ENSIKLOPEDIA
Allosaurus
| Allosaurus | |
|---|---|
| Rangkaian cetakan spesimen "Big Al 2" (Allosaurus jimmadseni) di Museum Ilmu Pengetahuan Alam Houston | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Klad: | Dinosauria |
| Klad: | Saurischia |
| Klad: | Theropoda |
| Famili: | †Allosauridae |
| Subfamili: | †Allosaurinae Marsh, 1878 |
| Genus: | †Allosaurus Marsh, 1877 |
| Spesies tipe | |
| †Allosaurus fragilis Marsh, 1877 | |
| Spesies lain | |
| Sinonim | |
|
Sinonim genus
| |
Allosaurus (/ˌæləˈsɔːrəs/ AL-o-SAWR-us)[1] adalah sebuah genus dinosaurus teropoda yang hidup sekitar 155 hingga 145 juta tahun yang lalu pada periode Jura Akhir (kala Kimmeridgium hingga Tithonium akhir). Sisa-sisa fosil pertama yang dapat dikaitkan secara definitif dengan genus ini dideskripsikan pada tahun 1877 oleh Othniel C. Marsh. Nama "Allosaurus" berarti "kadal yang berbeda", merujuk pada tulang belakangnya (vertebrae) yang ringan, yang diyakini Marsh sebagai sesuatu yang unik. Genus ini memiliki taksonomi yang sangat rumit dan mencakup setidaknya tiga spesies yang valid, yang paling terkenal di antaranya adalah A. fragilis. Sebagian besar sisa-sisa fosil Allosaurus berasal dari Formasi Morrison di Amerika Utara, dengan beberapa material juga diketahui dari formasi Alcobaça, Bombarral, dan Lourinhã di Portugal. Genus ini dikenal selama lebih dari separuh abad ke-20 sebagai Antrodemus, tetapi sebuah studi terhadap sisa-sisa fosil yang melimpah dari Kuari Dinosaurus Cleveland-Lloyd mengembalikan nama "Allosaurus" ke posisi utamanya. Sebagai salah satu dinosaurus teropoda pertama yang dikenal luas, hewan ini telah lama menarik perhatian di luar kalangan paleontologi.
Allosaurus adalah predator bipedal yang besar pada masanya. Tengkoraknya ringan, kokoh, dan dilengkapi dengan puluhan gigi tajam yang bergerigi. Panjang rata-ratanya adalah 85 meter (279 ft) untuk A. fragilis, dengan spesimen terbesar diperkirakan memiliki panjang 97 meter (318 ft). Dibandingkan dengan kakinya yang besar dan kuat, lengan berjari tiganya tergolong kecil dan tubuhnya diseimbangkan oleh ekor yang panjang dan berotot. Hewan ini diklasifikasikan ke dalam famili Allosauridae. Sebagai predator besar yang paling melimpah di Formasi Morrison, Allosaurus berada di puncak rantai makanan dan kemungkinan besar memangsa dinosaurus herbivora besar seperti ornitopoda, stegosauridae, dan sauropoda. Para ilmuwan telah memperdebatkan apakah Allosaurus memiliki perilaku sosial kooperatif dan berburu dalam kawanan, atau merupakan predator penyendiri yang membentuk perkumpulan sesaat, dengan bukti yang mendukung kedua pandangan tersebut.
Sejarah penemuan
Penemuan awal dan penamaan Allosaurus
Allosaurus ditemukan selama Perang Tulang, sebuah perseteruan antara dua paleontolog Amerika, Othniel Charles Marsh dan Edward Drinker Cope, yang memicu lonjakan penemuan fosil di Amerika Serikat bagian Barat.[2] Fosil pertama yang dideskripsikan dalam sejarah taksonomi Allosaurus adalah sebuah tulang yang diperoleh secara tidak langsung oleh Ferdinand V. Hayden pada tahun 1869.[3]: 11 [4] Fosil tersebut berasal dari Middle Park, di dekat Granby, Colorado, kemungkinan dari batuan Formasi Morrison. Penduduk setempat sebelumnya mengidentifikasi tulang-tulang semacam itu sebagai "kuku kuda yang membatu". Hayden mengirimkan spesimennya kepada Joseph Leidy, yang mengidentifikasinya sebagai separuh tulang belakang ekor dan untuk sementara waktu mengelompokkannya ke dalam genus dinosaurus Eropa Poekilopleuron dengan nama Poicilopleuron [sic] valens.[5] Ia kemudian memutuskan bahwa fosil tersebut layak memiliki genusnya sendiri, yaitu Antrodemus.[4]
Allosaurus itu sendiri didasarkan pada spesimen YPM 1930, sebuah koleksi kecil tulang-tulang terpisah yang mencakup bagian dari tiga tulang belakang, sebuah fragmen tulang rusuk, sebuah gigi, sebuah tulang jari kaki, dan bagian tengah (diafisis) dari humerus (tulang lengan atas) kanan. Marsh memberikan sisa-sisa fosil ini nama Allosaurus fragilis pada tahun 1877. Kata Allosaurus berasal dari kata dalam bahasa Yunani alloscode: grc is deprecated /αλλοςcode: grc is deprecated , yang berarti "aneh" atau "berbeda", dan sauroscode: grc is deprecated /σαυροςcode: grc is deprecated , yang berarti "kadal" atau "reptil".[6] Marsh memilih nama 'kadal yang berbeda' karena ia meyakini bahwa tulang belakangnya berbeda dengan dinosaurus lain akibat struktur pembangunnya yang ringan.[a][7][1] Julukan spesies fragilis merupakan kata dalam bahasa Latin untuk "rapuh", yang lagi-lagi merujuk pada fitur peringan pada tulang belakangnya.[1] Tulang-tulang tersebut ditemukan oleh dua kolektor Marsh, yaitu Benjamin Mudge dan Samuel W. Williston, pada musim gugur tahun 1877 di Kuari Felch, di area Garden Park, Colorado. Marsh dan para kolektornya merasa tidak puas dengan kualitas fosil yang dikumpulkan, sehingga ia memerintahkan penutupan kuari tersebut pada musim gugur yang sama. Meski demikian, Marsh menamai dua dinosaurus baru dari sisa-sisa ini: Diplodocus dan Allosaurus. Pada tahun 1883, Marsh mempekerjakan penemu asli kuari tersebut, Marshall P. Felch, untuk melanjutkan ekskavasi. Penemuan Felch selanjutnya menjadikan kuari tersebut sebagai salah satu situs utama di formasi Morrison, dan mencakup spesimen holotipe dari Ceratosaurus nasicornis, Stegosaurus stenops, serta kerangka Allosaurus yang sebagian besar utuh (USNM 4734) yang di kemudian hari terpilih sebagai spesimen neotipe untuk Allosaurus fragilis (satu-satunya spesimen yang menjadi dasar spesies ini, menggantikan holotipe yang kurang memadai).[2]
Pada tahun 1879, salah satu kolektor Cope, H. F. Hubbell, menemukan sebuah spesimen di area Como Bluff, tetapi tampaknya ia tidak menyebutkan tingkat keutuhannya dan Cope tidak pernah membuka bungkusan spesimen tersebut. Saat bungkusan tersebut dibuka pada tahun 1903 (beberapa tahun setelah Cope meninggal), spesimen tersebut ternyata merupakan salah satu spesimen teropoda paling utuh yang diketahui pada saat itu dan kerangkanya, yang kini dikatalogkan sebagai AMNH 5753, dipamerkan untuk umum pada tahun 1908.[8] Kerangka inilah yang merupakan pajangan terkenal yang berpose di atas sebagian kerangka Apatosaurus seolah-olah sedang mengais bangkainya, sebagaimana diilustrasikan dalam sebuah lukisan karya Charles R. Knight. Meskipun tercatat sebagai pajangan berdiri bebas pertama dari dinosaurus teropoda dan sering diilustrasikan maupun difoto, spesimen ini belum pernah dideskripsikan secara ilmiah.[9]
Pada tahun 1925, Werner Janensch mendeskripsikan Allosaurus tendegurensis dari Lapisan Tendaguru di Tanzania. Spesies ini didasarkan pada satu tulang kering (tibia) saja. Sebuah studi dari bulan Juni 2012 oleh Carrano dkk. menolak sisa-sisa fosil A. tendegurensis karena dianggap tidak diagnostik, sehingga menjadikannya sebagai dinosaurus teropoda Tetanurae yang tidak dapat ditentukan secara spesifik.[10]
Perubahan nama menjadi Antrodemus dan penemuan awal di Monumen Nasional Dinosaurus
Banyaknya nama yang diciptakan oleh Cope dan Marsh mempersulit penelitian di kemudian hari, dengan situasi yang semakin diperburuk oleh deskripsi singkat yang mereka berikan. Bahkan pada masa itu, para penulis seperti Samuel W. Williston mengemukakan bahwa ada terlalu banyak nama yang telah diciptakan.[11] Sebagai contoh, Williston menyoroti pada tahun 1901 bahwa Marsh tidak pernah mampu membedakan secara memadai antara Allosaurus dan Creosaurus.[12] Upaya awal yang paling berpengaruh untuk menyelesaikan masalah ini dilakukan oleh Charles W. Gilmore pada tahun 1920. Ia berkesimpulan bahwa tulang belakang ekor yang dinamakan Antrodemus oleh Leidy tidak dapat dibedakan dari milik Allosaurus dan bahwa Antrodemus seharusnya menjadi nama yang lebih diutamakan karena, sebagai nama yang lebih tua, ia memiliki prioritas.[13] Antrodemus menjadi nama yang diterima untuk genus yang familier ini selama lebih dari 50 tahun, hingga James H. Madsen menerbitkan riset mengenai spesimen-spesimen Cleveland-Lloyd dan menyimpulkan bahwa nama Allosaurus-lah yang seharusnya digunakan karena Antrodemus didasarkan pada material yang memiliki fitur diagnostik dan informasi lokasi yang buruk, kalaupun ada. Sebagai contoh, formasi geologi tempat satu tulang Antrodemus itu berasal tidaklah diketahui.[3]
Pada tahun 1909, Earl Douglass dari Museum Carnegie menemukan apa yang di kemudian hari menjadi Monumen Nasional Dinosaurus di Utah. Hingga tahun 2022, Douglass dan timnya mengekskavasi lebih dari 700,000 pon (317,515 kg) fosil dari berbagai spesies dinosaurus dari satu kuari, termasuk beberapa spesimen Allosaurus.[14] Di antara temuan-temuan ini adalah CM 11844, yang dikumpulkan antara tahun 1913 dan 1915 dan mencakup sebagian besar kerangka serta tengkorak yang terpisah-pisah. Sejak tahun 1938, kerangka ini dipamerkan di Museum Carnegie.[15] Selama musim panas tahun 1924, Universitas Utah menemukan DINO 2560, spesimen Allosaurus terawetkan paling baik yang diketahui pada saat itu. Tengkorak dari individu yang sangat besar ini dipamerkan di Monumen Nasional Dinosaurus.[14][16][17]
Penemuan Cleveland-Lloyd dan "Big Al"

Meskipun pekerjaan sporadis di tempat yang kelak dikenal sebagai Kuari Dinosaurus Cleveland-Lloyd di Utah telah berlangsung sedini tahun 1927 dan situs fosil itu sendiri dideskripsikan oleh William L. Stokes pada tahun 1945,[18] operasi besar-besaran tidak dimulai di sana hingga tahun 1960. Madsen memimpin sebuah upaya kerja sama antara tahun 1960 dan 1965 yang melibatkan hampir 40 institusi, di mana ribuan tulang berhasil diangkat dari situs tersebut.[3] Kuari ini terkenal karena dominasi sisa-sisa fosil Allosaurus: kuari tersebut mengawetkan setidaknya 73 individu dinosaurus dan sekurang-kurangnya 46 di antaranya adalah A. fragilis. Jumlah sisa-sisa Allosaurus yang melimpah dan terawetkan dengan baik telah memungkinkan genus ini untuk diketahui secara sangat mendetail, menjadikannya salah satu teropoda yang paling dikenal. Sisa-sisa kerangka dari kuari tersebut berkaitan dengan individu-individu dari hampir semua usia dan ukuran, mulai dari yang panjangnya kurang dari 1 meter (3,3 kaki)[19] hingga 12 meter (39 kaki).[3] Karena fosil-fosilnya umum ditemukan baik di kuari ini maupun kuari lainnya di negara bagian tersebut, Allosaurus ditetapkan sebagai fosil negara bagian Utah pada tahun 1988.[20]

Pada awal dasawarsa 1990-an, sebuah tim dari Swiss yang dipimpin oleh Kirby Siber berangkat untuk melakukan ekskavasi fosil komersial di Kuari Howe Ranch, Wyoming. Kuari ini awalnya telah dikerjakan pada tahun 1934 oleh Barnum Brown dan krunya, yang mengumpulkan lebih dari 30 ton tulang, sebagian besarnya adalah sauropoda. Karena tim Swiss tidak dapat menemukan spesimen tambahan di kuari tersebut, mereka menjelajahi area sekitarnya, di mana mereka menemukan "Big Al" (MOR 693) pada tahun 1991: sebuah spesimen Allosaurus yang 95% utuh dan sebagian bersendi (terartikulasi). Akan tetapi, karena situs baru tersebut berlokasi di tanah publik, ekskavasi diambil alih oleh tim gabungan dari Museum of the Rockies dan Museum Geologi Universitas Wyoming.[21][22] Spesimen ini, yang sekarang dipamerkan di Museum of the Rockies, merupakan milik individu dengan panjang sekitar 8 m (26 ft). Ukuran ini berada di bawah ukuran rata-rata Allosaurus,[21] karena ia merupakan individu sub-dewasa yang diperkirakan baru tumbuh sekitar 87%.[23] Tim Swiss kemudian mengekskavasi Allosaurus kedua, "Big Al II" (SMA 0005), di lahan pribadi di Howe Ranch, yang dipamerkan di Museum Dinosaurus Aathal di Swiss.[22]
Pada tahun 1991, Brooks Britt berpendapat bahwa setidaknya ada dua spesies Allosaurus: Spesies yang tangguh dengan tengkorak yang pendek dan tinggi serta tanduk lakrimal yang runcing, dan spesies yang lebih grasil dengan tengkorak yang panjang dan rendah serta tanduk lakrimal yang membulat. Spesies tangguh ini secara geologis lebih muda dari berbagai lokalitas seperti Kuari Dry Mesa dan Garden Park, sedangkan spesies yang grasil, ditemukan di Cleveland-Lloyd dan di Monumen Nasional Dinosaurus, berusia lebih tua.[24]: 59 Bahkan pada tahun 1988, Gregory S. Paul membuat pembedaan serupa dalam sebuah buku populer, di mana ia merujuk spesies yang grasil sebagai A. fragilis dan spesies yang tangguh sebagai A. atrox, menggunakan spesies yang awalnya dideskripsikan oleh Marsh sebagai Creosaurus atrox.[25]: 310 Namun, serangkaian analisis statistik oleh David K. Smith antara tahun 1996 dan 1999[26][27] mengemukakan bahwa perbedaan yang terlihat pada material dari Formasi Morrison dapat dikaitkan dengan variasi individu.[28]
Penemuan di Portugal dan Eropa lainnya

