Yayasan Amal Buddha Tzu Chi (Hanzi:佛教慈濟慈善事業基金會[2]; harfiah: 'Yayasan Amal Bantuan Kemanusiaan Buddha') adalah organisasi kemanusiaan internasional dan non-pemerintah asal Taiwan. Kegiatan utamanya meliputi bantuan medis, penanggulangan bencana, dan upaya pelestarian lingkungan.
Yayasan ini didirikan pada 14 April 1966 oleh Cheng Yen, seorang biarawati Buddha asal Taiwan, sebagai organisasi kemanusiaan Buddha, yang awalnya didanai oleh para ibu rumah tangga. Tzu Chi memperluas layanannya seiring waktu, membuka klinik medis gratis pada 1972 dan membangun rumah sakit pertamanya pada 1986. Organisasi ini mengalami ekspansi pesat pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, bersamaan dengan lonjakan popularitas Buddhisme Humanistik di Taiwan. Pada 1990-an, organisasi ini memulai upaya bantuan bencana internasional yang besar-besaran, termasuk pembangunan rumah baru, sekolah, rumah sakit, dan tempat ibadah.
Saat ini, Tzu Chi memiliki kebijakan sekuler dalam pekerjaan kemanusiaannya, dengan ajaran Buddha diintegrasikan ke dalam praktik-praktik untuk sukarelawannya. Cheng Yen juga dianggap sebagai salah satu dari "Empat Raja Surgawi" dalam Buddhisme Taiwan, dengan Tzu Chi sendiri dianggap sebagai salah satu dari "Empat Gunung Besar" organisasi Buddhis Taiwan, bersama dengan Fo Guang Shan, Dharma Drum Mountain, dan Chung Tai Shan.[3][4][5] Tzu Chi memiliki status konsultatif khusus di Dewan Ekonomi dan Sosial PBB.[6] Tzu Chi juga merupakan ketua bersama Gugus Tugas Antar-lembaga PBB tentang Agama dan Pembangunan Berkelanjutan Dewan Penasihat Multireligius untuk tahun 2022-2023.[7]
Sejarah
Tzu Chi didirikan oleh Master Cheng Yen, seorang biksuni yang melatih diri di Vihara Pu Ming, Hualien. Di vihara kecil ini, Master Cheng Yen beserta para muridnya hidup dengan mengandalkan hasil bercocok tanam, merajut sepatu bayi, ataupun industri rumah tangga dan bertekad tidak menerima sumbangan.
Suatu hari pada tahun 1966, Master Cheng Yen bersama beberapa pengikutnya menjenguk seorang umat yang menjalani operasi akibat pendarahan lambung di sebuah balai pengobatan. Ketika keluar dari kamar pasien, dia melihat bercak darah di lantai, tetapi tidak tampak pasien di sekitar sana. Selanjutnya baru diketahui bahwa darah tersebut berasal dari seorang wanita dari Gunung Fengbin yang mengalami keguguran. Karena tidak mampu membayar uang jaminan sebesar NT$ 8.000, wanita tersebut tidak bisa berobat dan terpaksa dibawa pulang.
Mendengar hal ini, Master Cheng Yen sangat terguncang. Seketika itu dia memutuskan untuk berusaha mengumpulkan dana amal untuk menolong orang dan menyumbangkan seluruh kemampuan dirinya bagi orang yang menderita sakit dan kekurangan di Taiwan bagian timur ini. Karena ada jalinan jodoh, di saat itu kebetulan sekali tiga orang suster Katolik dari Sekolah Menengah Hualien datang berkunjung untuk menemui Master Cheng Yen. Suster bertanya, "Agama Katolik kami telah membangun rumah sakit, mendirikan sekolah, dan mengelola panti jompo untuk membagi kasih sayang kepada semua umat manusia, walaupun Buddha juga menyebut menolong dunia dengan welas asih, tetapi mohon tanya, agama Buddha mempersembahkan apa untuk masyarakat?" Kata-kata ini sangat menyentuh hati Master Cheng Yen. Sebenarnya waktu itu umat Buddha juga menjalankan kebajikan dan beramal, tetapi tanpa mementingkan namanya. Dari situ membuktikan bahwa semua umat Buddha memiliki rasa cinta kasih yang dalam, hanya saja terpencar dan kurang koordinasi serta kurang terkelola. Master Cheng Yen bertekad untuk menghimpun potensi ini dengan diawali dari mengulurkan tangan mendahulukan bantuan kemanusiaan.
