Rebana (bahasa Jawa: terbang) adalah alat musik tradisional berbentuk bundar dan pipih yang saat ini merupakan khas penganut agama Islam.[1][2]
Sejarah
Rebana berasal dari kesenian masyarakat Melayu yang dimainkan oleh seluruh masyarakat Melayu baik itu di Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei, dan Thailand.[3] Kesenian di Malaysia, Brunei, Indonesia dan Singapura sering memakai rebana bersama gambus digunakan untuk mengiringi tarian zapin.[4]
Rebana berasal dari akulturasi budaya Timur Tengah. Instrumen ini berkembang sejak abad ke-13.[5] Kata rebana diyakini berasal dari istilah Arab arbaa yang berarti “empat”. Angka empat dalam hal ini dipandang sebagai simbol prinsip dasar dalam ajaran Islam, yakni kewajiban seorang muslim terhadap Allah, sesama manusia, alam, serta dirinya sendiri. Kehadiran Islam di Nusantara, yang dimulai sekitar abad ke-7 melalui para pedagang Arab, turut membawa pengaruh besar terhadap budaya lokal, termasuk atas kehadiran alat musik rebana.[6] Asal mula dikenalnya instrumen ini oleh masyarakat Betawi berkaitan dengan masuknya masa pemerintahan Sultan Agung dari Kerajaan Mataram.[5]
Bahan
Pembuatan instrumen ini menggunakan bahan utama berupa kayu nangka atau kayu kelapa, kulit kambing, rotan, dan kawat. Pada instrumen ini, badan rebana dan penampang kulit disatukan dengan pengikat dari rotan.[6] Untuk penyetelan nada, rotan utuh atau berbentuk bulat dimasukkan ke dalam rongga di antara kulit kambing dan kayu kelapa. Di Lombok, pengencangan dilakukan dengan tali kawat sebagai pengikat tambahan. Awalnya, rebana ini tidak memiliki dekorasi. Namun, seiring perkembangannya, instrumen ini mulai diberi dekorasi dan dicat dengan warna-warna seperti coklat, kuning, merah, atau biru.[7]
Struktur
Struktur rebana memiliki istilah khusus dalam bahasa Lombok, badan kayu disebut batang rebana, rotan pengencang yang ditempatkan dalam rongga dinamakan sidaq, lingkaran bawah dikenal sebagai lengkeh, dan paku yang dipasang pada lengkeh untuk menguatkan tali disebut pasek.[7]
Rebana memiliki bingkai berbentuk lingkaran terbuat dari kayu yang dibubut, dengan salah satu sisi untuk ditepuk berlapis kulit kambing.[10] Dalam variasi lainnya, rebana di Sumatera Barat juga menggunakan bahan dasar dari kayu nangka, kulit biawak bambu atau paku rabano sebagai penahan kulit dan giring-giring dari tembaga.[15] Produsen rebana terbesar berada di Gresik, Ponorogo dan Jepara yang sering memasok kebutuhan Rebana ke Malaysia maupun Brunei Darussalam.[16]
Bagi masyarakat Melayu di negeri Pahang, permainan rebana sangat populer, terutamanya di kalangan penduduk di sekitar Sungai Pahang. Tepukan rebana menjadi iringan dalam lagu-lagu tradisional seperti indong-indong, burung kenek-kenek, dan pelanduk-pelanduk. Di Malaysia, selain rebana berukuran biasa, terdapat juga rebana besar yang diberi nama Rebana Ubi. Jenis rebana ini dimainkan pada hari-hari raya untuk mempertandingkan bunyi dan irama.[17]
Penyajian
Instrumen ini umumnya dimainkan oleh laki-laki sambil melantunkan syair berisi pujian kepada Allah, kisah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, maupun nasihat keagamaan. Namun, di sejumlah majelis taklim, perempuan juga turut memainkan rebana.[6]
Kegunaan
Di daerah Lombok, instrumen ini dimainkan dalam orkestra pengiring tarian rudat.[7] Di daerah Sumbawa, masyarakat menggunakan alat musik ini dalam acara adat seperti pernikahan, Barodak Pangantan, Nyorong, Sakeco, Bakelong, Ratib Rabana Ode maupun peringatan hari raya Islam.[6] Rebana juga digunakan untuk melantunkan kasidah dan hadroh.[18][19] Di Bumiayu, rebana juga dijadikan sebagai lambang kota tersebut, sedangkan di Kalimantan terdapat jenis rebana yang disebut Al Banjari.[20]
↑Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 56
12Dewi, Ni Luh Putu Chandra; Estudiantin, Nusi Lisabilla; Yogaswara, Wawan; Yulita, Ita; Moerdianti, Retno (2008). Informasi Koleksi Musik Tradisional Indonesia(PDF). Jakarta: Museum Nasional. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)