Allosaurus diketahui dari setidaknya tiga lokalitas di Portugal, dari batuan formasi Lourinhã, Bombarral, dan Alcobaça.[29] Spesimen pertama (MNHNUL/AND.001), berupa sebagian kerangka yang mencakup tungkai belakang bersendi dan panggul, ditemukan pada tahun 1988 di dekat desa Andrés di Distrik Leiria selama pembangunan sebuah gudang.[30][31] Dilaporkan pada tahun 1999 dan ditetapkan sebagai spesies A. fragilis, ini merupakan spesimen Allosaurus pertama yang ditemukan di luar Amerika Utara. A. fragilis menjadi spesies dinosaurus pertama yang diketahui keberadaannya baik di Eropa maupun Amerika Utara, yang mengindikasikan adanya pertukaran fauna di antara kedua benua tersebut.[29][30] Situs ini kembali digali antara tahun 2005 dan 2010, yang menghasilkan penemuan setidaknya dua individu Allosaurus lainnya, termasuk banyak tulang tengkorak.[29] Pada tahun 2005, sebuah tulang rahang atas (maksila) tunggal dilaporkan dari tambang batu bara Guimarota, sebuah lokalitas yang terkenal akan fosil-fosil mamalia Mesozoikumnya; fosil ini ditetapkan sebagai bagian dari Allosaurus namun tidak merujuk pada spesies tertentu.[32]
Pada tahun 2006, Octávio Mateus beserta rekan-rekannya melaporkan sebagian tengkorak dan tiga tulang belakang leher (ML 415) dari pantai Vale Frades di Lourinhã. Karena spesimen ini berbeda dengan fosil-fosil Allosaurus di Amerika Utara, mereka menetapkannya sebagai spesies baru, A. europaeus. Para penulis ini juga menetapkan spesimen Andrés ke dalam spesies tersebut, meskipun hanya didasarkan pada fakta bahwa ia ditemukan di Portugal. Kehadiran spesies Allosaurus yang terpisah di Eropa dapat menunjukkan bahwa pertukaran fauna antarbenua tersebut telah terputus, kemungkinan akibat terbukanya Samudra Atlantik.[29][33] Status A. europaeus memicu diskusi kontroversial pada tahun-tahun berikutnya, dengan berbagai studi berbeda yang berpendapat bahwa spesies tersebut merupakan sinonim dari A. fragilis,[34] sebuah nomen dubium (nama yang diragukan),[31] atau perlu dievaluasi kembali.[35] Pada tahun 2024, André Burigo dan Mateus mendeskripsikan ulang spesimen Vale Frades dan melakukan preparasi fosil lebih lanjut yang menyingkap tulang-tulang tambahan. Para penulis tersebut mengidentifikasi sembilan fitur unik yang mendukung validitas A. europaeus.[36] Sebuah studi tahun 2025 oleh Elisabete Malafaia dan rekan-rekannya mendeskripsikan spesimen-spesimen Andrés secara terperinci, termasuk serangkaian tulang tengkorak yang baru ditemukan. Analisis mereka mengenai hubungan antartengkorak individu Allosaurus malah mengemukakan bahwa A. europaeus adalah sinonim dari A. fragilis karena spesimen-spesimen Andrés berkerabat lebih dekat dengan beberapa spesimen Amerika Utara dibandingkan dengan spesimen Vale Frades.[29]
A. jimmadseni dan A. anax

Pada tanggal 15 Juli 1990, George Engelmann menemukan tulang-tulang jari kaki dan beberapa tulang belakang ekor yang melapuk keluar dari batuan saat melakukan inventarisasi fosil di Monumen Nasional Dinosaurus. Staf Monumen Nasional mulai mengekskavasi spesimen baru tersebut pada akhir tahun yang sama; kondisinya sangat sulit karena lokasinya yang berada di permukaan batu yang miring dan curam, yang seiring berjalannya ekskavasi, posisinya menjadi vertikal. Pada tahun 1994, sebagian besar kerangka yang telah diekskavasi diangkut keluar menggunakan helikopter dalam satu bongkahan utuh seberat 2,700 kg (5,95 pon).[19] Tengkoraknya, yang pada saat itu masih hilang, baru ditemukan dua tahun kemudian, pada tahun 1996, dengan bantuan teknik survei radiologi baru yang mendeteksi radiasi gama dari mineral radioaktif yang terakumulasi di dalam tulang selama proses fosilisasi.[37] Spesimen tersebut, DINO 11541, merupakan salah satu kerangka teropoda paling utuh yang pernah ditemukan dari masa Jura Akhir.[37] Pada tahun 2000, Daniel Chure mendeskripsikan spesimen tersebut dalam tesis Ph.D. miliknya, dan berpendapat bahwa spesimen itu mewakili sebuah spesies baru, A. jimmadseni. Namun, karena tesis tersebut tidak memenuhi persyaratan Komisi Internasional untuk Nomenklatur Zoologi (ICZN), nama tersebut tetap menjadi nomen nudum ("nama telanjang") yang tidak valid hingga Chure dan Mark Loewen secara resmi mendeskripsikan spesies tersebut pada tahun 2020.[38]: 223 [22] Para penulis ini menetapkan beberapa spesimen lain ke dalam A. jimmadseni, termasuk individu asli "Big Al" (MOR 693).[22] Nama jimmadseni ditujukan untuk menghormati Madsen atas kontribusinya pada taksonomi genus tersebut, khususnya untuk karyanya pada tahun 1976.[22]
Masalah mengenai spesies dan potensi sinonimnya secara historis dipersulit oleh spesimen tipe dari Allosaurus fragilis (YPM 1930) yang kondisinya sangat terpisah-pisah. Karena hal ini, beberapa ilmuwan telah menafsirkan spesimen tipe tersebut berpotensi meragukan, yang berarti genus Allosaurus itu sendiri atau setidaknya spesies A. fragilis akan menjadi nomen dubium ("nama yang diragukan", didasarkan pada spesimen yang terlalu tidak utuh untuk dibandingkan dengan spesimen lain atau untuk diklasifikasikan). Untuk mengatasi situasi ini, Gregory S. Paul dan Kenneth Carpenter mengajukan petisi kepada ICZN pada tahun 2010 untuk memilih spesimen USNM 4734 yang lebih utuh sebagai sebuah neotipe,[17] sebuah keputusan yang kemudian disahkan oleh ICZN pada tanggal 29 Desember 2023.[39] Pada tahun 2014, Sebastian Dalman menamai spesies baru Allosaurus lucasi berdasarkan dua spesimen dari kala Tithonium di Colorado, tetapi spesies ini tidak diterima oleh para penulis di kemudian hari.[40][22][29]
Pada tahun 1995, Chure membuat takson Saurophaganax maximus untuk sisa-sisa allosauridae raksasa dari Oklahoma barat. Sisa-sisa fosil ini sebelumnya dikenal sebagai Saurophagus, namun nama tersebut telah digunakan (untuk takson lain), sehingga mendorong Chure untuk mengusulkan sebuah nama pengganti.[41] Smith, dalam analisis variasinya pada tahun 1998, menyimpulkan bahwa S. maximus tidak memiliki cukup perbedaan dengan Allosaurus untuk menjadi genus yang terpisah, namun cukup memenuhi syarat sebagai spesiesnya sendiri, A. maximus.[42] Penetapan ulang ini ditolak dalam sebuah tinjauan mengenai tetanura basal.[43] Penilaian ulang pada tahun 2024 oleh Andy Danison beserta rekan-rekannya mengemukakan bahwa spesimen Saurophaganax tersebut adalah sebuah kimera yang menggabungkan tulang-tulang Allosaurus dengan tulang sauropoda. Holotipe Saurophaganax itu sendiri, yang berupa sebuah lengkung saraf, tidak dapat dikelompokkan secara meyakinkan ke dalam teropoda, sehingga menjadikannya sebuah nomen dubium. Tulang-tulang Allosaurus tersebut bagaimanapun juga ditemukan memiliki perbedaan yang cukup signifikan untuk memenuhi syarat sebagai spesies baru Allosaurus, yaitu A. anax. Nama anaxcode: grc is deprecated merupakan kata dalam bahasa Yunani untuk 'raja', dan juga menyinggung perubahan nama dari Saurophagus ke Saurophaganax.[44]
Deskripsi

Allosaurus merupakan teropoda besar yang khas, memiliki tengkorak masif di atas leher yang pendek, ekor panjang yang sedikit menurun, dan tungkai depan yang mengecil. Panjang rata-rata A. fragilis, spesies yang paling dikenal, telah diperkirakan mencapai 85 m (279 ft) dan massa rata-ratanya 17 t (19 ton pendek),[45][46][47] dengan spesimen Allosaurus definitif terbesar (AMNH 680) diperkirakan memiliki panjang 97 m (318 ft),[48] dengan perkiraan berat 23–27 t (25–30 ton pendek).[48][49] Dalam monografinya pada tahun 1976 mengenai Allosaurus, James H. Madsen menyebutkan rentang ukuran tulang yang ia tafsirkan menunjukkan panjang maksimum antara 12 hingga 13 m (39 hingga 43 ft).[3] Seperti halnya dinosaurus pada umumnya, perkiraan berat badannya dapat diperdebatkan, dan sejak tahun 1980 telah berkisar antara 1 dan 4 t (1,1 dan 4,4 ton pendek) untuk berat dewasa modal (bukan maksimum).[50] John Foster, seorang ahli Formasi Morrison, mengemukakan bahwa 1 t (1,1 ton pendek) cukup masuk akal untuk individu dewasa A. fragilis berukuran besar, tetapi 700 kg (1.500 pon) adalah perkiraan yang lebih mendekati untuk rata-rata individu.[51] Menggunakan spesimen sub-dewasa yang dijuluki "Big Al", yang kemudian ditetapkan ke dalam spesies Allosaurus jimmadseni,[22] para peneliti yang menggunakan pemodelan komputer mendapatkan perkiraan terbaik sebesar 15 t (17 ton pendek) untuk individu tersebut, tetapi dengan memvariasikan parameter, mereka menemukan kisaran dari sekitar 14–2 t (15,4–2,2 ton pendek).[52] Sebuah proyek komputasi terpisah memperkirakan massa tubuh optimum adaptif pada Allosaurus adalah 23 t (25 ton pendek).[53] A. europaeus telah diukur hingga memiliki panjang 6–8 m (20–26 ft) dengan massa tubuh 1 t (1,1 ton pendek).[46][54]

Beberapa spesimen raksasa telah dikaitkan dengan Allosaurus, tetapi mungkin saja sebenarnya merupakan milik genus lain. Genus meragukan Saurophaganax (OMNH 1708) diperkirakan mencapai panjang sekitar 105 m (344 ft),[46] dan spesies tunggalnya terkadang dimasukkan ke dalam genus Allosaurus sebagai A. maximus.[44] Namun, sebuah studi pada tahun 2024 mempertanyakan penempatan material selain holotipe tersebut ke dalam Saurophaganax, di mana material yang dapat mereka yakini sebagai anggota Allosauridae ditetapkan sebagai spesies baru Allosaurus anax. Massa tubuh spesies ini diperkirakan sekitar 38–46 ton metrik (42–51 ton pendek) berdasarkan material yang terpisah-pisah.[44] Spesimen potensial lain dari Allosaurus, yang pernah ditetapkan ke dalam genus Epanterias (AMNH 5767), mungkin memiliki panjang hingga 121 m (397 ft).[48] Penemuan yang lebih baru adalah sebagian kerangka dari Kuari Peterson di batuan Morrison di Meksiko Baru; allosauridae besar ini dikemukakan sebagai spesimen potensial dari Saurophaganax sebelum adanya penilaian ulang terhadap takson ini pada tahun 2024.[55]
David K. Smith, yang meneliti fosil-fosil Allosaurus berdasarkan kuari, menemukan bahwa spesimen-spesimen dari Kuari Dinosaurus Cleveland-Lloyd di Utah umumnya berukuran lebih kecil daripada yang berasal dari Como Bluff di Wyoming atau Kuari Dry Mesa milik BYU di Colorado, namun bentuk tulang-tulangnya itu sendiri tidak bervariasi antar situs.[26] Studi lanjutan oleh Smith yang menggabungkan spesimen-spesimen dari situs Garden Park dan Monumen Nasional Dinosaurus tidak menemukan pembenaran atas adanya banyak spesies berdasarkan variasi kerangka; variasi tengkorak adalah yang paling umum dan bersifat gradasional, yang mengindikasikan bahwa variasi individulah penyebabnya.[42] Penelitian lebih lanjut mengenai variasi terkait ukuran sekali lagi tidak menemukan perbedaan yang konsisten, meskipun material dari Dry Mesa cenderung berkelompok berdasarkan pada astragalus, yaitu sebuah tulang pergelangan kaki.[27] Kenneth Carpenter, menggunakan elemen-elemen tengkorak dari situs Cleveland-Lloyd, menemukan variasi yang luas antar individu, sehingga mempertanyakan pembedaan tingkat spesies sebelumnya yang didasarkan pada fitur-fitur seperti bentuk tanduk, dan usulan pembedaan A. jimmadseni berdasarkan bentuk jugal.[28]
Tengkorak

