Pada mulanya, kesenian ini hanya dipentaskan di lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, khususnya untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad. Di lingkungan keraton, pembacaan sholawat memiliki kedudukan penting sebagai bentuk penghormatan religius sekaligus legitimasi spiritual bagi sultan sebagai pelindung agama Islam di wilayahnya. Sholawat Montro difungsikan sebagai medium ritual sekaligus hiburan sakral, diiringi dengan musik tradisional yang memperkuat suasana perayaan Maulid.[1]
Seiring waktu, terutama setelah pertengahan abad ke-20, Sholawat Montro tidak lagi terbatas pada kalangan keraton. Masyarakat di sekitar Kauman dan wilayah Pleret mulai mengadopsinya sebagai bagian dari tradisi keagamaan lokal. Perubahan ini menandai pergeseran status Montro dari kesenian eksklusif keraton menjadi kesenian rakyat yang lebih terbuka. Melalui proses tersebut, Montro juga berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan sosial antara masyarakat dan keraton, sekaligus memperkuat identitas Islam di kalangan rakyat.
Perkembangan
Sampai saat ini kesenian ini masih ada dan berkembang di daerah Kauman, Pleret, Kabupaten Bantul. Ada 2 generasi montro yaitu generasi tua (orang-orang dewasa/tua) dan generasi muda (anak-anak). Kesenian ini sering ditampilkan setiap ada event kebudayaan di Yogyakarta sebagai iconKabupaten Bantul. Dan dengan kepemimpinan seorang Maestro kesenian Montro, yaitu H. Suratijan, kesenian ini masih bertahan sampai sekarang dan berkembang menjadi 2 versi, yaitu versi lama dan kreasi baru.[2]
Urutan & Jumlah Penari Kesenian Montro
Kesenian ini diawali dengan pembacaan kandha, yaitu semacam salam pembuka kepada pemirsa yang disampaikan oleh seorang dalang. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pembacaan lagu shalawatan dalam bahasa Arab yang dilafalkan seperti bahasa Jawa. Pembacaan syair shalawatan ini dinyanyikan dengan diiringi musik dan tarian. Alat musik yang digunakan ialah beberapa rebana dalam berbagai ukuran dengan fungsi nada masing-masing (ada yang berfungsi sebagai kendang, gong, kempul, dan lain-lain). Sementara itu, tarian yang mengiringi dilakukan dengan duduk dan berdiri, sambil sedikit jalan. Pertunjukan kesenian ini dipimpin seorang dalang dan diiringi para vokal dan penabuh yang duduk disekitar dalang. Para penari biasanya dilakukan 8-10 orang melakukan tarian dan terkadang juga melakukan sautan secara serempak.
Kemiripan Seni
Artikel ini berisi tentang the musical/ritual dances of Nusantara. Untuk the Sholawat Montro tradition, lihat Sholawat Montro.
Tarian zikir dan sholawat Nusantara adalah kumpulan tradisi pertunjukan yang menggabungkan unsur religius (zikir, sholawat) dengan elemen musikal dan gerak tari. Berikut adalah ringkasan beberapa tarian yang sering dibandingkan dengan Sholawat Montro
Beberapa bentuk tradisi tari/ritual yang serupa meliputi: Tari Rodat, Zapin (Zafin), Samrah, dan Hadrah Kuntulan. Mereka memiliki persamaan fungsi sebagai sarana pujian/pujian kepada Nabi Muhammad, penggunaan instrumen tradisional (rebana, gambus), dan karakter sosial-religius (hiburan sakral / syiar).
Tari Rodat berasal dari kawasan pesisir seperti Aceh, pesisir Sumatra, dan sampai adaptasi di beberapa daerah Jawa. Akar tradisi berkaitan dengan zikir dan pembacaan sholawat
Tari Zapin (juga disebut Zafin di beberapa sumber) adalah bentuk tari Melayu yang dibawa dan dipopulerkan oleh pengaruh ulama Hadhrami/Arab di kawasan Melayu. Biasanya diiringi gambus dan syair-syair religi.
Samrah di Betawi dan pesisir Jawa merujuk pada sajian musik-ritual yang memuat syair Arab, doa, dan unsur tari pergaulan. Biasanya menonjolkan rebana dan vokal kelompok.
Hadrah Kuntulan adalah varian hadrah di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang memadukan pembacaan pujian, ritme hadrah, dan kadang gerak silat-tari.
Secara esensial, semua bentuk di atas berkongsi unsur:
Pembacaan sholawat/zikir sebagai inti religi.
Kombinasi musik tradisional (rebana, gambus, gamelan) dengan gerak tubuh.