Dīpankara (Sanskerta dan PaliDīpaṃkara, "Pembawa Cahaya"; Bengali: দীপঙ্কর; Tionghoa燃燈佛code: zh is deprecated (pinyin Rándēng Fo); Tibetan མར་མེ་མཛད། mar me mdzad; MongoliaJula-yin Jokiyaγči, Dibangkara, Bahasa Nepal: दिपंखा Dīpankha, VietnamNhiên Đăng Phật) adalah salah satu dari dua puluhtujuh Buddha masa lampau, yang dikatakan hidup di Bumi empat asankheyya dan seratus ribu kalpa yang lalu.[1] Usia kehidupannya digambarkan mencapai 100.000 tahun, di mana ia membimbing tak terhitung banyaknya makhluk menuju pembebasan di bawah pohon Pipphala.[2]
Secara umum, umat Buddha percaya bahwa telah terjadi suksesi banyak Buddha pada masa lampau dan akan ada lebih banyak lagi Buddha pada masa depan. Dipankara adalah salah satu dari Buddha terdahulu, dan Siddharta Gautama adalah Buddha tercerahkan terakhir yang ada di bumi, sementara Maitreya yang saat ini masih Bodhisatwa baru akan menjadi Buddha berikutnya jauh pada masa depan.[3]
Sebagai lambang kebijaksanaan yang menerangi ketidaktahuan, Dipankara muncul dalam ikonografi kuno, misalnya pahatan Dinasti Wei Utara yang menekankan potensi pencerahan di masa depan. Hingga kini ia tetap dihormati di berbagai vihara Asia sebagai perwujudan Dharma yang abadi.[4] Walaupun tidak memiliki bukti sejarah empiris, kisah-kisah dari kanon Pali dan Sanskerta ini menjadi bagian penting dari soteriologi Buddhis, yang lebih menekankan transmisi ajaran daripada kronologi yang dapat diverifikasi.[5]
Dīpankara secara umum digambarkan sebagai seorang Buddha yang sedang duduk, namun penggambarannya sebagai seorang Buddha yang sedang berdiri umum di Tiongkok, Thailand, dan Nepal; dengan tangan kanannya yang secara umum membentuk mudra perlindungan (abhaya mudra), dan sering kali ia membentuknya dengan kedua tangannya.
Dīpankara sering kali digambarkan sendirian; salah satunya Patung Buddha Bamiyan, yang dihancurkan oleh pemerintahan Taliban di Afghanistan pada 2001, yang dikatakan dibuat untuk menggambarkan Dīpankara. Patung-patung Dīpankara juga dapat ditemukan di Gua Longmen dan Gua Yungang di Tiongkok.
Ia secara umum digambarkan bersama dengan dua Bodhisatwa, Manjushri dan Vajrapani (umum di Jawa) atau Avalokiteshvara dan Vajrapani (umum di Sri Lanka); atau dengan Buddha-Buddha yang datang setelahnya, Gautama dan Maitreya.
Riwayat hidup
Menurut Buddhavamsa, sebuah teks kanonik berbahasa Pali dalam tradisi Buddhisme Theravada, Dipankara dilahirkan di kota Rammavati sebagai putra Raja Sudeva dan Ratu Sumedha.[6][7] Sebagai calon Buddha, ia dibesarkan dalam kemegahan istana, mencerminkan pola kehidupan awal bodhisatwa yang ditakdirkan mencapai pencerahan—ditandai dengan pendidikan kerajaan, pelatihan pemerintahan, serta keterlibatan dalam urusan istana.[7]
Pada masa mudanya, Pangeran Dipankara menikahi Putri Paduma dan memiliki seorang putra bernama Usabhakkhanda. Ia membangun kehidupan keluarga sambil tetap menjalankan tugas sebagai putra mahkota.[7] Masa stabilitas domestik dan kelimpahan materi ini berlangsung hingga ia melihat kenyataan penting mengenai penderitaan manusia: melihat orang tua renta, seorang yang sakit, jenazah, dan seorang pertapa pengembara. Pengalaman ini mencerminkan kisah-kisah pembentuk yang juga dialami Buddha berikutnya, seperti Shakyamuni.[7] Pertanda tersebut mengguncang keterikatannya pada kenikmatan duniawi dan menumbuhkan tekad untuk mencari pembebasan spiritual, menandai peralihan dari kehidupan sekuler menuju cita-cita pertapaan.[7]
Sebelum mencapai pencerahan, Dipankara menjalani kehidupan penuh kemewahan di kota Rammavatī. Ia tinggal di tiga istana—Hamsa, Koñca, dan Mayūra—selama 10.000 tahun, dikelilingi oleh 300.000 pelayan, dengan Padumā sebagai permaisuri utama dan Usabhakkhandha sebagai putranya.[6] Namun, setelah menyaksikan kenyataan tentang ketidakkekalan hidup—seorang tua renta, orang sakit, dan jenazah—ia memutuskan meninggalkan segala keterikatan duniawi dan keluar dari istana dengan menunggang gajah kerajaan.[6] Setelah meninggalkan istana, Dipankara memotong rambutnya dan memulai kehidupan sebagai pertapa. Ia menekuni dukkaracariyā, praktik tapa ekstrem, bersama sepuluh juta bhikkhu lainnya, menjalani meditasi keras dan penyiksaan diri untuk menyucikan pikiran serta tubuh sebagai persiapan menuju kebijaksanaan tertinggi.[6]
Pencerahan dicapai di bawah pohon Pipphala di lokasi Mahābodhi pada hari bulan purnama Vesākha, setelah ia berhasil mengalahkan godaan Māra—personifikasi keraguan dan nafsu.[6][8] Peristiwa ini menandai realisasi Empat Kebenaran Mulia dan pencapaian Kebuddhaan sempurna, membuka masa hidup sepanjang 100.000 tahun di mana ia mengajarkan jalan menuju pembebasan.[6]
Ramalan
Satu cerita dalam kesenian Buddhisme menunjukkan peran penting Dipankara yang meramalkan masa depan Gautama Buddha ketika yang bersangkutan masih berada dalam kehidupan sebelumnya sebagai pertapa Sumedha, seorang Brahmin kaya yang beralih menjadi seorang pertapa. Dalam tradisi tersebut, Sumedha bertemu Dipankara di jalan berlumpur. Ia melepaskan rambut panjangnya dan membentangkannya di tanah sebagai jalan agar Buddha tidak menginjak lumpur. [9][10] Tindakan penuh pengorbanan ini membuatnya menerima ramalan bahwa kelak ia akan menjadi Buddha Shakyamuni.[11]