Museum Bank Indonesia dapat dikunjungi tiap hari Selasa hingga Minggu. Sejak 1 Juni 2015, kunjugan dapat dilakukan dengan membayar tiket masuk, tetapi pengunjung dengan ketentuan tertentu dapat masuk secara gratis. Lokasi Museum Bank Indonesia dapat dicapai dari Bandar Udara Soekarno-Hatta, Bandar Udara Halim Perdana Kusuma, atau dari Terminal Rawamangun dengan jarak tempuh sejauh 20 km.[6]
Museum Bank Indonesia telah mengadakan kerja sama dengan Komunitas Historia Indonesia dalam hal peningkatan potensi sejarah dan budaya bangsa Indonesia dalam bidang sejarah, pendidikan, pariwisata dan permuseuman. Pada tahun 2020, Museum Bank Indonesia menerima penghargaan dalam Indonesia Museum Awards 2020 dengan predikat Museum Bersahabat atas prestasinya dalam pengadaan kunjungan virtual selama masa Pandemi Covid-19 di Indonesia tahun 2020.
Sejarah
De Javasche Bank didirikan pada tahun 1828 sebagai bank sirkulasi di Hindia Belanda yang bertugas menerbitkan mata uang gulden Hindia Belanda. Gedung bank ini dibangun di atas lahan bekas Rumah Sakit Dalam Batavia (Binnenhospital), yang didirikan pada awal abad ke-18 dan ditinggalkan pada tahun 1780 setelah rumah sakit pusat dipindahkan ke Weltevreden. Pada tahun 1801, bangunan tersebut dijual kepada perusahaan dagang Mac Quoid Davidson & Co., sebelum akhirnya dibeli oleh De Javasche Bank pada tahun 1831.[7]
Bangunan rumah sakit lama kemudian dibongkar pada awal abad ke-20 dan digantikan oleh gedung baru yang dirancang oleh Eduard Cuypers. Arsitek asal Belanda yang dikenal karena menggabungkan unsur-unsur arsitektur Indonesia ke dalam desain bangunannya. Fasad depan gedung bergaya Neo-Renaisans dengan hiasan ornamen Jawa selesai dibangun pada tahun 1913. Bagian halaman tengah kemudian diperluas dan diubah bentuknya antara tahun 1924 hingga 1928.[8] Pada tahun 1936, bagian depan gedung kembali diperbarui oleh biro arsitektur Fermont-Cuypers, penerus kantor arsitektur Eduard Cuypers.[9]
Bank ini tetap berfungsi sebagai bank sentral Indonesia selama masa pendudukan Jepang pada tahun 1942 dan setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Uang kertas rupiah pertama dicetak pada tahun 1944 di bawah pengawasan Jepang sebagai bagian dari upaya membangun identitas nasional Indonesia. Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1950, pemerintah Indonesia masih mempertahankan De Javasche Bank sebagai bank sentral. Namun, meningkatnya ketegangan politik antara Indonesia dan Belanda menyebabkan bank tersebut dinasionalisasi dan berubah menjadi Bank Indonesia pada tahun 1953.[10]
Pada tahun 1962, kantor pusat baru bank sentral selesai dibangun sehingga gedung lama mulai tidak digunakan dan mengalami kerusakan. Bangunan tersebut kemudian dipugar dan dijadikan museum pada tahun 2006, lalu diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 21 Juli 2009.[11]
Pendirian dan peresmian
Keputusan pendirian Museum Bank Indonesia ditetapkan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia.[12] Museum Bank Indonesia didirikan pada gedung Bank Indonesia Kota yang dimiliki oleh Bank Indonesia. Tujuan pendiriannya untuk mengenalkan peran Bank Indonesia dalam sejarah bangsa Indonesia terutama mengenai kebijakan-kebijakan Bank Indonesia dari masa ke masa. Pendirian Museum Bank Indonesia di gedung Bank Indonesia Kota juga berkaitan dengan rencana revitalisasi gedung-gedung bersejarah di kawasan Kota Tua Jakarta. Revitalisasi ini merupakan bagian dari pengembangan Kota Tua Jakarta yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.[13][14]