Tengkorak Allosaurus tergolong ringan dan dilengkapi dengan puluhan gigi tajam yang bergerigi, di mana keduanya memiliki proporsi yang terbilang sedang untuk ukuran teropoda sebesar itu. Paleontolog Gregory S. Paul memberikan ukuran panjang 845 mm (33,3 in) untuk tengkorak milik individu yang ia perkirakan memiliki panjang 7,9 m (26 ft).[25] Setiap tulang premaksila (tulang yang membentuk ujung moncong) menahan lima gigi dengan penampang melintang berbentuk seperti huruf D, dan setiap tulang maksila (tulang utama pembawa gigi di rahang atas) memiliki antara 14 dan 17 gigi; jumlah gigi ini tidak berbanding lurus dengan ukuran tulangnya. Setiap tulang dentari (tulang pembawa gigi pada rahang bawah) memiliki antara 14 dan 17 gigi, dengan jumlah rata-rata 16 gigi. Gigi-gigi ini menjadi lebih pendek, lebih sempit, dan lebih melengkung ke arah bagian belakang tengkorak. Semua giginya memiliki tepi yang menyerupai gergaji. Gigi-gigi tersebut mudah tanggal dan terus-menerus diganti, menjadikannya fosil yang umum ditemukan.[3]
Tulang lakrimal Allosaurus memanjang ke atas dan ke depan mata untuk membentuk sepasang tanduk yang bervariasi dalam bentuk maupun ukuran.[3] Mengarah ke tanduk-tanduk tersebut, tengkorak ini juga memiliki sepasang bubungan yang membentang di sepanjang bagian atas tulang nasal.[3] Tanduk-tanduk tersebut kemungkinan besar diselubungi oleh lapisan keratin dan mungkin memiliki berbagai fungsi, termasuk bertindak sebagai peneduh mata dari sinar matahari,[3] digunakan untuk pamer, serta digunakan dalam pertarungan melawan anggota lain dari spesies yang sama (meskipun tanduk ini rapuh).[3][25][56] Terdapat sebuah bubungan di sepanjang bagian belakang atap tengkorak untuk pelekatan otot, seperti yang juga terlihat pada tyrannosauridae.[25]
Di dalam tulang lakrimal terdapat cekungan yang mungkin menyimpan kelenjar, seperti kelenjar garam.[57] Di dalam tulang maksila terdapat sinus yang berkembang lebih baik daripada sinus milik teropoda yang lebih basal seperti Ceratosaurus dan Marshosaurus; sinus-sinus ini mungkin berkaitan dengan indra penciuman, yang barangkali menyimpan sesuatu seperti organ Jacobson. Atap dari tempurung otak hewan ini tipis, yang barangkali berfungsi untuk meningkatkan termoregulasi pada otaknya.[3] Tengkorak dan rahang bawahnya memiliki sendi-sendi yang memungkinkan pergerakan di dalam unit-unit ini. Pada rahang bawahnya, tulang-tulang pada paruh depan dan belakang saling bersendi secara longgar, yang memungkinkan rahang tersebut melengkung ke luar dan memperbesar bukaan mulut hewan tersebut.[58] Tempurung otak dan tulang frontal mungkin juga memiliki sendi.[3]
Kerangka pascakranial

Allosaurus memiliki sembilan vertebra di leher, 14 di punggung, dan lima di sakrum yang menyokong panggul.[b] Jumlah tulang belakang ekornya tidak diketahui dan bervariasi bergantung pada ukuran individu; James Madsen memperkirakan sekitar 50,[3] sementara Gregory S. Paul menganggap jumlah tersebut terlalu banyak dan mengusulkan 45 atau kurang.[25] Terdapat rongga-rongga kosong pada tulang leher dan tulang punggung anterior (depan).[3] Rongga-rongga semacam ini, yang juga ditemukan pada teropoda modern (yaitu burung), ditafsirkan sebagai tempat menampung kantung udara yang digunakan dalam respirasi.[43] Tulang rusuknya lebar, memberikannya bentuk dada seperti tong, terutama jika dibandingkan dengan teropoda yang tidak terlalu turunan (berkembang) seperti Ceratosaurus.[59] Allosaurus memiliki gastralia (tulang rusuk perut), namun ini bukanlah temuan yang umum,[3] dan tulang-tulang ini mungkin mengalami osifikasi (penulangan) yang buruk.[25] Dalam satu kasus yang dipublikasikan, gastralia tersebut menunjukkan bukti adanya cedera semasa hidupnya.[60] Sebuah furkula (tulang garpu) juga ditemukan, tetapi baru dikenali sejak tahun 1996; dalam beberapa kasus furkula sering disalahartikan sebagai gastralia.[60][61] Tulang ilium, tulang panggul utama, berukuran sangat besar, dan tulang pubis memiliki bagian kaki menonjol yang mungkin digunakan baik untuk pelekatan otot maupun sebagai penyangga untuk mengistirahatkan tubuh di atas tanah. Madsen mencatat bahwa pada sekitar separuh dari individu yang berasal dari Kuari Dinosaurus Cleveland-Lloyd, terlepas dari ukurannya, tulang pubis tidak menyatu satu sama lain di bagian ujung kakinya. Ia mengemukakan bahwa ini merupakan sebuah karakteristik seksual, di mana betina tidak memiliki tulang yang menyatu untuk mempermudah saat bertelur.[3] Akan tetapi, usulan ini belum menarik perhatian lebih lanjut.
Tungkai depan Allosaurus tergolong pendek bila dibandingkan dengan tungkai belakang (hanya sekitar 35% dari panjang tungkai belakang pada individu dewasa)[62] dan memiliki tiga jari di setiap tangan, yang berujung pada cakar berukuran besar, sangat melengkung, dan runcing.[3] Lengannya kuat,[25] dan lengan bawahnya sedikit lebih pendek daripada lengan atas (rasio ulna/humerus 1:1,2).[13] Pergelangan tangannya memiliki versi karpal semilunar (berbentuk setengah bulan)[63] yang juga ditemukan pada teropoda yang lebih turunan seperti maniraptora. Dari ketiga jarinya, jari paling dalam (atau ibu jari) adalah yang terbesar,[25] dan mengarah terpisah dari jari-jari lainnya.[13] Rumus falangnya (ruas jari) adalah 2-3-4-0-0, yang berarti jari paling dalam (falang) memiliki dua tulang, jari berikutnya memiliki tiga, dan jari ketiga memiliki empat tulang.[64] Kaki-kakinya tidak sepanjang atau cocok untuk kecepatan seperti halnya milik tyrannosauridae, dan cakar pada jari kakinya kurang berkembang serta lebih menyerupai kuku tapak dibandingkan cakar teropoda-teropoda sebelumnya.[25] Masing-masing kaki memiliki tiga jari penahan beban dan sebuah cakar embun (jari kaki vestigial) di bagian dalam, yang menurut dugaan Madsen dapat digunakan untuk mencengkeram pada individu remajanya.[3] Terdapat juga apa yang ditafsirkan sebagai sisa-sisa tulang metatarsal kelima (paling luar) yang berbentuk seperti belat, yang mungkin digunakan sebagai tuas antara tendon Achilles dan telapak kaki.[65] Sebuah studi tahun 2020 oleh Motani dan rekan-rekannya mengemukakan bahwa Allosaurus juga memiliki dimorfisme seksual pada kelebaran kepala tulang paha (femur) terhadap panjangnya.[66]
Kulit
Cetakan kulit dari Allosaurus telah dideskripsikan. Salah satu cetakan, dari spesimen remaja, berukuran 30 sentimeter persegi dan dikaitkan dengan tulang rusuk punggung (dorsal) anterior/area pektoral (dada). Cetakan tersebut menunjukkan sisik kecil berdiameter 1 hingga 3 milimeter. Sebuah cetakan kulit dari spesimen "Big Al Two", yang dikaitkan dengan pangkal ekornya, berukuran 20 sentimeter kali 20 sentimeter dan menunjukkan sisik besar berukuran hingga diameter 2 sentimeter. Akan tetapi, telah dicatat bahwa sisik-sisik ini lebih mirip dengan milik sauropoda, dan karena adanya sisa-sisa non-teropoda yang terkait dengan ekor "Big Al Two", terdapat kemungkinan bahwa cetakan kulit ini tidak berasal dari Allosaurus.[67]
Fosil Allosaurus lainnya menampilkan sebuah cetakan kulit dari mandibula (rahang bawah), yang menunjukkan sisik berukuran diameter 1 hingga 2 milimeter. Fosil yang sama juga mengawetkan kulit berukuran 20 kali 20 sentimeter dari sisi ventral (bawah) leher, yang menunjukkan sisik skutal berukuran lebar 0,5 sentimeter dan panjang 11 sentimeter. Sebuah cetakan kulit kecil dari tengkorak Allosaurus telah dilaporkan namun belum pernah dideskripsikan.[67] Cetakan kulit tambahan yang belum dideskripsikan diketahui dari berbagai bagian tubuh pada sebuah spesimen.[68]
Klasifikasi

Allosaurus adalah anggota eponim (yang menjadi asal nama) dari Allosauridae, sebuah famili yang dinamai oleh Marsh pada tahun 1878, satu tahun setelah ia mendeskripsikan A. fragilis.[69] Pada awalnya, Allosauridae hanya mencakup Allosaurus itu sendiri. Marsh menamai dua allosauridae tambahan pada tahun 1879 – Creosaurus dan Labrosaurus – tetapi ini di kemudian hari diketahui merupakan sinonim dari Allosaurus.[70][3]: 10 Pada tahun 1890, Karl Alfred von Zittel malah mengklasifikasikan Allosaurus ke dalam famili Megalosauridae,[71] sementara Marsh mengklasifikasikannya ke dalam Dryptosauridae pada tahun 1895 dan 1896. Sebagian besar studi mengikuti klasifikasi Zittel ke dalam Megalosauridae sampai Madsen, dalam monografinya tahun 1976, berargumen bahwa Megalosauridae telah digunakan untuk segala jenis dinosaurus karnivora dengan gigi runcing yang melengkung ke belakang. Karena Allosaurus berbeda dari Megalosaurus dalam berbagai aspek, Madsen mengemukakan bahwa Allosauridae harus dipertahankan sebagai famili yang terpisah.[38]: 213 [3]: 10 Beberapa studi pada dekade 1980-an dan 1990-an mengusulkan bahwa Allosaurus berkerabat lebih dekat dengan Tyrannosauridae dibandingkan dengan sebagian besar teropoda lainnya,[72][38]: 216 namun pandangan ini telah ditolak, seiring dengan teridentifikasinya tyrannosauridae sebagai anggota cabang teropoda yang terpisah, yaitu Coelurosauria.[73] Berbagai genus, seperti Piatnitzkysaurus atau Acrocanthosaurus, pernah diklasifikasikan ke dalam Allosauridae oleh beberapa penulis yang berbeda, tetapi dua ulasan berikutnya dari tahun 2004 dan 2012 membatasi famili tersebut hanya pada Allosaurus dan Saurophaganax.[43][38] Pada tahun 2024, Andy Danison dan rekan-rekannya membuktikan bahwa Saurophaganax tidak eksis sebagai genus allosauridae yang terpisah, karena ia tersusun dari campuran fosil Allosaurus dan sauropoda.[44]
Bersama dengan kelompok Carcharodontosauria, Allosauridae sering diklasifikasikan ke dalam kelompok Allosauria. Allosauria, pada gilirannya, membentuk kelompok Allosauroidea bersama dengan famili Metriacanthosauridae dalam banyak analisis.[38] Secara historis, Allosaurus sering diklasifikasikan ke dalam kelompok Carnosauria, yang pada awalnya mencakup teropoda besar apa pun yang bukan merupakan ceratosauria ataupun tyrannosauridae. Carnosauria terkadang masih digunakan, baik untuk merangkum kelompok Allosauroidea dan Megalosauroidea, atau sebagai perkiraan sinonim untuk Allosauroidea.[38]: 266 Dalam sebuah buku populer pada tahun 1988, Gregory S. Paul menggunakan subfamili Allosaurinae untuk menyatukan genus Allosaurus dan Chilantaisaurus.[25] Kelompok ini belum digunakan secara luas.[74] Kladogram yang ditampilkan di bawah ini merupakan hasil dari sebuah studi tahun 2015 oleh Christophe Hendrickx dan rekan-rekannya:[75]
| Allosauroidea |
| ||||||||||||
Paleobiologi
Riwayat hidup
Melimpahnya fosil Allosaurus, dari individu di hampir semua kelompok usia, memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari bagaimana hewan ini tumbuh dan seberapa panjang perkiraan rentang hidupnya. Sisa-sisa fosilnya bahkan mungkin merentang hingga fase paling awal kehidupannya berupa telur—telur-telur yang hancur dari Colorado telah dikemukakan sebagai milik Allosaurus.[45] Berdasarkan analisis histologis pada tulang tungkainya, penumpukan (deposisi) tulang tampaknya berhenti pada usia sekitar 22 hingga 28 tahun, yang sebanding dengan teropoda besar lainnya seperti Tyrannosaurus. Dari analisis yang sama, pertumbuhan maksimumnya tampaknya terjadi pada usia 15 tahun, dengan perkiraan laju pertumbuhan sekitar 148 kilogram (326 pon) per tahun.[76]
Jaringan tulang medula (berasal dari endosteum, bersifat sementara, mineralisasi yang terletak di dalam medula pada tulang-tulang panjang burung betina yang sedang bertelur) telah dilaporkan setidaknya pada satu spesimen Allosaurus, yaitu pada sebuah tulang kering (tibia) dari Kuari Dinosaurus Cleveland-Lloyd. Saat ini, jaringan tulang ini hanya terbentuk pada burung betina yang sedang bertelur, karena digunakan untuk memasok kalsium ke dalam cangkangnya. Keberadaannya pada individu Allosaurus tersebut telah digunakan untuk menentukan jenis kelamin dan menunjukkan bahwa ia telah mencapai usia reproduktif.[77] Namun, studi-studi lain telah mempertanyakan beberapa kasus tulang medula pada dinosaurus, termasuk pada individu Allosaurus ini. Data dari burung-burung yang masih hidup menunjukkan bahwa tulang medula pada individu Allosaurus ini mungkin merupakan hasil dari patologi (penyakit) tulang.[78] Akan tetapi, dengan adanya konfirmasi jaringan medula yang menunjukkan jenis kelamin pada spesimen Tyrannosaurus, ada kemungkinan untuk memastikan apakah Allosaurus tersebut memang berjenis kelamin betina.[79]

Penemuan spesimen remaja dengan tungkai belakang yang hampir utuh menunjukkan bahwa tungkainya relatif lebih panjang pada individu remaja, dan segmen kaki bagian bawahnya (tulang kering dan telapak kaki) relatif lebih panjang daripada paha. Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa Allosaurus muda bergerak lebih cepat dan memiliki strategi berburu yang berbeda dibandingkan individu dewasa, barangkali mengejar mangsa kecil saat masih remaja, kemudian menjadi pemburu penyergap untuk mangsa besar saat mencapai usia dewasa.[80] Tulang paha menjadi lebih tebal dan lebih lebar selama masa pertumbuhan, dan penampang melintangnya menjadi kurang membulat, seiring dengan bergesernya pelekatan otot, memendeknya otot, dan melambatnya pertumbuhan tungkai. Perubahan-perubahan ini menyiratkan bahwa tungkai remaja mendapat tekanan yang lebih sulit diprediksi dibandingkan individu dewasa, yang kemungkinan bergerak maju dengan cara yang lebih teratur.[81] Sebaliknya, tulang-tulang tengkoraknya secara umum tampaknya tumbuh secara isometrik, yakni bertambah ukurannya tanpa mengalami perubahan proporsi.[28]
Pola makan

