Mengembalikan kesadaran medium dan melepas roh yang memasuki dirinya untuk kembali ke asalnya.[2]
Jenis-jenis Sanghyang
Sanghyang Dedari
Sanghyang Dedari ditarikan oleh remaja atau gadis perawan yang dianggap masih bersih.[3]Upacara dimulai di pura, dengan prosesi berjalan ke tempat acara berlangsung.[3]Penari berdiri diiringi nyanyian anak laki-laki, lalu menarikan tarian yang serupa Legong, tetapi dalam versi mistik.[3] Meskipun mata mereka ditutup, mereka menari bersama dalam gerakan yang sinkron dan indah.[3]
Ketika nyanyian berhenti, para penari yang tak sadarkan diri melompat ke tanah.[3] Seorang pemangku menyadarkan mereka dengan mengucapkan doa dan percikkan air suci.[3] Setelah sadar, mereka merasakan kelelahan tetapi tidak menyadari telah banyak bergerak dan menari.[3]
Tarian ini dipentaskan ketika dewa-dewa yang turun untuk sementara ke alam manusia, menyatakan diri melalui penari yang kesurupan.[3] Kata Sanghyang bermakna dewata sementara kata Dedari itu berarti bidadari.[3]
Tari Sanghyang Bojog ditarikan oleh seorang pria dengan busana seperti seekor kera.[4] Sebelumnya dilakukan upacara pemanggilan rohkera, setelah penari kemasukan roh maka penari tersebut akan melompat-lompat di atas pohon menirukan gerak-gerik kera, kadang-kadang gerakanya sulit untuk ditirukan oleh manusia.[4] Tarian Sanghyang Bojog ini ada di Kabupaten Karangasem.[4]
Tari Sanghyang Sampat terjadi karena penarinya yang seorang gadis kemasukan roh halus dengan perantarasapu lidi (sampat) yang digerak-gerakkan secara bebas kekiri dan kekanan. Ada pula tarian sejenis yang perantaranya sepotong bambu maka disebut Tari Sanghyang Bumbung.[5]