Museum Bank Indonesia merupakan salah satu museum sejarah dan budaya yang didirikan di Kota Tua Jakarta. Bangunan yang digunakan oleh Museum Bank Indonesia merupakan salah satu bekas gedung peninggalan Belanda yang dibangun masa pemerintahan Perusahaan Hindia Timur Belanda di Batavia.[19] Pembangunan gedung selesai pada tahun 1828 dan digunakan sebagai gedung De Javasche Bank sebelum diubah fungsinya menjadi museum.[20] Gedung De Javasche Bank sebelum menjadi museum dimanfaatkan oleh Bank Indonesia sebagai gedung Bank Indonesia Kota dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Indonesia.[12]
Penyajian koleksi
Halaman dalam Museum Bank Indonesia
Koleksi di Museum Bank Indonesia disajikan menggunakan multimedia seperti layar elektronik, panel statis, televisi plasma dan diorama. Informasi yang diperoleh berupa peran Bank Indonesia dalam sejarah bangsa Indonesia sejak didirikan pada tahun 1953. Selain itu, terdapat informasi mengenai kebijakan-kebijakan yang pernah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Informasi ini berisi latar belakang dan dampak dari kebijakan Bank Indonesia hingga tahun 2005.[21]
Koleksi berbentuk benda yang dimiliki oleh Museum Bank Indonesia ialah koleksi numismatika.[22] Museum Bank Indonesia mengoleksi mata uang dalam bentuk uang logam dan uang kertas.[23] Koleksi numismatika yang dimiliki oleh Museum Bank Indonesia ada yang berasal dari masa kerajaan-kerajaan di Nusantara.[22]
Kunjungan
Museum Bank Indonesia dibuka untuk kunjungan tiap hari Selasa hingga Minggu. Pada hari Senin dan hari libur nasional, Museum Bank Indonesia ditutup.[23] Museum Bank Indonesia mulai dibuka pukul 08.00–16.30 WIB pada hari Selasa hingga Kamis. Pada hari Jumat, Museum Bank Indonesia mulai dibuka pukul 08.30–11.00 WIB. Sedangkan pada hari Sabtu hingga Minggu, Museum Bank Indonesia mulai dibuka pukul 09.00–16.00 WIB.[22]
Sejak 1 Juni 2015, pengunjung dapat memasuki Museum Bank Indonesia dengan membeli tiket masuk seharga Rp. 5.000. Namun pengunjung dengan ketentuan khusus dapat memasuki museum secara gratis. Penggratisan berlaku bagi anak-anak hingga usia 3 tahun atau bagi rombongan yang telah mendaftar dan mengonfirmasi ke Museum Bank Indonesia. Pelajar dan mahasiswa juga diberi penggratisan tiket masuk jika mampu menunjukkan kepemilikan kartu pelajar atau kartu mahasiswa.[22]
Pada masa Pandemi Covid-19 di Indonesia, Museum Bank Indonesia memberikan layanan kunjungan virtual bagi pengunjung. Layanan yang diberikan berupa pemberian pelajaran dan pemahaman mengenai perkembangan Bank Indonesia dari masa ke masa melalui kunjungan virtual. Pada tahun 2020, jumlah kunjungan ke Museum Bank Indonesia sebanyak 53.156 kunjungan. Sebesar 8,3% dari jumlah kunjungan tersebut merupakan kunjungan virtual.[24]
Kerja sama
Museum Bank Indonesia merupakan salah satu museum yang telah mengadakan kerja sama dengan Komunitas Historia Indonesia. Kerja sama ini dalam hubungan peningkatan potensi sejarah dan budaya bangsa Indonesia dalam bidang sejarah, pendidikan, pariwisata dan permuseuman.[25]
Penghargaan
Pada tahun 2020, Museum Bank Indonesia menerima penghargaan Indonesia Museum Awards 2020 dengan predikat Museum Bersahabat. Penghargaan ini diperoleh Museum Bank Indonesia karena pengadaan kunjungan virtual bagi pengunjungnya selama masa Pandemi Covid-19 di Indonesia tahun 2020.[24]
↑Norbruis, Obbe (2020). Landmarks from a bygone era: life and work of Ed. Cuypers & Hulswit-Fermont in the Indonesian archipelago 1897-1927. Volendam: LM Publishers. ISBN978-94-6022-012-8.
↑Norbruis, Obbe (2020). Architecture from the Indonesian past: life and work of Fermont-Cuypers in the Indonesian archipelago 1927-1957. Volendam: LM Publishers. ISBN978-94-6022-015-9.
↑"Museum Bank Indonesia". Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta. 2010. Diakses tanggal 2026-05-24.
↑Anugrah, D. F., dkk. (November 2022). Anugrah, D. F., dan Riadi, D. (ed.). Pariwisata dan Narasi Kota Tua(PDF). Jakarta: Bank Indonesia Institute. hlm.22–23. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)