Sebagian besar paleontolog sepakat bahwa Allosaurus adalah predator aktif yang memangsa hewan-hewan besar. Terdapat bukti yang dramatis mengenai serangan allosauridae terhadap Stegosaurus, yang mencakup tulang belakang ekor Allosaurus dengan luka tusuk yang sembuh sebagian yang ukurannya pas dengan duri ekor Stegosaurus, dan pelat leher Stegosaurus dengan luka berbentuk huruf U yang sangat berkorelasi dengan moncong Allosaurus.[82] Sauropoda tampaknya merupakan kandidat kuat baik sebagai mangsa hidup maupun sebagai sasaran objek aisan (bangkai), didasarkan pada keberadaan goresan-goresan pada tulang sauropoda yang sangat pas dengan gigi allosauridae dan penemuan gigi allosauridae yang tanggal bersamaan dengan tulang-tulang sauropoda.[83] Akan tetapi, sebagaimana dicatat oleh Gregory Paul pada tahun 1988, Allosaurus kemungkinan besar bukanlah predator bagi sauropoda yang telah tumbuh dewasa sepenuhnya, kecuali jika ia berburu dalam kawanan, karena ia memiliki ukuran tengkorak yang terbilang sedang dengan gigi yang relatif kecil, dan kalah berat secara drastis dibandingkan sauropoda-sauropoda yang hidup pada masa yang sama.[25] Kemungkinan lainnya adalah hewan ini lebih memilih untuk memburu individu remajanya daripada yang telah dewasa sepenuhnya.[84][51] Penelitian pada dekade 1990-an dan dekade pertama abad ke-21 barangkali telah menemukan jawaban lain untuk pertanyaan ini. Robert T. Bakker, yang membandingkan Allosaurus dengan mamalia karnivora bergigi pedang dari zaman Kenozoikum, menemukan adanya adaptasi serupa, seperti menyusutnya otot-otot rahang dan membesarnya otot-otot leher, serta kemampuan untuk membuka rahangnya dengan sangat lebar. Walaupun Allosaurus tidak memiliki gigi setajam pedang, Bakker mengemukakan cara serangan lain yang memanfaatkan adaptasi leher dan rahang semacam itu: gigi-gigi pendeknya pada dasarnya berfungsi sebagai gerigi kecil pada tepi pemotong yang menyerupai gergaji di sepanjang rahang atas, yang kemudian akan dihunjamkan ke tubuh mangsa. Jenis rahang semacam ini akan memungkinkan serangan tebasan terhadap mangsa yang jauh lebih besar, dengan tujuan untuk melemahkan sang korban.[85]

Kesimpulan serupa ditarik oleh studi lain yang menggunakan analisis elemen hingga pada tengkorak Allosaurus. Menurut analisis biomekanika mereka, tengkoraknya sangat kuat tetapi memiliki kekuatan gigitan yang relatif kecil. Hanya dengan menggunakan otot rahangnya saja, ia dapat menghasilkan kekuatan gigitan sebesar 805 hingga 8.724 N,[86][87] namun tengkoraknya mampu menahan kekuatan vertikal hingga hampir 55.500 N terhadap barisan giginya.[86] Para penulis studi ini mengemukakan bahwa Allosaurus menggunakan tengkoraknya layaknya sebuah golok untuk melawan mangsa, menyerang dengan mulut terbuka, menebas daging dengan gigi-giginya, dan merobeknya tanpa mematahkan tulang, tidak seperti Tyrannosaurus, yang diyakini mampu menghancurkan tulang. Mereka juga mengusulkan bahwa arsitektur tengkoraknya dapat memungkinkan penggunaan strategi yang berbeda untuk menghadapi mangsa yang berbeda; tengkoraknya cukup ringan untuk memungkinkan serangan terhadap ornitopoda yang lebih kecil dan lincah, tetapi juga cukup kuat untuk serangan penyergapan berdampak tinggi terhadap mangsa yang lebih besar seperti stegosauridae dan sauropoda.[86] Penafsiran mereka ditentang oleh para peneliti lain, yang tidak menemukan padanan modern untuk serangan bergaya kapak dan menganggap bahwa tengkoraknya lebih mungkin menjadi kuat untuk mengimbangi konstruksinya yang terbuka ketika meredam tekanan dari mangsa yang meronta.[88] Para penulis aslinya mencatat bahwa Allosaurus itu sendiri tidak memiliki padanan di dunia modern, bahwa barisan giginya sangat cocok untuk serangan semacam itu, dan persendian pada tengkoraknya yang disebut oleh para pengkritiknya sebagai suatu permasalahan justru sebenarnya membantu melindungi langit-langit mulut (palatum) dan mengurangi tekanannya.[89] Kemungkinan lain untuk menangani mangsa besar adalah bahwa teropoda seperti Allosaurus merupakan "pemakan daging hidup" (flesh grazers) yang dapat menggigit dan merobek secabik daging dari sauropoda yang masih hidup dalam takaran yang cukup untuk menopang sang predator sehingga ia tidak perlu mengerahkan upayanya untuk langsung membunuh mangsanya. Strategi ini juga berpotensi memungkinkan mangsa tersebut untuk pulih dan dapat dimangsa lagi dengan cara serupa di kemudian hari.[43] Dugaan tambahan mencatat bahwa ornitopoda adalah mangsa dinosaurus yang paling umum tersedia, dan Allosaurus mungkin menaklukkan mereka dengan menggunakan serangan yang mirip dengan kucing besar modern: mencengkeram mangsa menggunakan tungkai depannya, kemudian memberikan gigitan berkali-kali di bagian tenggorokan untuk menghancurkan trakea.[51] Hal ini sejalan dengan bukti lain yang menyatakan bahwa tungkai depannya kuat dan mampu menahan mangsa.[63] Studi yang dilakukan oleh Stephen Lautenschlager dkk. dari Universitas Bristol juga mengindikasikan bahwa Allosaurus mampu membuka rahangnya cukup lebar dan mempertahankan kekuatan otot yang cukup besar. Saat dibandingkan dengan Tyrannosaurus dan therizinosauridae Erlikosaurus dalam studi yang sama, ditemukan bahwa Allosaurus memiliki bukaan mulut yang lebih lebar daripada keduanya; hewan tersebut mampu membuka rahangnya hingga sudut 92 derajat secara maksimal. Temuan-temuan ini juga menunjukkan bahwa dinosaurus karnivora besar, layaknya karnivora modern, memiliki bukaan rahang yang lebih lebar daripada herbivora.[90][91]

Sebuah studi biomekanika yang dipublikasikan pada tahun 2013 oleh Eric Snively dan rekan-rekannya menemukan bahwa Allosaurus memiliki titik pelekatan yang tidak biasa rendahnya pada tengkorak untuk otot leher longissimus capitis superficialis jika dibandingkan dengan teropoda lain seperti Tyrannosaurus. Hal ini akan memungkinkan hewan tersebut untuk melakukan gerakan vertikal yang cepat dan kuat menggunakan tengkoraknya. Para penulis mendapati bahwa serangan vertikal sebagaimana yang diusulkan oleh Bakker dan Rayfield sejalan dengan kapabilitas hewan tersebut. Mereka juga mendapati bahwa hewan ini kemungkinan mengoyak bangkai menggunakan gerakan vertikal dengan cara yang mirip dengan burung falkon (alap-alap), seperti alap-alap sapi (kestrel): Hewan ini dapat mencengkeram mangsa menggunakan tengkorak dan kakinya, kemudian menariknya ke belakang dan ke atas untuk merobek dagingnya. Hal ini berbeda dengan cara menangani mangsa yang dibayangkan untuk tyrannosauridae, yang kemungkinan merobek daging menggunakan kibasan tengkorak ke arah samping (lateral), mirip dengan buaya.[92] Selain itu, Allosaurus mampu "menggerakkan kepala dan lehernya ke segala arah dengan relatif cepat dan dengan kendali yang cukup mumpuni", namun harus mengorbankan kekuatannya.[93]
Aspek lain dari cara makannya mencakup mata, lengan, dan tungkainya. Bentuk tengkorak Allosaurus membatasi potensi penglihatan binokular-nya (pandangan dua mata) hingga lebar 20°, sedikit lebih kecil dari yang dimiliki buaya modern. Sama seperti buaya, hal ini mungkin sudah cukup untuk memperkirakan jarak mangsa dan mengatur waktu serangannya.[94][95][96] Lengan-lengannya, jika dibandingkan dengan teropoda lain, dirancang secara sesuai baik untuk mencengkeram mangsa dari jarak jauh maupun mendekapnya dalam jarak dekat,[63] dan persendian cakarnya menunjukkan bahwa lengan tersebut dapat digunakan untuk mengaitkan sesuatu.[13] Terakhir, kecepatan tertinggi Allosaurus diperkirakan mencapai 30–55 km (19–34 mi) per jam.[97]
Sebuah makalah mengenai morfologi kranio-dental (tengkorak-gigi) dari Allosaurus dan cara kerjanya telah menyimpulkan bahwa serangan rahang bergaya kapak sangat tidak mungkin terjadi, dengan menafsirkan ulang bukaan mulutnya yang tidak biasa lebarnya sebagai bentuk adaptasi untuk memungkinkan Allosaurus melayangkan gigitan yang digerakkan oleh otot terhadap mangsa besar, di mana otot rahang yang lebih lemah merupakan sebuah timbal-balik untuk memungkinkannya melebarkan bukaan mulut.[98]

Bangkai sauropoda mungkin juga penting bagi teropoda-teropoda besar di Formasi Morrison. Teknik-teknik forensik mengindikasikan bahwa bangkai sauropoda ditargetkan oleh Allosaurus pada semua tahap pembusukan, yang menunjukkan bahwa patogen pelapukan tahap akhir bukanlah penghalang yang signifikan.[99][100] Sebuah survei terhadap tulang-tulang sauropoda dari Formasi Morrison juga melaporkan adanya bekas gigitan yang tersebar luas pada tulang sauropoda di area dengan sisa daging yang sedikit (low-economy regions), yang menunjukkan bahwa teropoda besar mengais sisa bangkai sauropoda besar yang tersedia, di mana kelangkaan bekas gigitan tersebut pada sisa-sisa tulang berukuran kecil berpotensi disebabkan oleh aktivitas pemangsaan yang jauh lebih bersih tuntas terhadap sauropoda yang lebih kecil maupun remajanya serta terhadap ornitiskia, yang seharusnya lebih umum diburu sebagai mangsa hidup.[53][101] Satu ekor individu dewasa yang mati dari Barosaurus atau Brachiosaurus kemungkinan menyimpan cukup kalori untuk mempertahankan hidup sejumlah teropoda besar selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan,[102] meskipun sebagian besar catatan fosil sauropoda Morrison terdiri dari takson-takson bertubuh jauh lebih kecil seperti Camarasaurus lentus atau Diplodocus.[103]
Perilaku sosial

Telah berspekulasi sejak tahun 1970-an bahwa Allosaurus memangsa sauropoda dan dinosaurus besar lainnya dengan berburu secara berkelompok.[104] Penggambaran semacam itu lazim dijumpai dalam literatur dinosaurus semiteknis maupun populer.[57][84][105] Robert T. Bakker telah memperluas jangkauan perilaku sosial hingga mencakup pengasuhan anak (perawatan parental), dan menafsirkan gigi allosauridae yang tanggal beserta tulang mangsa besar yang telah dikunyah sebagai bukti bahwa allosauridae dewasa membawakan makanan ke sarang mereka untuk disantap anak-anaknya hingga anak-anak tersebut beranjak dewasa, dan juga mencegah karnivora lain untuk mengais sisa makanan tersebut.[106] Meskipun begitu, sebenarnya hanya terdapat sedikit bukti mengenai perilaku kawanan (gregarius) pada teropoda,[43] dan interaksi sosial dengan sesama spesiesnya tampaknya diwarnai oleh bentrokan bermusuhan (antagonistik), seperti yang ditunjukkan oleh cedera pada gastralia[60] dan luka gigitan pada tengkorak (rahang bawah patologis yang diberi nama Labrosaurus ferox merupakan salah satu contoh kemungkinan ini). Aktivitas saling gigit kepala semacam ini mungkin adalah sebuah cara untuk menegaskan dominasi dalam suatu kawanan atau untuk menyelesaikan perselisihan wilayah.[107]
Kendati Allosaurus mungkin saja berburu dalam kawanan,[108] namun telah diperdebatkan bahwa Allosaurus dan teropoda lain sebagian besar justru menunjukkan interaksi agresif alih-alih interaksi kooperatif terhadap anggota lain dari spesiesnya sendiri. Studi yang disinggung tersebut mencatat bahwa aktivitas berburu mangsa kooperatif terhadap ukuran mangsa yang jauh lebih besar daripada sang predator secara individu, yang mana hal ini lazim disimpulkan pada dinosaurus teropoda, merupakan sesuatu yang sangat jarang ditemui di antara vertebrata pada umumnya, dan karnivora diapsida modern (termasuk kadal, buaya, dan burung) jarang sekali saling bekerja sama untuk berburu dengan cara sedemikian rupa. Sebaliknya, mereka pada umumnya bersifat teritorial dan akan membunuh serta memakan penyusup dari spesies yang sama (kanibalisme), dan juga akan melakukan tindakan serupa terhadap individu yang lebih kecil yang berusaha makan sebelum giliran mereka saat sedang berkumpul di lokasi tempat makan. Menurut penafsiran ini, akumulasi sisa-sisa dari sekian banyak individu Allosaurus di situs yang sama; misalnya di Kuari Dinosaurus Cleveland-Lloyd, bukanlah disebabkan oleh kegiatan berburu secara kawanan, melainkan karena individu-individu Allosaurus saling tertarik untuk datang bersama dan saling memangsa sesama allosauridae yang lumpuh atau mati, dan terkadang mereka juga terbunuh dalam proses tersebut. Hal ini dapat menjelaskan tingginya proporsi kehadiran allosauridae remaja dan sub-dewasa, karena individu remaja dan sub-dewasa dibunuh secara tidak proporsional di lokasi tempat makan kelompok karnivora modern yang diisi oleh hewan seperti buaya dan komodo. Penafsiran yang sama juga berlaku untuk situs sarang gagasan Bakker.[109] Terdapat sejumlah bukti adanya tindak kanibalisme pada Allosaurus, termasuk tanggalnya gigi Allosaurus yang ditemukan di sela-sela pecahan tulang rusuk, kemungkinan bekas-bekas gigi pada suatu tulang belikat,[110] serta kerangka allosauridae yang dikanibalisasi di antara tulang-tulang di situs sarang yang dikemukakan Bakker.[111] Di sisi lain, analisis patologis yang dilakukan oleh Foth dkk. berpendapat bahwa bukti kemampuan bertahan hidup dari cedera serius dapat mendukung gagasan bahwa Allosaurus hidup dalam kawanan.[112]
Otak dan indra

