Sejarah dan perkembangan
Merupakan jenis tari kreasi yang lebih baru, Janger diadaptasikan dari aktivitas para petani yang menghibur diri karena lelah bekerja.[4] Lirik lagunya diadaptasikan dari nyanyian Sanghyang, sebuah tarian ritual.[3] Jika dikategorikan dalam Tari Bali, Janger termasuk Tari Balih-balihan, tarian yang memeriahkan upacara maupun untuk hiburan.[4]
Karena populernya, pada tahun 1960-an, Janger mulai dipentaskan dalam kegiatan berbagai partai politik, tak terkecuali PKI.[4] Kelompok-kelompok tari Janger mendukung kampanye pemutusan hubungan RI dengan Malaysia pada tahun 1963.[4] Presiden Soekarno memberi banyak perhatian kepada tari ini, salah satunya dengan membawa penari-penari Janger pentas di Istana Tampaksiring.[4] Setelah peristiwa G30S/PKI terjadi, banyak seniman janger yang dianggap berpihak kepada PKI dibunuh dan dikucilkan.[4] Masa ini merupakan periode kejatuhan Tari Janger.[4] Baru pada tahun 1970-an, popularitasnya kembali naik.[4]
Pada perkembangannya, kini Janger juga dapat dibawakan oleh orang dewasa.[4] Terdapat kelompok-kelompok tari yang anggotanya wanita dewasa yang berperan sebagai janger maupun kecak.[4] Janger juga dibawakan dalam bentuk drama tari yang disebut Janger Berkisah.[4] Kisah-kisah yang dimainkan antara lain Arjuna Wiwaha, Sunda Upasunda dan sebagainya.[3]
Selama puluhan tahun, Janger telah diajarkan kepada para pemuda pemudi di Bali.[1] Lama kelamaan, tari ini menjadi ajang kenalan pemuda antar desa satu dengan desa lain.[1] Karena berkembang di masing-masing komunitas, muncul varian yang dibumbui dengan gaya tersendiri.[3]
Pemerintah daerah Bali ikut mempopulerkan Janger sebagai tari pembuka pada macam-macam kegiatan dan acara, misalnya program Keluarga Berencana, pemilihan umum, kesehatan untuk lansia,[5] sampai kampanye anti narkoba.[1]
Selain dari gerak tarian, lagu Janger kemungkinan lebih populer di luar Bali. Lagu Janger banyak dikenal karena sering dinyanyikan oleh tim Indonesia dalam kejuaraan paduan suara internasional.[6]