Tari Torompio (bahasa Inggris:Torompio dancecode: en is deprecated ), adalah sebuah tarian tradisional yang berasal dari dan dilestarikan oleh masyarakat suku Pamona, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Kata Torompio dalam bahasa Pamona berarti "Angin Berputar", di mana kata ini terdiri dari dua kata, yaitu "Toro" artinya putar, "Pio" artinya angin. Torompio menjadi lambang bagi para remaja yang sedang dimabuk asmara.[1]
Sejarah
Tari Torompio bermula pada masa penjajahan Jepang di Indonesia terutama di Tanah Poso pada saat pembukaan jalan Takolekaju. Tarian ini diyakini berasal dari Pamona Timur tepatnya di Desa Taripa. Pada tahun 1943 atas jasa Almarhum Bapak T. Lanipa yang ketika itu sebagai guru di Taripa, tarian ini menjadi populer. Mulai saat itulah tarian ini dikembangkan dan dilestarikan oleh masyarakat Pamona di seluruh Tanah Poso dan seluruh Indonesia, sehingga identik dengan tarian dari Poso/Pamona.[2]
Perlengkapan
Layaknya sebuah tarian, Torompio dalam pelaksanaannya didukung oleh alat musik, busana, dan syair lagu.[3]
Oleh karena tarian ini dimainkan oleh pria dan wanita, maka dalam hal busana dibedakan antara pakaian pria dan pakaian wanita.
Busana Pria: baju banjara, salana, siga dan salempa;
Busana Wanita: lemba, topi mombulu, tali bonto dan kamagi.
Syair lagu
Dalam tiap syair lagu yang dinyanyikan oleh para penari, menggambarkan isi hati dari para muda-mudi yang dimabuk asmara. Berikut beberapa penggal syair lagu dari tari Torompio:[4]
Pria dan Wanita:
Mosipanca siko a'i Pampogonggamu kamagi Siolo kita mawani Dantambawe sari