Otak Allosaurus, sebagaimana ditafsirkan melalui pemindaian CT scan spiral pada sebuah endocast, lebih konsisten dengan otak buaya dibandingkan dengan otak archosauria yang masih hidup lainnya, yakni burung. Struktur aparatus vestibular-nya mengindikasikan bahwa tengkoraknya ditahan agar tetap nyaris horizontal, yang mana sangat bertolak belakang jika ia ditahan sangat miring ke arah atas atau bawah. Struktur telinga dalam-nya menyerupai telinga buaya, yang menunjukkan bahwa Allosaurus lebih beradaptasi untuk mendengar frekuensi yang lebih rendah dan akan mengalami kesulitan dalam mendengar suara yang halus.[94] Bulbus penciuman (olfaktori) berukuran besar dan sangat mumpuni untuk mendeteksi bau,[113] namun memiliki ciri khas sebagaimana ukuran hewan tersebut.[114]
Paleopatologi

Spesimen "Big Al" sangat terkenal atas berbagai cederanya. Sembilan belas tulangnya patah atau menunjukkan tanda-tanda infeksi serius, yang mungkin berkontribusi terhadap kematian "Big Al". Tulang-tulang yang patologis (berpenyakit) mencakup lima tulang rusuk, lima tulang belakang, dan empat tulang telapak kakinya. Masalah tertentu bagi hewan yang masih hidup tersebut adalah infeksi dan trauma pada kaki kanan yang kemungkinan besar memengaruhi pergerakannya, dan barangkali hal ini turut menyebabkan kaki yang sebelahnya rentan cedera akibat adanya perubahan gaya berjalannya. "Big Al" mengalami infeksi pada falang pertama di jari kaki ketiga yang terserang oleh penebalan tulang abnormal (involukrum). Infeksi ini berlangsung lama, barangkali hingga enam bulan.[23][115]
Allosaurus menjadi satu-satunya dari dua teropoda yang pernah diteliti dalam studi tahun 2001 yang menunjukkan sebuah tarikan otot robek (avulsi tendon), dan pada kedua kasusnya avulsi ini terjadi pada tungkai depan. Ketika para peneliti ini mencari adanya keretakan tulang akibat stres, mereka mendapati bahwa Allosaurus memiliki jumlah retakan tulang stres yang jauh lebih besar daripada yang ditemukan pada Albertosaurus, Ornithomimus, atau Archaeornithomimus. Dari 47 tulang tangan yang dikaji peneliti tersebut, tiga di antaranya ditemukan mengandung keretakan akibat stres. Pada telapak kaki, sebanyak 281 tulang dikaji dan 17 di antaranya ditemukan memiliki retakan tulang stres. Retak stres pada tulang-tulang telapak kakinya "tersebar di area falang proksimal" dan membentang melintasi ketiga jari penahan bebannya dalam besaran jumlah yang "secara statistik tidak dapat dibedakan". Karena ujung bawah tulang metatarsal ketiga niscaya akan menyentuh tanah terlebih dahulu manakala allosauridae tengah berlari, tulang inilah yang dipercaya bakal menanggung beban stres paling berat. Bila saja retakan tulang stres allosauridae ini disebabkan oleh kerusakan yang menumpuk seiring dengan pergerakan saat berjalan atau berlari, tulang ini sepantasnya mengalami retakan yang jauh lebih banyak dibandingkan yang lain. Minimnya bias semacam itu dalam fosil-fosil Allosaurus yang dikaji tersebut mengindikasikan kemunculan retakan stresnya berasal dari sumber selain dari kegiatan berlari. Para penulis ini menyimpulkan bahwasanya retakan tersebut ditimbulkan selama interaksinya dengan pihak mangsa, layaknya allosauridae yang mencoba menahan mangsa yang meronta menggunakan kedua telapak kakinya. Melimpahnya keretakan tulang stres dan cedera avulsi di tubuh Allosaurus menyeediakan sebuah bukti adanya cara makan berlandaskan pola predasi yang "sangat aktif" daripada sekadar mengais-ngais bangkai.[116]
Skapula kiri dan tulang fibula pada spesimen Allosaurus fragilis yang dikatalogkan sebagai USNM 4734 keduanya dilaporkan patologis, dan dua-duanya berkemungkinan disebabkan oleh patah tulang yang sembuh. Spesimen USNM 8367 mengawetkan beberapa buah gastralia patologis yang menampakkan pertanda patah tulang yang sembuh di wilayah nyaris menengahi permukaannya. Sejumlah retakan tersebut sembuh dalam kondisi buruk dan "telah membentuk pseudoartrosis" (sendi palsu). Spesimen yang memiliki tulang rusuk yang retak telah ditemukan dari Kuari Dinosaurus Cleveland-Lloyd. Spesimen lain menampakkan patahan pada tulang-tulang rusuk beserta penyatuan tulang-tulang belakang pada wilayah pangkal ekor. Seekor individu sub-dewasa jantan dari spesies Allosaurus fragilis dilaporkan mempunyai riwayat patologi yang ekstensif, dengan total 14 luka terpisah.
Tambahan pula, seekor individu Allosaurus sub-dewasa yang diserang masalah spondiloartropati telah diketemukan di Kuari Dana di Wyoming. Penemuan ini merepresentasikan bukti fosil pertama yang diketahui dari spondiloartropati yang terjadi pada seekor teropoda.[117]

Patologi lain yang dilaporkan pada tubuh Allosaurus mencakup:[78][118]* Patah tulang melengkung (willow breaks) pada dua tulang rusuk
- Retakan yang telah sembuh di area tulang humerus dan tulang radius
- Distorsi pada persendian permukaan kaki, yang berkemungkinan disebabkan oleh masalah osteoartritis atau masalah perkembangan
- Osteopetrosis di sepanjang permukaan endosteal tibia.
- Distorsi pada persendian permukaan tulang punggung bagian ekor, yang kemungkinan diakibatkan oleh faktor osteoartritis atau masalah perkembangan
- "[T]erjadinya 'neoplastik' di tahapan masif yang mengakibatkan timbulnya ankilosis tulang belakang pada wilayah kaudal", barangkali diiringi trauma jasmani, sekaligus menempelnya susunan ruas-ruas chevron hingga pada titik sentra rongga sumsum
- Osifikasi menyatu (koosifikasi) pada sentra tulang belakang di dekat pangkal ujung ekor
- Amputasi dari ruas chevron serta sepotong tulang pergelangan kaki, yang barangkali disebabkan oleh gigitan
- "Adanya masalah eksostosis kronis" di wilayah falang pertama pada jari kaki ketiga
- Lesi yang mirip dengan efek yang ditimbulkan oleh jangkitan osteomielitis pada dua skapula
- Susunan taji tulang (osteofit) di area premaksila, ungual (area kuku), dan pada dua metakarpal
- Eksostosis di falang kaki yang barangkali diatributkan pada jangkitan penyakit menular
- Sepotong metakarpal yang menyuratkan retakan bundar yang melesak ke dalam permukaannya
Paleoekologi
Persebaran