Kegiatan kemanusiaan Tzu Chi diawali dari 6 murid Master Cheng Yen yang setiap hari merajut tambahan sepasang sepatu bayi untuk mengumpulkan dana kemanusiaan. Di samping itu, Master Cheng Yen memberi celengan bambu pada 30 ibu rumah tangga yang menjadi pengikutnya. Dia meminta agar setiap hari mereka menghemat 50 sen uang belanja dan memasukkannya ke dalam celengan itu. Dari semua hasil ini, tiap bulan terkumpul NT$ 1.170 untuk membantu kaum miskin. Kabar ini dengan cepat tersebar di Hualien, dan semakin banyak orang yang ingin bergabung. Untuk menghimpun semua kebajikan itu, Badan Bakti Amal Tzu Chi dibentuk pada bulan Mei 1966 dan berpusat di Vihara Pu Ming. Seiring waktu, badan amal ini diubah namanya menjadi Yayasan Kemanusiaan Buddha Tzu Chi.
Pada awal masa pembentukan Yayasan Kemanusiaan Buddha Tzu Chi, Master Cheng Yen bersama para pengikut mengambil tempat sempit yang tidak lebih dari 20 m² di Vihara Pu Ming, sambil berupaya menghasilkan produk untuk mendukung kehidupan, sambil mengurus jalannya organisasi. Pada musim gugur tahun 1967, ibunda Master Cheng Yen membelikannya sebidang tanah yang sekarang dimanfaatkan untuk bangunan Griya Perenungan. Walaupun demikian, Master Cheng Yen beserta para pengikut masih tetap mempertahankan prinsip hidup mandiri. Biaya perluasan seluruh proyek Griya Perenungan, selain mengandalkan pinjaman uang dari bank atas dasar hipotik hak kepemilikan tanah tersebut, juga dari hasil usaha kerajinan tangan. Sampai kini pun, Master Cheng Yen dan para pengikutnya tetap hidup mandiri dengan bercocok tanam ataupun menjalankan industri rumah tangga.
Logo Tzu Chi
Bentuk utama logo Tzu Chi berupa bunga teratai, yang melambangkan bahwa kita dapat menjadikan dunia lebih baik dengan menanam benih kebajikan. Hanya dengan benih, bunga dapat mekar dan berbuah. Sebuah dunia yang lebih baik dapat diciptakan dengan kebajikan dan pikiran yang murni. Perahu melambangkan Tzu Chi mengemudikan sebuah perahu cinta kasih untuk menyelamatkan semua makhluk hidup dari penderitaan. Delapan kelopak melambangkan Delapan Ruas Jalan Mulia yang menjadi panduan bagi anggota Tzu Chi dalam melangkah.
Tidak berjudi dan mencari keuntungan (termasuk saham)
Menjaga tata krama dan menghormati semua orang (termasuk berbakti orang tua)
Mematuhi tata tertib lalu lintas
Tidak terlibat ideologi politik dan ajaran agama sesat yang didukung/ditolak
Cheng Yen mengembangkan aturan-aturan ini berdasarkan kebutuhan baru masyarakat modern.
Tzu Chi di Indonesia
Benih Tzu Chi masuk ke Indonesia pada tahun 1993, ketika Liang Cheung, seorang relawan Tzu Chi yang berasal Taiwan, datang ke Indonesia mendampingi suaminya. Di sini ia berkenalan dengan sesama istri dari pengusaha Taiwan, Liang Cheung kemudian mengajak mereka berpartisipasi menjadi donatur Tzu Chi. Lama-kelamaan, setelah mengamati penderitaan masyarakat di sekitarnya, para ibu rumah tangga ini berpikir, "Mengapa kita tidak melakukan kegiatan sosial di sini, di Indonesia?"
Pada tahun 1994, para ibu ini berkunjung ke Hualien, Taiwan untuk menemui Master Cheng Yen. Di sana mereka memohon restu untuk mendirikan Tzu Chi di Indonesia. Saat itu Master Cheng Yen berpesan, "Bagi yang mencari nafkah di negeri orang, harus memanfaatkan potensi setempat, dan berkontribusi bagi penduduk setempat." Demikianlah para istri ekspatriat Taiwan ini membuka lahan cinta kasih di Indonesia. Tanggal 28 November1994 kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Tzu Chi Indonesia.
Hingga kini, meski menggunakan ajaran Buddha sebagai dasar, tetapi para donatur dan relawan Tzu Chi berasal dari berbagai agama. Begitu pun dalam setiap kegiatannya, tidak pernah memandang suku, agama, dan golongan.
↑"財團法人中華民國佛教慈濟慈善事業基金會財務報告暨會計師查核報告"[Financial report and accountant audit report of the Buddhist Tzu Chi Charity Foundation of the Republic of China](PDF). 2023-05-17. hlm.92. Diakses tanggal 2025-01-19.
↑Shuai, J. J.; Chen, H. C.; Chang, C. H. (1 December 2010). "Visualization of the Taiwaness Buddhism web based on social network analysis". 2010 International Computer Symposium (ICS2010). hlm.187–191. doi:10.1109/COMPSYM.2010.5685523. ISBN978-1-4244-7639-8. S2CID18858823.