Sejarah
Tari Giring-giring merupakan tradisi masyarakat Dayak Ma’anyan di Kalimantan Tengah yang telah berkembang sekitar tahun 525 di wilayah Paju Ampal, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur.[3]
Asal-usul tari Giring-giring berkaitan dengan kisah perjuangan suku Dayak melawan penjajah. Mereka menggunakan talawang sebagai pelindung tubuh, lunju untuk menusuk musuh dari jarak tertentu, dan mandau yang selalu dibawa di pinggang untuk menebas lawan saat terdesak. Setelah pertempuran usai, para pejuang disambut dengan tarian yang juga tetap menggunakan talawang dan lunju.[3]
Penyebaran tari ini kemudian meluas ke Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, dengan variasi gerak, musik, dan bentuk properti. Namun, gerakan dasar tetap berlandaskan manasari sebagai gerak pergaulan khas masyarakat Dayak.[3]
Komponen tari
Busana
Tari ganggereng ditampilkan oleh penari pria maupun wanita. Penari pria mengenakan rompi dari kulit kayu nyamu (upak nyamu) sebagai atasan, serta celana sepanjang tiga perempat kaki dari bahan kain biasa. Sementara itu, penari wanita mengenakan atasan berlengan pendek berbentuk kurung, dipadukan dengan bawahan berupa rok span atau rok pendek sepanjang lima jari di bawah lutut.[3]
Seiring perkembangannya, bahan pembuatan busana tari dimodifikasi karena semakin sulit diperoleh. Bahannya diganti dengan kain seperti beludru, satin, atau antung. Bentuk dan model busana menyesuaikan kebutuhan koreografi, meskipun pola dasarnya dan warnanya masih mengikuti kostum tradisional yang dicirikan dengan warna merah, hijau, kuning, putih, dan hitam.[3]
Aksesoris
Penari wanita menggunakan hiasan berupa lawung atau ikat kepala dengan warna bebas, seperti merah, hijau, kuning, atau cokelat. Penari pria menggunakan hiasan berupa ikat kepala dan gelang kaki. Ikat kepala yang digunakan umumnya dari variasi warna merah seperti merah marun, merah tua, atau merah bata. Adapun gelang kaki yang digunakan disebut juga sebagai garanuhing pai.[3]
Instrumen tari
Pertunjukan tari ini menggunakan tongkat-giring-giring bambu berisi biji-bijian yang juga disebut sebagai ganggereng oleh masyarakat Kalimantan Tengah yang berkaitan dengan nama tari ini.[2][4] Masyarakat Suku Ma'anyan menyebut menari giring-giring dengan sebutan nampak, yang berarti mengentakkan tongkat dan gerakan kaki dientak pada lantai sesuai dengan alunan irama kangkanong. Giring-giring terbuat dari bambu tipis (telang) yg diisi dengan biji "piding" sehingga menghasilkan suara yang ritmis dengan alunan kangkanong (gamelan) oleh penarinya. Bagian bawah dan alasnya diperkuat dengan kayu ringan, sementara bagian tengah bambu dilubangi dengan panjang kurang lebih 120 cm.[3]
Dalam tarian ini terdapat dua macam tongkat, yaitu tongkat panjang dan tongkat pendek. Tongkat panjang dipegang tangan kiri dan digunakan untuk menghentakkan ke lantai. Sedangkan tongkat pendek dipegang tangan kanan dan dimainkan dengan cara diayunkan, sehingga menghasilkan suara yang unik apabila dipadukan dengan suara hentakan tongkat panjang.[1]
Instrumen ini terbuat dari papan berbentuk seperti replika senjata tradisional, bambu runcing dan talawang. Pada bagian tengah belakang terdapat pegangan untuk memudahkan tangan dalam mengendalikan gantar.[3]
Selain menggunakan tongkat giring-giring, tarian ini diiringi dengan alat musik tradisional sejenis saron, gendang, gong, dan kangkanung.[3]