Allosaurus diketahui dari Formasi Morrison di Amerika bagian Barat dan dari formasi Alcobaça, Bombarral, dan Lourinhã di Portugal.[29] Dalam sebuah studi pada tahun 2016, satu butir gigi dari Saxony Hilir, Jerman, ditetapkan kepada spesies Allosaurus sp.[119] Baik penemuan di Amerika Utara maupun di Eropa diestimasi memiliki umur yang terbentang antara kala Kimmeridgium hingga Tithonium di periode Jura Akhir.[29] Allosaurus juga telah dilaporkan dari beberapa negara lain seperti Rusia (A. sibiricus),[120] Tanzania (A. tendagurensis),[121] dan Swiss (A. meriani),[122] meskipun spesimen-spesimen ini tidak lagi ditetapkan ke dalam genus tersebut.[38][123][43][29]
Formasi Morrison mencakup area seluas 1,2 juta km², dan sisa-sisa Allosaurus ditemukan membentang di sepanjang rentang ini. Ia muncul di anggota-anggota batuan Salt Wash dan Brushy Basin serta kawasan setaranya, hanya tergolong absen di lapisan batuan tertua dari formasi tersebut. Sebagian besar spesimen ini masih belum dapat ditetapkan pada takson spesies apa pun secara khusus. Berdasarkan kajian tahun 2024 oleh Susannah Maidment, wujud dari spesies A. fragilis dan A. jimmadseni tampaknya hidup di zaman yang sama namun dipisahkan secara geografis, di mana A. fragilis terkonsentrasi di bagian selatan dan timur cekungan Morrison dan A. jimmadseni di bagian utara dan barat. Kedua spesies ini hanya ditemukan saling berdampingan di Kuari Dry Mesa.[124] Spesies A. anax hanya diketahui dari Kuari Kenton 1 di Oklahoma barat dari batuan Anggota Kenton, sebuah anggota yang diakui secara lokal yang setara dengan Anggota Brushy Basin.[44] Allosaurus adalah teropoda yang paling umum ditemukan di Formasi Morrison, mencakup 70 hingga 75% dari semua spesimen teropoda di sana.[51]
Lingkungan purba
Formasi Morrison ditafsirkan sebagai daerah berlingkungan semikering yang diselingi pergantian musim hujan dan musim kemarau yang jelas, serta didominasi dataran banjir yang rata.[125] Vegetasi yang tumbuh bervariasi mulai dari hutan-hutan berlapiskan sungai dari jenis pohon konifer, pakis pohon, dan pakis (hutan galeri), hingga sabana pakis yang sekali waktu diselingi pepohonan seperti konifer Brachyphyllum yang wujudnya menyerupai Araucaria.[126] Fosil-fosil hewan yang ditemukan di sini meliputi moluska bivalvia (kerang), siput, ikan bersirip kipas, katak, salamander, kura-kura, reptil sphenodontia, kadal, kerabat buaya (crocodylomorpha) darat maupun perairan, beberapa spesies reptil terbang pterosaurus, banyak spesies dinosaurus, dan mamalia purba seperti docodonta, multituberculata, symmetrodonta, serta triconodonta. Dinosaurus-dinosaurus yang diketahui dari Morrison meliputi kelompok teropoda Ceratosaurus, Ornitholestes, Tanycolagreus, dan Torvosaurus, lalu kelompok sauropoda Haplocanthosaurus, Camarasaurus, Cathetosaurus, Brachiosaurus, Suuwassea, Apatosaurus, Brontosaurus, Barosaurus, Diplodocus, Supersaurus, Amphicoelias, dan Maraapunisaurus, serta kelompok ornitiskia yang mencakup Camptosaurus, Dryosaurus, dan Stegosaurus.[127] Allosaurus lazim ditemukan di situs galian yang sama dengan Apatosaurus, Camarasaurus, Diplodocus, dan Stegosaurus.[128] Formasi dari zaman Jura Akhir di Portugal di mana Allosaurus bermukim, ditafsirkan memiliki lingkungan yang mirip dengan Morrison, tetapi dengan pengaruh marin (lautan) yang jauh lebih kuat. Banyak dinosaurus di Formasi Morrison merupakan genus yang sama dengan yang terlihat di bebatuan Portugal (terutama Allosaurus, Ceratosaurus, Torvosaurus, dan Stegosaurus), atau memiliki kaitan sangat erat yang menduduki rumpang taksa biologis serupa (Brachiosaurus dengan Lusotitan, Camptosaurus dengan Draconyx).[33]
Allosaurus berada pada puncak tingkat trofik dari rantai makanan Morrison.[129] Nilai turunan isotop kalsium menampakkan bahwa Allosaurus adalah predator oportunis yang memangsa Camarasaurus, Camptosaurus, dan Diplodocus, walaupun belum diketahui kejelasan pastinya apakah temuan ini timbul berkat kegiatan perburuannya atau sekadar mengais sisa bangkai dari kawanan sauropoda tersebut. Temuan ini juga menyibakkan bahwa Allosaurus utamanya terfokus untuk melahap dagingnya saja dengan rasio pecahan tulang berukuran kecil yang ikut tertelan jika disejajarkan dengan dinosaurus tyrannosauridae seperti Tyrannosaurus.[130] Ia hidup berdampingan bersama sesama teropoda besar Ceratosaurus dan Torvosaurus baik di wilayah Amerika Serikat maupun di Portugal.[33] Menurut Robert Bakker, masing-masing dari ketiganya memperlihatkan pemanfaatan relung ekologi yang berbeda, merujuk kepada anatomi fisik dan juga letak penemuan fosilnya. Ceratosaurus dan Torvosaurus kemungkinan besar lebih gemar beraktivitas di sekitar jalur perairan, serta dibekali tubuh yang lebih rendah dan tipis yang niscaya memberikan keunggulan telak di area tutupan hutan juga dalam menyusuri lahan bersemak belukar, manakala Allosaurus bertubuh lebih kompak, dipersenjatai tungkai yang panjang, lebih cepat melaju kendati kurang begitu luwes untuk bermanuver, dan tampaknya lebih menyukai hamparan dataran banjiran bersuasana kering.[111] Ceratosaurus, yang lebih dikenal daripada Torvosaurus, memiliki perbedaan yang sangat jelas secara anatomi fungsional dengan Allosaurus, yakni memiliki tengkorak yang lebih tinggi dan menyempit dengan gigi yang besar serta lebar.[131]
Tafonomi
Kuari Cleveland-Lloyd di Utah terbilang tidak biasa mengingat sekitar 66% dari fosil vertebrata di sana adalah milik satu spesies karnivora tunggal, A. fragilis, dan tulang-tulang tersebut dalam keadaan disartikulasi (tidak lagi bersambungan satu sama lain) serta tercampur baur. Telah banyak makalah diterbitkan mengenai bagaimana situs ini kemungkinan terbentuk dibandingkan situs fosil tetrapoda mana pun. Gagasan yang populer menyebutkan bahwa situs tersebut merupakan sebuah jebakan predator di mana Allosaurus terpikat untuk datang dan kemudian terperosok ke dalamnya. Dalam hal ini, bangkai-bangkai tersebut mungkin telah menumpuk selama rentang waktu yang lebih lama. Studi-studi lain mendalilkan suatu bencana tunggal sebagai penyebabnya, semacam bencana kekeringan parah ketika suatu populasi Allosaurus berkumpul di sekitar lubang air dan, dengan kehadiran mereka, mencegah dinosaurus-dinosaurus lain untuk mendekat.[132][133] Keadaan tulang yang mengalami disartikulasi telah dijelaskan dengan kemungkinan terinjak-injak oleh dinosaurus lain; pergerakan sedimen; kegiatan mengais bangkai; air yang menyembur ke atas; atau perombakan dan pengendapan kembali tulang-tulang tersebut secara berulang kali.[132][134] Terdapat pula kemungkinan bahwa populasi Allosaurus tersebut mati di tempat lain karena alasan yang tidak diketahui dan tulang-tulang mereka hanyut terbawa air hingga ke situs tersebut.[134]
Sebuah himpunan tulang di Kuari Mygatt-Moore dari zaman Jura Akhir mengawetkan kemunculan bekas gigitan teropoda dalam jumlah yang sangat tinggi secara tidak biasa, di mana sebagian besar di antaranya dapat dikaitkan dengan Allosaurus dan Ceratosaurus, sementara sisanya bisa jadi ditimbulkan oleh Torvosaurus jika menilik dari ukuran guratannya. Walaupun letak bekas gigitan pada dinosaurus herbivora konsisten dengan dugaan pemangsaan atau akses awal menuju sisa-sisa jasad, bekas gigitan yang ditemukan pada material Allosaurus justru menunjukkan aktivitas mengais bangkai, baik dari teropoda lain maupun dari sesama Allosaurus lainnya. Konsentrasi bekas gigitan teropoda yang sangat tinggi dan tidak biasa jika dibandingkan dengan himpunan tulang lainnya dapat dijelaskan baik oleh adanya pemanfaatan sumber daya yang lebih tuntas selama musim kemarau oleh para teropoda, maupun oleh bias pengumpulan di lokalitas-lokalitas lainnya.[135]
Catatan
- ↑ Marsh berpikir bahwa tulang belakang tersebut diringankan oleh cekungan dalam di bagian sisinya, namun spesimen-spesimen yang lebih utuh di kemudian hari menunjukkan bahwa cekungan-cekungan tersebut sebenarnya adalah rongga internal[1]
- ↑ Madsen, 1976; perlu dicatat bahwa tidak semua orang sepakat mengenai di mana leher berakhir dan punggung dimulai, dan beberapa penulis seperti Gregory S. Paul menafsirkan jumlahnya sebagai 10 tulang leher dan 13 tulang punggung.
Referensi
- 1 2 3 4 Creisler, Ben (July 7, 2003). "Dinosauria Translation and Pronunciation Guide A". Dinosauria On-Line. Diarsipkan dari asli tanggal January 5, 2010. Diakses tanggal September 11, 2007.
- 1 2 Carpenter, Kenneth (2002). "Guide to the major dinosaur sites near Cañon City, Colorado". Trilobite Tails. 19 (3): 7–17.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Madsen, James H. Jr. (1993) [1976]. Allosaurus fragilis: A Revised Osteology. Utah Geological Survey Bulletin 109 (Edisi 2nd). Salt Lake City: Utah Geological Survey.
- 1 2 Leidy, Joseph (1873). "Contribution to the extinct vertebrate fauna of the western territories". Report of the U.S. Geological Survey of the Territories I: 14–358.
- ↑ Leidy, Joseph (1870). "Remarks on Poicilopleuron valens, Clidastes intermedius, Leiodon proriger, Baptemys wyomingensis, and Emys stevensonianus". Proceedings of the Academy of Natural Sciences of Philadelphia. 22: 3–4.
- ↑ Liddell & Scott (1980). Greek–English Lexicon, Abridged Edition. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-910207-5. OCLC 17396377.
- ↑ Marsh, Othniel Charles (1877). "Notice of new dinosaurian reptiles from the Jurassic formation". American Journal of Science and Arts. 14 (84): 514–516. Bibcode:1877AmJS...14..514M. doi:10.2475/ajs.s3-14.84.514. S2CID 130488291. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 20, 2021. Diakses tanggal August 31, 2020.
- ↑ Norell, Mark A.; Gaffney, Eric S.; Dingus, Lowell (1995). Discovering Dinosaurs in the American Museum of Natural History. New York: Knopf. hlm. 112–113. ISBN 978-0-679-43386-6.
- ↑ Breithaupt, Brent H. (1999). "AMNH 5753: The world's first free-standing theropod skeleton". Journal of Vertebrate Paleontology. 19: 33A. doi:10.1080/02724634.1999.10011202.
- ↑ Carrano, Matthew T.; Benson, Roger B. J.; Sampson, Scott D. (June 1, 2012). "The phylogeny of Tetanurae (Dinosauria: Theropoda)". Journal of Systematic Palaeontology (dalam bahasa Inggris). 10 (2): 211–300. doi:10.1080/14772019.2011.630927. ISSN 1477-2019.
- ↑ Williston, Samuel Wendell (1878). "American Jurassic dinosaurs". Transactions of the Kansas Academy of Science. 6: 42–46. doi:10.2307/3623553. JSTOR 3623553.
- ↑ Williston, Samuel Wendell (1901). "The dinosaurian genus Creosaurus, Marsh". American Journal of Science. Series 4. 11 (62): 111–114. Bibcode:1901AmJS...11..111W. doi:10.2475/ajs.s4-11.62.111. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 9, 2021. Diakses tanggal June 28, 2019.
- 1 2 3 4 Gilmore, Charles W. (1920). "Osteology of the carnivorous dinosauria in the United States National Museum, with special reference to the genera Antrodemus (Allosaurus) and Ceratosaurus" (PDF). Bulletin of the United States National Museum (110): 1–159. doi:10.5479/si.03629236.110.i. hdl:2027/uiug.30112032536010. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal October 9, 2022.
- 1 2 Chure, Daniel J.; McIntosh, John S. (1990). "Stranger in a strange land: a brief history of the paleontological operations at Dinosaur National Monument". Earth Sciences History. 9 (1): 34–40. Bibcode:1990ESHis...9...34C. doi:10.17704/eshi.9.1.x8l67355k7745582. ISSN 0736-623X. JSTOR 24138198.
- ↑ McIntosh, J.S. (1981). "Annotated catalogue of the dinosaurs (Reptilia, Archosauria) in the collections of Carnegie Museum of Natural History". Bulletin of Carnegie Museum of Natural History. 18: 1–64. Bibcode:1981BCMNH..18....1M. doi:10.5962/p.228597.
- ↑ White, T. E. (1964). "The dinosaur quarry". Intermountain Association of Petroleum Geologists. Thirteenth Annual Field Conference, 13: 21–28.
- 1 2 Paul, Gregory S.; Carpenter, Kenneth (2010). "Allosaurus Marsh, 1877 (Dinosauria, Theropoda): proposed conservation of usage by designation of a neotype for its type species Allosaurus fragilis Marsh, 1877" (PDF). Bulletin of Zoological Nomenclature. 67 (1): 53–56. doi:10.21805/bzn.v67i1.a7. S2CID 81735811. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal August 9, 2017. Diakses tanggal September 28, 2018.
- ↑ Stokes, William L. (1945). "A new quarry for Jurassic dinosaurs". Science. 101 (2614): 115–117. Bibcode:1945Sci...101..115S. doi:10.1126/science.101.2614.115-a. PMID 17799203. S2CID 13589884.
- 1 2 Loewen, Mark A.; Sampson, Scott D.; Carrano, Matthew T.; Chure, Daniel J. (2003). "Morphology, taxonomy, and stratigraphy of Allosaurus from the Upper Jurassic Morrison Formation". Journal of Vertebrate Paleontology. 23 (3): 72A. doi:10.1080/02724634.2003.10010538. S2CID 220410105.
- ↑ "Utah Symbols – State Fossil". Pioneer: Utah's Online Library, State of Utah. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 8, 2010. Diakses tanggal June 16, 2010.
- 1 2 Breithaupt, Brent H. "The case of "Big Al" the Allosaurus: a study in paleodetective partnerships". Diarsipkan dari asli tanggal January 7, 2010. Diakses tanggal October 3, 2007.
- 1 2 3 4 5 6 7 Chure, D.J.; Loewen, M.A. (2020). "Cranial anatomy of Allosaurus jimmadseni, a new species from the lower part of the Morrison Formation (Upper Jurassic) of Western North America". PeerJ. 8 e7803. doi:10.7717/peerj.7803. PMC 6984342. PMID 32002317.
- 1 2 Hanna, Rebecca R. (2002). "Multiple injury and infection in a sub-adult theropod dinosaur (Allosaurus fragilis) with comparisons to allosaur pathology in the Cleveland-Lloyd Dinosaur Quarry Collection". Journal of Vertebrate Paleontology. 22 (1): 76–90. doi:10.1671/0272-4634(2002)022[0076:MIAIIA]2.0.CO;2. ISSN 0272-4634. S2CID 85654858.
- ↑ Britt, B (1991). "Theropods of Dry Mesa Quarry (Morrison Formation, Late Jurassic), Colorado, with emphasis on the osteology of Torvosaurus tanneri". Brigham Young University Geology Studies. 37: 1–72.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Paul, Gregory S. (1988). "Genus Allosaurus". Predatory Dinosaurs of the World. New York: Simon & Schuster. hlm. 307–313. ISBN 978-0-671-61946-6.
- 1 2 Smith, David K. (1996). "A discriminant analysis of Allosaurus population using quarries as the operational units". Museum of Northern Arizona Bulletin. 60: 69–72.
- 1 2 Smith, David K. (1999). "Patterns of size-related variation within Allosaurus". Journal of Vertebrate Paleontology. 19 (2): 402–403. Bibcode:1999JVPal..19..402S. doi:10.1080/02724634.1999.10011153.
