembuhan untuk tubuhnya. Yang paling menarik perhatiannya ialah "mengapa" ia menderita dan mengapa Allah tampaknya telah meninggalkan hamba-Nya; mengetahui jawaban atas masalah ini lebih penting bagi Ayub daripada kesengsaraan yang sedang dialaminya. Diterima oleh Allah sebagai milik-Nya, bahkan di tengah kesengsaraan, adalah hal yang paling penting di dalam hidupnya.[4]
Ayat 10
Bukankah Engkau yang mencurahkan aku seperti air susu, dan mengentalkan aku seperti keju?[5]
Gambaran pembuatan keju kemungkinan merupakan metafora dari pembentukan embrio, digambarkan sebagai pengentalan cairan seminal (bandingkan Mazmur 139:13–16).[6]
↑The New Oxford Annotated Bible with the Apocrypha, Augmented Third Edition, New Revised Standard Version, Indexed. Michael D. Coogan, Marc Brettler, Carol A. Newsom, Editors. Publisher: Oxford University Press, USA; 2007. ISBN 0-19-528881-5, 978-0195288810