Merupakan babak ketiga percakapan antara Ayub dengan ketiga sahabatnya, yang dicatat dalam pasal 22 sampai 31.
Berisi jawaban Ayub atas perkataan ketiga Bildad, orang Suah, mengenai pencobaan yang dialami Ayub dan akhir pembicaraan.
Di bagian ini Ayub meninjau integritas rohaninya yang teguh, kesetiaannya pada Allah dan jalan-jalan-Nya, serta kebaikannya kepada orang lain.
1) Pernyataan Ayub mengenai karya penebusan Allah di dalam dirinya mencakup semua aspek kehidupan. Ayub berbicara tentang ketidaksalahannya dalam hal dosa yang dilakukan di dalam hati, termasuk nafsu seksual dan pikiran kotor (ayat Ayub 31:1-4), berdusta dan berbohong untuk memperoleh untung (ayat Ayub 31:5-8), dan ketidaksetiaan dalam perkawinan (ayat Ayub 31:9-12). Dia menyatakan perlakuannya yang adil terhadap anak buahnya (ayat Ayub 31:13-15) dan perhatiannya terhadap yang miskin dan melarat (ayat Ayub 31:16-23). Ia bersikeras bahwa dirinya bebas dari keserakahan (ayat Ayub 31:24-25), penyembahan berhala (ayat Ayub 31:26-28), balas dendam (ayat Ayub 31:29-32), dan kemunafikan (ayat Ayub 31:33-34).
2) Tabiat moral dan kemurnian hati dan hidup yang diuraikan di sini merupakan contoh yang baik bagi setiap orang percaya. Hidup saleh yang dijalankan Ayub pada zaman pra-perjanjian baru dapat dialami dengan berkelimpahan oleh semua orang percaya di dalam Kristus, melalui kuasa penyelamatan dari kematian dan kebangkitan-Nya (Rom 8:1-17; Gal 2:20).[3]
Struktur
Ayub 31:1–40 = Sekali lagi Ayub mengaku tidak bersalah
Pembuktian kesalehan Ayub
Untuk membuktikan bahwa ia tak bersalah, Ayub menyatakan bersedia menerima penghukuman Allah apabila ia melakukan hal-hal yang dituduhkan oleh sahabat-sahabatnya. Ayub menyebut Allah sebagai saksinya (lihat ayat 4) dan menyampaikan daftar perbuatan yang dituduhkan dengan konsekuensinya dalam format yang berulang.
Jikalau...
maka biarlah...
ayat
...langkahku menyimpang dari jalan, dan hatiku menuruti pandangan mataku, dan noda melekat pada tanganku
...apa yang kutabur, dimakan orang lain, dan ...tercabut apa yang tumbuh bagiku.
...aku mengabaikan hak budakku laki-laki atau perempuan, ketika mereka beperkara dengan aku, ...aku pernah menolak keinginan orang-orang kecil, menyebabkan mata seorang janda menjadi pudar, atau memakan makananku seorang diri, sedang anak yatim tidak turut memakannya ...aku melihat orang mati karena tidak ada pakaian, atau orang miskin yang tidak mempunyai selimut, dan pinggangnya tidak meminta berkat bagiku, dan tidak dipanaskannya tubuhnya dengan kulit bulu dombaku; ...aku mengangkat tanganku melawan anak yatim, karena di pintu gerbang aku melihat ada yang membantu aku,
...tulang belikatku lepas dari bahuku, dan lenganku dipatahkan dari persendiannya.
...aku menaruh kepercayaan kepada emas, dan berkata kepada kencana: Engkaulah kepercayaanku; ...aku bersukacita, karena kekayaanku besar dan karena tanganku memperoleh harta benda yang berlimpah-limpah; ...aku pernah memandang matahari, ketika ia bersinar, dan bulan, yang beredar dengan indahnya, sehingga diam-diam hatiku terpikat, dan menyampaikan kecupan tangan kepadanya, maka hal itu juga menjadi kejahatan yang patut dihukum oleh hakim, karena Allah yang di atas telah kuingkari. ...orang-orang di kemahku mengatakan: Siapa yang tidak kenyang dengan lauknya? ...aku menutupi pelanggaranku seperti manusia dengan menyembunyikan kesalahanku dalam hatiku, karena aku takuti khalayak ramai dan penghinaan kaum keluarga mengagetkan aku, sehingga aku berdiam diri dan tidak keluar dari pintu! ...ladangku berteriak karena aku dan alur bajaknya menangis bersama-sama, ...aku memakan habis hasilnya dengan tidak membayar, dan menyusahkan pemilik-pemiliknya,
...maka biarlah bukan gandum yang tumbuh, tetapi onak, dan bukan jelai, tetapi lalang.