- 1 2 3 Carpenter, Kenneth (2010). "Variation in a population of Theropoda (Dinosauria): Allosaurus from the Cleveland-Lloyd Quarry (Upper Jurassic), Utah, USA". Paleontological Research. 14 (4): 250–259. Bibcode:2010PalRe..14..250C. doi:10.2517/1342-8144-14.4.250. S2CID 84635714.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Malafaia, Elisabete; Dantas, Pedro; Escaso, Fernando; Mocho, Pedro; Ortega, Francisco (May 1, 2025). "Cranial osteology of a new specimen of Allosaurus Marsh, 1877 (Theropoda: Allosauridae) from the Upper Jurassic of Portugal and a specimen-level phylogenetic analysis of Allosaurus". Zoological Journal of the Linnean Society. 204 (1) zlaf029. doi:10.1093/zoolinnean/zlaf029. ISSN 0024-4082.
- 1 2 Pérez-Moreno, B.P.; Chure, D. J.; Pires, C.; Marques Da Silva, C.; Dos Santos, V.; Dantas, P.; Povoas, L.; Cachao, M.; Sanz, J. L. (1999). "On the presence of Allosaurus fragilis (Theropoda: Carnosauria) in the Upper Jurassic of Portugal: First evidence of an intercontinental dinosaur species" (PDF). Journal of the Geological Society. 156 (3): 449–452. Bibcode:1999JGSoc.156..449P. doi:10.1144/gsjgs.156.3.0449. S2CID 130952546. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal October 25, 2007.
- 1 2 Malafaia, E.; Ortega, F.; Escaso, F.; Dantas, P.; Pimentel, N.; Gasulla, J. M.; Ribeiro, B.; Barriga, F.; Sanz, J. L. (December 10, 2010). "Vertebrate fauna at the Allosaurus fossil-site of Andrés (Upper Jurassic), Pombal, Portugal". Journal of Iberian Geology (dalam bahasa Spanyol). 36 (2): 193–204. Bibcode:2010JIbG...36..193M. doi:10.5209/rev_JIGE.2010.v36.n2.7. ISSN 1886-7995.
- ↑ Rauhut, Oliver W. M; Fechner, Regina (June 7, 2005). "Early development of the facial region in a non-avian theropod dinosaur". Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences (dalam bahasa Inggris). 272 (1568): 1179–1183. doi:10.1098/rspb.2005.3071. ISSN 0962-8452. PMC 1559819. PMID 16024380.
- 1 2 3 Mateus, Octávio (2006). "Jurassic dinosaurs from the Morrison Formation (USA), the Lourinhã and Alcobaça Formations (Portugal), and the Tendaguru Beds (Tanzania): A comparison". Dalam Foster, John R.; Lucas, Spencer G. (ed.). Paleontology and Geology of the Upper Jurassic Morrison Formation. New Mexico Museum of Natural History and Science Bulletin, 36. Albuquerque, New Mexico: New Mexico Museum of Natural History and Science. hlm. 223–231.
- ↑ Malafaia, Elisabete; Dantas, Pedro; Ortega, Francisco; Escaso, Fernando (2007). "Nuevos restos de Allosaurus fragilis (Theropoda: Carnosauria) del yacimiento de Andrés (Jurásico Superior; centro-oeste de Portugal)" [New remains of Allosaurus fragilis (Theropoda: Carnosauria) of the Andrés deposit (Upper Jurassic; central-west Portugal)] (PDF). Cantera Paleontológica (dalam bahasa Spanyol and Inggris): 255–271. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal October 9, 2022.
- ↑ Evers, Serjoscha W.; Foth, Christian; Rauhut, Oliver W.M. (February 7, 2020). "Notes on the cheek region of the Late Jurassic theropod dinosaur Allosaurus". PeerJ. 8 e8493. doi:10.7717/peerj.8493. ISSN 2167-8359. PMC 7008823. PMID 32076581.
- ↑ Burigo, André; Mateus, Octávio (January 2025). "Allosaurus europaeus (Theropoda: Allosauroidea) Revisited and Taxonomy of the Genus". Diversity (dalam bahasa Inggris). 17 (1): 29. doi:10.3390/d17010029. ISSN 1424-2818.
- 1 2 Jones, Ramal Ray; Chure, Daniel J. (1998). "The recapitation of a Late Jurassic theropod dinosaur: a successful application of radiological surveying for locating subsurface fossilized bone" (PDF). GAIA: Revista de geociências (15): 103.
- 1 2 3 4 5 6 7 Carrano, Benson; Sampson (2012). "The phylogeny of Tetanurae (Dinosauria: Theropoda)". Journal of Systematic Palaeontology. 10 (2): 211–300. Bibcode:2012JSPal..10..211C. doi:10.1080/14772019.2011.630927. S2CID 85354215.
- ↑ "Opinion 2486 (Case 3506) – Allosaurus Marsh, 1877 (Dinosauria, Theropoda): usage conserved by designation of a neotype for its type species Allosaurus fragilis Marsh, 1877". The Bulletin of Zoological Nomenclature. 80 (1): 65–68. December 2023. doi:10.21805/bzn.v80.a015. ISSN 0007-5167.
- ↑ Dalman, S. (2014). "Osteology of a large allosauroid theropod from the Upper Jurassic (Tithonian) Morrison Formation of Colorado, USA" (PDF). Volumina Jurassica. 12 (2): 159–180.
- ↑ Chure, Daniel J. (1995). "A reassessment of the gigantic theropod Saurophagus maximus from the Morrison Formation (Upper Jurassic) of Oklahoma, USA". Dalam Ailing Sun; Yuangqing Wang (ed.). Sixth Symposium on Mesozoic Terrestrial Ecosystems and Biota, Short Papers. Beijing: China Ocean Press. hlm. 103–106. ISBN 978-7-5027-3898-3.
- 1 2 Smith, David K. (1998). "A morphometric analysis of Allosaurus". Journal of Vertebrate Paleontology. 18 (1): 126–142. Bibcode:1998JVPal..18..126S. doi:10.1080/02724634.1998.10011039.
- 1 2 3 4 5 6 Holtz, Thomas R. Jr.; Molnar, Ralph E.; Currie, Philip J. (2004). "Basal Tetanurae". Dalam Weishampel, David B.; Dodson, Peter; Osmólska, Halszka (ed.). The Dinosauria (Edisi 2nd). Berkeley: University of California Press. hlm. 71–110. ISBN 978-0-520-24209-8.
- 1 2 3 4 5 Danison, Andrew; Wedel, Mathew; Barta, Daniel; Woodward, Holly; Flora, Holley; Lee, Andrew; Snively, Eric (2024). "Chimerism in specimens referred to Saurophaganax maximus reveals a new species of Allosaurus (Dinosauria, Theropoda)". Vertebrate Anatomy Morphology Palaeontology (dalam bahasa Inggris). 12. doi:10.18435/vamp29404. ISSN 2292-1389.
- 1 2 Glut, Donald F. (1997). "Allosaurus". Dinosaurs: The Encyclopedia. Jefferson, North Carolina: McFarland & Co. hlm. 105–117. ISBN 978-0-89950-917-4.
- 1 2 3 Paul, Gregory S. (2010). The Princeton Field Guide to Dinosaurs. Princeton University Press. hlm. 94–96.
- ↑ Paul, G.S. (2024) The Princeton Field Guide to Dinosaurs. edisi ke-3. Princeton University Press hlm. 112
- 1 2 3 Mortimer, Mickey (July 21, 2003). "And the largest Theropod is..." The Dinosaur Mailing List. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 25, 2010. Diakses tanggal September 8, 2007.
- ↑ Campione, N. E.; Evans, D. C.; Brown, C. M.; Carrano, M. T. (2014). "Body mass estimation in non-avian bipeds using a theoretical conversion to quadruped stylopodial proportions". Methods in Ecology and Evolution. 5 (9): 913–923. Bibcode:2014MEcEv...5..913C. doi:10.1111/2041-210X.12226. hdl:10088/25281.
- ↑ Foster, John R. (2003). Paleoecological Analysis of the Vertebrate Fauna of the Morrison Formation (Upper Jurassic), Rocky Mountain Region, U.S.A. New Mexico Museum of Natural History and Science Bulletin 23. Albuquerque: New Mexico Museum of Natural History and Science. hlm. 37.
- 1 2 3 4 Foster, John (2007). "Allosaurus fragilis". Jurassic West: The Dinosaurs of the Morrison Formation and Their World. Bloomington, Indiana: Indiana University Press. hlm. 170–176. ISBN 978-0-253-34870-8. OCLC 77830875.
- ↑ Bates, Karl T.; Falkingham, Peter L.; Breithaupt, Brent H.; Hodgetts, David; Sellers, William I.; Manning, Phillip L. (2009). "How big was 'Big Al'? Quantifying the effect of soft tissue and osteological unknowns on mass predictions for Allosaurus (Dinosauria:Theropoda)". Palaeontologia Electronica. 12 (3): unpaginated. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 25, 2009. Diakses tanggal December 13, 2009.
- 1 2 Pahl, Cameron C.; Ruedas, Luis A. (November 1, 2023). "Big boned: How fat storage and other adaptations influenced large theropod foraging ecology". PLOS ONE (dalam bahasa Inggris). 18 (11) e0290459. Bibcode:2023PLoSO..1890459P. doi:10.1371/journal.pone.0290459. ISSN 1932-6203. PMC 10619836. PMID 37910492.
- ↑ Mateus, Octávio; Milàn, Jesper (June 2010). "A diverse Upper Jurassic dinosaur ichnofauna from central-west Portugal". Lethaia. 43 (2): 245–257. Bibcode:2010Letha..43..245M. doi:10.1111/j.1502-3931.2009.00190.x. ISSN 0024-1164.
- ↑ Foster, John. 2007. Jurassic West: the Dinosaurs of the Morrison Formation and Their World. Bloomington, Indiana:Indiana University Press. p. 117.
- ↑ Molnar, Ralph E. (1977). "Analogies in the evolution of combat and display structures in ornithopods and ungulates". Evolutionary Theory. 3: 165–190.
- 1 2 Norman, David B. (1985). "Carnosaurs". The Illustrated Encyclopedia of Dinosaurs: An Original and Compelling Insight into Life in the Dinosaur Kingdom. New York: Crescent Books. hlm. 62–67. ISBN 978-0-517-46890-6.
- ↑ Paul, Gregory S. (1988). Predatory Dinosaurs of the World. 91 and Figure 4–5 (93).
- ↑ Paul, Gregory S. (1988). Predatory Dinosaurs of the World. 277.
- 1 2 3 Chure, Daniel J. (2000). "Observations on the morphology and pathology of the gastral basket of Allosaurus, based on a new specimen from Dinosaur National Monument". Oryctos. 3: 29–37. ISSN 1290-4805.
- ↑ Chure, Daniel J.; Madsen, James (1996). "On the presence of furculae in some non-maniraptoran theropods". Journal of Vertebrate Paleontology. 16 (3): 573–577. Bibcode:1996JVPal..16..573C. doi:10.1080/02724634.1996.10011341.
- ↑ Middleton, Kevin M. (2000). "Theropod forelimb design and evolution" (PDF). Zoological Journal of the Linnean Society. 128 (2): 149–187. doi:10.1006/zjls.1998.0193. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal October 25, 2007. Diakses tanggal October 25, 2007.
- 1 2 3 Carpenter, Kenneth (2002). "Forelimb biomechanics of nonavian theropod dinosaurs in predation". Senckenbergiana Lethaea. 82 (1): 59–76. doi:10.1007/BF03043773. S2CID 84702973.
- ↑ Martin, A.J. (2006). Introduction to the Study of Dinosaurs (Edisi 2nd.). Oxford: Blackwell Publishing. hlm. 560. ISBN 1-4051-3413-5.
- ↑ Paul, Gregory S. (1988). Predatory Dinosaurs of the World. 113; note illustrations of Allosaurus on 310 and 311 as well; Madsen (1976) interpreted these bones as possible upper portions of the inner metatarsal.
- ↑ Motani, Ryosuke (2021). "Sex estimation from morphology in living animals and dinosaurs". Zoological Journal of the Linnean Society. 192 (4): 1029–1044. doi:10.1093/zoolinnean/zlaa181.
- 1 2 Hendrickx, Christophe; Bell, Phil R.; Pittman, Michael; Milner, Andrew R. C.; Cuesta, Elena; O'Connor, Jingmai; Loewen, Mark; Currie, Philip J.; Mateus, Octávio; Kaye, Thomas G.; Delcourt, Rafael (June 2022). "Morphology and distribution of scales, dermal ossifications, and other non-feather integumentary structures in non-avialan theropod dinosaurs". Biological Reviews (dalam bahasa Inggris). 97 (3): 960–1004. doi:10.1111/brv.12829. ISSN 1464-7931. PMID 34991180. S2CID 245820672. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 28, 2022. Diakses tanggal November 7, 2022.
- ↑ "Dinosaur World Thrilled Over Allosaurus Found In Wyoming's Jurassic Mile". Cowboy State Daily (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal January 17, 2026.
- ↑ Marsh, Othniel Charles (1878). "Notice of new dinosaurian reptiles". American Journal of Science and Arts. 15 (87): 241–244. Bibcode:1878AmJS...15..241M. doi:10.2475/ajs.s3-15.87.241. S2CID 131371457. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 18, 2020. Diakses tanggal June 28, 2019.
- ↑ Marsh, Othniel Charles (1879). "Principal characters of American Jurassic dinosaurs. Part II". American Journal of Science. Series 3. 17 (97): 86–92. doi:10.2475/ajs.s3-17.97.86. hdl:2027/hvd.32044107172876. S2CID 219247096. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 9, 2021. Diakses tanggal August 6, 2018.
- ↑ von Zittel, Karl Alfred (1887). Handbuch der Palaeontologie. 1. Abth. Palaeozoologie. III. Band Vertebrata (dalam bahasa Jerman). Munich and Leipzig: Druck und Verlag von R. Oldenbourg. hlm. 725.
- ↑ Paul, Gregory S. (1988). "The allosaur-tyrannosaur group", Predatory Dinosaurs of the World. 301–347.
- ↑ Holtz, Thomas R. Jr. (1994). "The phylogenetic position of the Tyrannosauridae: Implications for theropod systematics". Journal of Paleontology. 68 (5): 1100–1117. Bibcode:1994JPal...68.1100H. doi:10.1017/S0022336000026706. JSTOR 1306180. S2CID 129684676.
- ↑ "Allosaurus" (dalam bahasa Inggris). The Paleobiology Database. 2025. Diakses tanggal July 17, 2025.
- ↑ Hendrickx, C.; Hartman, S.A.; Mateus, O. (2015). "An overview of non-avian theropod discoveries and classification". PalArch's Journal of Vertebrate Palaeontology. 12 (1): 1–73.
- ↑ Bybee, Paul J.; Lee, AH; Lamm, ET (2006). "Sizing the Jurassic theropod dinosaur Allosaurus: Assessing growth strategy and evolution of ontogenetic scaling of limbs". Journal of Morphology. 267 (3): 347–359. Bibcode:2006JMorp.267..347B. doi:10.1002/jmor.10406. PMID 16380967. S2CID 35111050.
- ↑ Lee, Andrew H.; Werning, S (2008). "Sexual maturity in growing dinosaurs does not fit reptilian growth models". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 105 (2): 582–587. Bibcode:2008PNAS..105..582L. doi:10.1073/pnas.0708903105. PMC 2206579. PMID 18195356.
- 1 2 Chinsamy, A.; Tumarkin-Deratzian, A. (2009). "Pathological Bone Tissues in a Turkey Vulture and a Nonavian Dinosaur: Implications for Interpreting Endosteal Bone and Radial Fibrolamellar Bone in Fossil Dinosaurs". Anat. Rec. 292 (9): 1478–1484. doi:10.1002/ar.20991. PMID 19711479. S2CID 41596233.
- ↑ "Pregnant T. rex could aid in dino sex-typing". Science Daily. March 15, 2016. Diarsipkan dari asli tanggal April 14, 2016.
- ↑ Foster, John R.; Chure, Daniel J. (2006). "Hindlimb allometry in the Late Jurassic theropod dinosaur Allosaurus, with comments on its abundance and distribution". Dalam Foster, John R.; Lucas, Spencer G. (ed.). Paleontology and Geology of the Upper Jurassic Morrison Formation. New Mexico Museum of Natural History and Science Bulletin, 36. Albuquerque, New Mexico: New Mexico Museum of Natural History and Science. hlm. 119–122.
- ↑ Loewen, Mark A. (2002). "Ontogenetic changes in hindlimb musculature and function in the Late Jurassic theropod Allosaurus". Journal of Vertebrate Paleontology. 22 (3, Suppl): 80A.
- ↑ Carpenter, Kenneth; Sanders, Frank; McWhinney, Lorrie A.; Wood, Lowell (2005). "Evidence for predator-prey relationships: Examples for Allosaurus and Stegosaurus". Dalam Carpenter, Kenneth (ed.). The Carnivorous Dinosaurs. Bloomington and Indianapolis: Indiana University Press. hlm. 325–350. ISBN 978-0-253-34539-4.
- ↑ Fastovsky, David E.; and Smith, Joshua B. (2004). "Dinosaur Paleoecology", in The Dinosauria (2nd ed.). 614–626.
