Huangtianjiao (Hanzi:黃天教; Pinyin:Huángtiānjiào) atau juga disebut Huangtiandao (黃天道 “Jalan Langit/Surga Kuning”, juga ditulis dengan karakter yang sama dengan 皇天道 “Jalan Langit Raja”), juga dikenal sebagai Huangtianisme atau Xuanguisme (悬鼓教 Xuángǔ jiào, “Ajaran Genderang Kegelapan”), adalah sebuah sekte agama keselamatan di Tiongkok bagian utara yang didirikan oleh Li Bin (李賓), seorang mantan tentara yang pensiun setelah kehilangan matanya, pada tahun 1553 di Xuanhua, Hebei.[1]
Sejarah
Li Bin yang mempunyai nama religius Puming (普明) adalah pendiri Huangtian Dao yang tak terbantahkan. Dia berasal dari Zhili bagian barat dan awalnya adalah seorang buruh tani, tetapi kemudian menjadi tentara yang mengabdi sebagai penjaga di Tembok Besar China.[2] Setelah dia melakukan tugasnya di militer, yang kabarnya menyebabkan dia kehilangan matanya, dia menetap di sebuah desa bernama Shanfang Bao, di mana dia menikah.[3] Istrinya bernama religius Puguang (普光). Mereka memiliki dua anak perempuan yaitu Pujing (普淨) dan Puzhao (普照). Li Bin berguru ke banyak guru spiritual. Pada tahun 1553, dia menemukan seorang guru penerang yang mengajarkannya metode untuk membuka pintu suci (玄關) dan praktik lain seperti meditasi.[2] Setelah kematian Li Bin pada tahun 1562, Huangtianjiao terbagi menjadi 2 cabang. Cabang yang satu dipimpin oleh kedua anak Li Bin, sedangkan cabang satunya dipimpin oleh murid dari Li Bin. Kedua cabang tersebut berjalan dengan baik sampai dengan dinasti Qing.[4]
Pada tahun 1874, seorang biksu bernama Zhiming (智明) muncul di Shanfang Bao, yang saat itu sedang mengalami kekeringan yang parah. Dia mengaku sebagai pengikut Puming di masa akhir, dan menggambarkan gurunya yang telah meninggal beberapa generasi sebagai penjelmaan Buddha Maitreya, yang diutus oleh Wusheng Laomu untuk memimpin periode ketiga dan membebaskan umat manusia yang menderita dari bencana akhir. Zhiming mengklaim bahwa dirinya mendapatkan wahyu dari Puming.[5] Kemudian ia menawarkan diri untuk berdoa memohon hujan atas nama penduduk desa, karena pencabutan kekeringan akan menjadi bukti yang paling langsung dan nyata dari kuasa penyelamatannya. Doanya berhasil, karena dalam beberapa hari, turun hujan lebat. Zhiming dipuji sebagai titisan Buddha, dan segera mempunyai banyak pengikut yang taat.[1]
Di tahun 1940-an, para pengikut Huangtiandao masih ditemukan di daerah Wanquan, Zhejiang.[1]