Ghana dan Malaysia sama-sama memperoleh kemerdekaan dari Britania Raya pada tahun 1957, Ghana pada tanggal 6 Maret dan Malaysia pada tanggal 31 Agustus. Pada saat itu, perekonomian mereka berada pada tingkat pembangunan yang sama. Namun, pada tahun 1965, PDB per kapita Malaysia telah melampaui Ghana, menandai dimulainya divergensi ekonomi yang signifikan.[3] Selama tahun-tahun awal, kedua negara memiliki PDB dan struktur ekonomi yang sebanding, bergantung pada ekspor primer—Malaysia pada timah dan karet, Ghana pada kakao, emas, dan kayu. Meskipun memiliki kesamaan pada awalnya, lintasan ekonomi mereka berbeda, sebagian karena stabilitas politik Malaysia yang konsisten dibandingkan dengan sejarah kudeta dan ketidakstabilan Ghana.[3]
Hubungan ekonomi
Pada tahun 1957, PDB riil Malaysia mencapai $18,8 miliar, sedikit di atas PDB Ghana yang mencapai $16 miliar, tetapi PDB per kapita Ghana awalnya lebih tinggi. Pada tahun 2017, PDB per kapita Malaysia telah tumbuh hampir tujuh kali lipat PDB Ghana. Faktor-faktor seperti kebijakan ekonomi, industrialisasi, dan pengendalian populasi berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Malaysia yang lebih cepat. Antara tahun 1957 dan 2017, ekonomi Malaysia tumbuh rata-rata 6,37% per tahun, sementara ekonomi Ghana tumbuh sebesar 3,99%.[3]
Pada tahun 2016, Ghana merupakan salah satu mitra dagang utama Malaysia di Afrika, dengan nilai perdagangan bilateral mencapai $337 juta. Malaysia berkolaborasi dengan lembaga-lembaga Ghana seperti Pusat Promosi Investasi Ghana (GIPC) untuk meningkatkan investasi, dan bisnis-bisnis Ghana didorong untuk menjajaki peluang di Malaysia.[4][5]
Pada bulan Oktober 2023, Forum Perdagangan Malaysia-Ghana di Kuala Lumpur menghasilkan Nota Kesepahaman (MoU) antara Kamar Dagang dan Industri Internasional Malaysia (MICCI) dan Pusat Promosi Investasi Ghana untuk meningkatkan investasi di sektor pariwisata, TIK, dan kesehatan.[6]
Pada bulan Juni 2024, Dewan Produksi Kelapa Sawit Malaysia mengunjungi Ghana dan mengundangnya untuk bergabung dalam jaringan guna meningkatkan sektor kelapa sawitnya. Dalam pertemuan para pemangku kepentingan di Accra, Asosiasi Minyak Sawit Malaysia berjanji mendukung ambisi Ghana untuk menjadi produsen minyak sawit terkemuka di Afrika. Diskusi berfokus pada kemajuan teknologi, keberlanjutan, dan daya saing pasar, khususnya di dalam Kawasan Perdagangan Bebas Benua Afrika.[7]
Komisariat Tinggi Malaysia di Ghana mempromosikan kerja sama budaya, terutama di bidang musik dan seni. Diplomat Farhan Areffin memuji kuliner Ghana dan menyoroti potensi musik Ghana di pasar global.[4] Di bawah Program Kerja Sama Teknis Malaysia (MTCP), Malaysia menyediakan pelatihan dan beasiswa bagi warga Ghana, yang memperkuat pengembangan sumber daya manusia Ghana. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya kerja sama Selatan-Selatan yang lebih luas.[4]
Pada tahun 2020, penduduk Malaysia sebagian besar terdiri dari orang Melayu (lebih dari 50%), Tionghoa (22%), dan India (6,7%), sementara kelompok etnis terbesar di Ghana adalah Akan (47,5%), Mole-Dagbon (16,6%), dan Ewe (13,9%). Agama memainkan peran kunci di kedua masyarakat; Malaysia mayoritas Muslim (61%) sementara Ghana mayoritas Kristen (71,2%).[3]
Malaysia telah berupaya memposisikan Ghana sebagai pusat esports di Afrika, memanfaatkan keahliannya di industri digital.[6]Industri halal telah muncul sebagai sektor potensial untuk kolaborasi, dengan permintaan yang meningkat karena populasi Muslim Ghana yang terus bertambah. Perbankan syariah juga sedang dieksplorasi, dengan Bank of Ghana mempelajari sistem Malaysia.[5]