- 1 2 Lessem, Don; Glut, Donald F. (1993). "Allosaurus". The Dinosaur Society's Dinosaur Encyclopedia. Random House. hlm. 19–20. ISBN 978-0-679-41770-5. OCLC 30361459.
- ↑ Bakker, Robert T. (1998). "Brontosaur killers: Late Jurassic allosaurids as sabre-tooth cat analogues". Gaia. 15: 145–158. ISSN 0871-5424.
- 1 2 3 Rayfield, Emily J.; Norman, DB; Horner, CC; Horner, JR; Smith, PM; Thomason, JJ; Upchurch, P (2001). "Cranial design and function in a large theropod dinosaur". Nature. 409 (6823): 1033–1037. Bibcode:2001Natur.409.1033R. doi:10.1038/35059070. PMID 11234010. S2CID 4396729.
- ↑ Bates, K. T.; Falkingham, P.L. (February 29, 2012). "Estimating maximum bite performance in Tyrannosaurus rex using multi-body dynamics". Biology Letters. 8 (4): 660–664. Bibcode:2012BiLet...8..660B. doi:10.1098/rsbl.2012.0056. PMC 3391458. PMID 22378742.
- ↑ Frazzetta, T. H.; Kardong, K. V. (2002). "Prey attack by a large theropod dinosaur". Nature. 416 (6879): 387–388. Bibcode:2002Natur.416..387F. doi:10.1038/416387a. PMID 11919619. S2CID 4388901.
- ↑ Rayfield, Emily J.; Norman, D. B.; Upchurch, P. (2002). "Prey attack by a large theropod dinosaur: Response to Frazzetta and Kardong, 2002". Nature. 416 (6879): 388. Bibcode:2002Natur.416..388R. doi:10.1038/416388a. S2CID 4392259.
- ↑ Lautenschlager, Stephan (November 4, 2015). "Estimating cranial musculoskeletal constraints in theropod dinosaurs". Royal Society Open Science. 2 (11) 150495. Bibcode:2015RSOS....250495L. doi:10.1098/rsos.150495. PMC 4680622. PMID 26716007.
- ↑ "Better to eat you with? How dinosaurs' jaws influenced diet". Science Daily. November 3, 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 7, 2016.
- ↑ Snively, Eric.; Cotton, John R.; Ridgely, Ryan; Witmer, Lawrence M. (2013). "Multibody dynamics model of head and neck function in Allosaurus (Dinosauria, Theropoda)". Palaeontologia Electronica. 16 (2): 338. Bibcode:2013PalEl..16..338S. doi:10.26879/338.
- ↑ Ohio University (May 22, 2013). "Allosaurus fed more like a falcon than a crocodile: Engineering, anatomy work reveals differences in dinosaur feeding styles". ScienceDaily. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 9, 2021. Diakses tanggal May 22, 2013.
- 1 2 Rogers, Scott W. (March 9, 2005). "Reconstructing the behaviors of extinct species: An excursion into comparative paleoneurology". American Journal of Medical Genetics Part A (dalam bahasa Inggris). 134A (4): 349–356. doi:10.1002/ajmg.a.30538. ISSN 1552-4825. PMID 15759265.
- ↑ Rogers, Scott W. (October 15, 1999). "Allosaurus, crocodiles, and birds: Evolutionary clues from spiral computed tomography of an endocast". The Anatomical Record (dalam bahasa Inggris). 257 (5): 162–173. doi:10.1002/(SICI)1097-0185(19991015)257:5<162::AID-AR5>3.0.CO;2-W. ISSN 0003-276X. PMID 10597341.
- ↑ Stevens, Kent A. (2006). "Binocular vision in theropod dinosaurs". Journal of Vertebrate Paleontology. 26 (2): 321–330. doi:10.1671/0272-4634(2006)26[321:BVITD]2.0.CO;2. ISSN 0272-4634. S2CID 85694979.
- ↑ Christiansen, Per (1998). "Strength indicator values of theropod long bones, with comments on limb proportions and cursorial potential". Gaia. 15: 241–255. ISSN 0871-5424. S2CID 83115549.
- ↑ Anton, M.; Sánchez, I.; Salesa, Manuel; Turner, A (2003). "The muscle-powered bite of Allosaurus (Dinosauria; Theropoda): An interpretation of cranio-dental morphology" (PDF). Estudios Geológicos. 59 (5): 313–323. doi:10.3989/egeol.03595-6106. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal October 9, 2022.
- ↑ Bader, Kenneth; Hasiotis, Stephen (2009). "Application of forensic science techniques to trace fossils on dinosaur bones from a quarry in the Upper Jurassic Morrison Formation, Northeastern Wyoming". PALAIOS (dalam bahasa Inggris). 24 (3). PALAIOS: 140–158. Bibcode:2009Palai..24..140B. doi:10.2110/palo.2008.p08-058r.
- ↑ Storrs, Glenn W.; Oser, Sara E.; Aull, Mark (September 23, 2013). "Further analysis of a Late Jurassic dinosaur bone-bed from the Morrison Formation of Montana, USA, with a computed three-dimensional reconstruction". Earth and Environmental Science Transactions of the Royal Society of Edinburgh. 103 (3–4): 443–458. doi:10.1017/S1755691013000248. ISSN 1755-6910. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 17, 2024. Diakses tanggal January 17, 2024.
- ↑ Lei, Roberto; Tschopp, Emanuel; Hendrickx, Christophe; Wedel, Mathew J.; Norell, Mark; Hone, David W. E. (November 14, 2023). "Bite and tooth marks on sauropod dinosaurs from the Morrison Formation". PeerJ (dalam bahasa Inggris). 11 e16327. doi:10.7717/peerj.16327. ISSN 2167-8359. PMC 10655710. PMID 38025762.
- ↑ Pahl, Cameron C.; Ruedas, Luis A. (October 15, 2021). "Carnosaurs as Apex Scavengers: Agent-based simulations reveal possible vulture analogues in late Jurassic Dinosaurs". Ecological Modelling. 458 109706. Bibcode:2021EcMod.45809706P. doi:10.1016/j.ecolmodel.2021.109706. ISSN 0304-3800.
- ↑ Foster, John (October 20, 2020). Jurassic West, Second Addition: The Dinosaurs of the Morrison Formation and Their World. Indiana University Press. ISBN 978-0-253-05157-8.
- ↑ Farlow, James O. (1976). "Speculations about the diet and foraging behavior of large carnivorous dinosaurs". American Midland Naturalist. 95 (1): 186–191. Bibcode:1976AMNat..95..186F. doi:10.2307/2424244. JSTOR 2424244.
- ↑ Lambert, David; the Diagram Group (1983). "Allosaurids". A Field Guide to Dinosaurs. New York: Avon Books. hlm. 80–81. ISBN 978-0-380-83519-5.
- ↑ Bakker, Robert T. (1997). "Raptor Family values: Allosaur parents brought giant carcasses into their lair to feed their young". Dalam Wolberg, Donald L.; Sump, Edmund; Rosenberg, Gary D. (ed.). Dinofest International, Proceedings of a Symposium Held at Arizona State University. Philadelphia: Academy of Natural Sciences. hlm. 51–63. ISBN 978-0-935868-94-4.
- ↑ Tanke, Darren H. (1998). "Head-biting behavior in theropod dinosaurs: Paleopathological evidence". Gaia (15): 167–184. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 9, 2021. Diakses tanggal December 4, 2017.
- ↑ Currie, Philip J. (1999). "Theropods". Dalam Farlow, James; Brett-Surman, M.K. (ed.). The Complete Dinosaur. Indiana: Indiana University Press. hlm. 228. ISBN 978-0-253-21313-6.
- ↑ Roach, Brian T.; Brinkman, Daniel L. (2007). "A reevaluation of cooperative pack hunting and gregariousness in Deinonychus antirrhopus and other nonavian theropod dinosaurs". Bulletin of the Peabody Museum of Natural History. 48 (1): 103–138. doi:10.3374/0079-032X(2007)48[103:AROCPH]2.0.CO;2. S2CID 84175628.
- ↑ Goodchild Drake, Brandon (2004). "A new specimen of Allosaurus from north-central Wyoming". Journal of Vertebrate Paleontology. 24 (3, Suppl): 65A. doi:10.1080/02724634.2004.10010643. S2CID 220415208.
- 1 2 Bakker, Robert T.; Bir, Gary (2004). "Dinosaur crime scene investigations: theropod behavior at Como Bluff, Wyoming, and the evolution of birdness". Dalam Currie, Philip J.; Koppelhus, Eva B.; Shugar, Martin A.; Wright, Joanna L. (ed.). Feathered Dragons: Studies on the Transition from Dinosaurs to Birds. Bloomington and Indianapolis: Indiana University Press. hlm. 301–342. ISBN 978-0-253-34373-4.
- ↑ Foth, Christian; Evers, Serjoscha W.; Pabst, Ben; Mateus, Octávio; Flisch, Alexander; Patthey, Mike; Rauhut, Oliver W.M. (May 12, 2015). "New insights into the lifestyle of Allosaurus (Dinosauria: Theropoda) based on another specimen with multiple pathologies". PeerJ. 3 e940. Bibcode:2015PeerJ...3.e940F. doi:10.7717/peerj.940. PMC 4435507. PMID 26020001.
- ↑ Rogers, Scott W. (1999). "Allosaurus, crocodiles, and birds: Evolutionary clues from spiral computed tomography of an endocast". The Anatomical Record. 257 (5): 163–173. doi:10.1002/(SICI)1097-0185(19991015)257:5<162::AID-AR5>3.0.CO;2-W. PMID 10597341.
- ↑ Zelenitsky, D. K.; Therrien, F.; Kobayashi, Y. (2008). "Olfactory acuity in theropods: Palaeobiological and evolutionary implications". Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences. 276 (1657): 667–673. doi:10.1098/rspb.2008.1075. PMC 2660930. PMID 18957367.
- ↑ Wilkin, Jack (November 24, 2019). "Review of Pathologies on MOR 693: An Allosaurus from the Late Jurassic of Wyoming and Implications for Understanding Allosaur Immune Systems". PaleorXiv. doi:10.31233/osf.io/f3rh6. S2CID 242466868.
- ↑ Rothschild, B., Tanke, D. H., and Ford, T. L., 2001, Theropod stress fractures and tendon avulsions as a clue to activity: In: Mesozoic Vertebrate Life, edited by Tanke, D. H., and Carpenter, K., Indiana University Press, p. 331–336.
- ↑ Xing, Lida; Rothschild, Bruce M.; Du, Chunlei; Wang, Donghao; Wen, Kexiang; Su, Jiayin (January 2, 2024). "New palaeopathology cases of Allosaurus fragilis (Dinosauria: Theropoda)". Historical Biology (dalam bahasa Inggris). 36 (1): 203–208. Bibcode:2024HBio...36..203X. doi:10.1080/08912963.2022.2155817. ISSN 0891-2963. Diakses tanggal June 29, 2024 – via Taylor and Francis Online.
- ↑ Molnar, R.E. (2001). "Theropod paleopathology: a literature survey". Dalam Tanke, D.H.; Carpenter, K. (ed.). Mesozoic Vertebrate Life. Indiana University Press. hlm. 337–363.
- ↑ Gerke, Oliver; Wings, Oliver (July 6, 2016). "Multivariate and cladistic analyses of isolated teeth reveal sympatry of theropod dinosaurs in the Late Jurassic of Northern Germany". PLOS ONE. 11 (7) e0158334. Bibcode:2016PLoSO..1158334G. doi:10.1371/journal.pone.0158334. PMC 4934775. PMID 27383054.
- ↑ Riabinin, Anatoly Nikolaenvich (1914). "Zamtka o dinozavry ise Zabaykalya". Trudy Geologichyeskago Muszeyah imeni Petra Velikago Imperatorskoy Academiy Nauk (dalam bahasa Rusia). 8 (5): 133–140.
- ↑ Janensch, Werner (1925). "Die Coelurosaurier und Theropoden der Tendaguru-Schichten Deutsch-Ostafrikas". Palaeontographica (dalam bahasa Jerman). 1 (Suppl. 7): 1–99.
- ↑ Olshevsky, G. (1978). "The archosaurian taxa (excluding the Crocodylia)". Mesozoic Meanderings. 1: 1–50.
- ↑ Rauhut, Oliver W.M. (2005). "Post-cranial remains of 'coelurosaurs' (Dinosauria, Theropoda) from the Late Jurassic of Tanzania". Geological Magazine. 142 (1): 97–107. Bibcode:2005GeoM..142...97R. doi:10.1017/S0016756804000330. S2CID 131517482.
- ↑ Maidment, Susannah C. R. (2024). "Diversity through time and space in the Upper Jurassic Morrison Formation, western U.S.A.". Journal of Vertebrate Paleontology. 43 (5) e2326027. Bibcode:2023JVPal..43E6027M. doi:10.1080/02724634.2024.2326027.
- ↑ Russell, Dale A. (1989). An Odyssey in Time: Dinosaurs of North America. Minocqua, Wisconsin: NorthWord Press. hlm. 64–70. ISBN 978-1-55971-038-1.
- ↑ Carpenter, Kenneth (2006). "Biggest of the big: a critical re-evaluation of the mega-sauropod Amphicoelias fragillimus". Dalam Foster, John R.; Lucas, Spencer G. (ed.). Paleontology and Geology of the Upper Jurassic Morrison Formation. New Mexico Museum of Natural History and Science Bulletin, 36. Albuquerque, New Mexico: New Mexico Museum of Natural History and Science. hlm. 131–138.
- ↑ Chure, Daniel J.; Litwin, Ron; Hasiotis, Stephen T.; Evanoff, Emmett; Carpenter, Kenneth (2006). "The fauna and flora of the Morrison Formation: 2006". Dalam Foster, John R.; Lucas, Spencer G. (ed.). Paleontology and Geology of the Upper Jurassic Morrison Formation. New Mexico Museum of Natural History and Science Bulletin 36. Albuquerque, New Mexico: New Mexico Museum of Natural History and Science. hlm. 233–248.
- ↑ Dodson, Peter; Behrensmeyer, A.K.; Bakker, Robert T.; McIntosh, John S. (1980). "Taphonomy and paleoecology of the dinosaur beds of the Jurassic Morrison Formation". Paleobiology. 6 (2): 208–232. doi:10.1017/S0094837300025768.
- ↑ Foster, John R. (2003). Paleoecological Analysis of the Vertebrate Fauna of the Morrison Formation (Upper Jurassic), Rocky Mountain Region, U.S.A. New Mexico Museum of Natural History and Science Bulletin, 23. Albuquerque, New Mexico: New Mexico Museum of Natural History and Science. hlm. 29.
- ↑ Norris, Liam; Martindale, Rowan C.; Satkoski, Aaron; Lassiter, John C.; Fricke, Henry (October 1, 2025). "Calcium isotopes reveal niche partitioning within the dinosaur fauna of the Carnegie Quarry, Morrison Formation". Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology. 675 113103. Bibcode:2025PPP...67513103N. doi:10.1016/j.palaeo.2025.113103.
- ↑ Henderson, Donald M. (1998). "Skull and tooth morphology as indicators of niche partitioning in sympatric Morrison Formation theropods". Gaia. 15: 219–266.
- 1 2 Hunt, Adrian P; Lucas, Spencer G.; Krainer, Karl; Spielmann, Justin (2006). "The taphonomy of the Cleveland-Lloyd Dinosaur Quarry, Upper Jurassic Morrison Formation, Utah: a re-evaluation". Dalam Foster, John R.; Lucas, Spencer G. (ed.). Paleontology and Geology of the Upper Jurassic Morrison Formation. New Mexico Museum of Natural History and Science Bulletin, 36. Albuquerque, New Mexico: New Mexico Museum of Natural History and Science. hlm. 57–65.
- ↑ Gates, T. A. (August 1, 2005). "The Late Jurassic Cleveland-Lloyd Dinosaur Quarry as a Drought-Induced Assemblage". PALAIOS. 20 (4): 363–375. Bibcode:2005Palai..20..363G. doi:10.2110/palo.2003.p03-22.
- 1 2 Peterson, Joseph E.; Warnock, Jonathan P.; Eberhart, Shawn L.; Clawson, Steven R.; Noto, Christopher R. (June 6, 2017). "New data towards the development of a comprehensive taphonomic framework for the Late Jurassic Cleveland-Lloyd Dinosaur Quarry, Central Utah". PeerJ. 5 e3368. doi:10.7717/peerj.3368. PMC 5463971. PMID 28603668.
- ↑ Drumheller, Stephanie K.; McHugh, Julia B.; Kane, Miriam; Riedel, Anja; D'Amore, Domenic C. (May 27, 2020). "High frequencies of theropod bite marks provide evidence for feeding, scavenging, and possible cannibalism in a stressed Late Jurassic ecosystem". PLOS ONE (dalam bahasa Inggris). 15 (5) e0233115. Bibcode:2020PLoSO..1533115D. doi:10.1371/journal.pone.0233115. ISSN 1932-6203. PMC 7252595. PMID 32459808.
Pranala luar
- Specimens, discussion, and references pertaining to Allosaurus fragilis at The Theropod Database
- Utah State Fossil, Allosaurus (Diarsipkan June 17, 2010, di Wayback Machine.), from Pioneer: Utah's Online Library
- Restoration of MOR 693 ("Big Al") and muscle and organ restoration at Scott Hartman's Skeletal Drawing website
- List of the many possible Allosaurus species... (Diarsipkan March 24, 2005, di Wayback Machine.)
| Allosaurus | |
|---|---|
| Epanterias | |
| Internasional | |
|---|---|
| Lain-lain | |