Yaochidao (Hanzi:瑤池道; harfiah: 'Jalan Yaochi'), juga dikenal dengan nama badan organisasinya Asosiasi Ajaran Suci Yaochi Taiwan (台灣瑤池聖教會) atau dengan nama lama Asosiasi Welas Asih dan Kebajikan atau Cihuitang (慈惠堂), merupakan sebuah sekte keagamaan rakyat Tiongkok yang mempunyai keterkaitan dengan aliran Xiantiandao. Sekte ini memiliki pengikut yang cukup besar di Taiwan dan beroperasi sebagai asosiasi bawah tanah di Republik Rakyat Tiongkok, di mana secara teoretis dianggap sebagai sekte terlarang.[1]
Sekte ini sudah ada sebelum abad ke-20 dan berpusat pada pemujaan terhadap Xiwangmu ("Ibu Ratu dari Barat").[2]
Sejarah
Walaupun kelompok ini mengaku baru berdiri pada tahun 1949, tapi tradisi, ritual dan ajaran kelompok ini berasal dari masa yang jauh lebih lama. Kitab suci mereka yang paling dihormati, Kitab Bejana Emas Embun Giok (雨露金盤) pertama kali diterbitkan pada tahun 1880, dan isinya bersumber dari ajaran abad ke-16 tentang dewi Ibu Penyelamat.[3][4] Meski wahyu pertamanya diyakini diterima oleh seorang medium roh yang berasal dari provinsi Zhejiang, Tiongkok, sebagian besar pengikutnya sejak awal adalah orang Taiwan, termasuk cukup banyak dari kalangan Hakka.[5] Awalnya, kelompok ini hanyalah perkumpulan kecil yang sederhana. Namun dalam beberapa dekade, ia berkembang menjadi organisasi keagamaan yang besar dan terstruktur. Pada awal 1970-an, pusat utamanya berada di kota Hualien, dengan lebih dari seratus cabang di seluruh Taiwan dan ribuan anggota. Pada tahun 1980, jumlah kelompok yang terhubung dengan organisasi ini diperkirakan mencapai sekitar 400, dengan jumlah pengikut yang diperkirakan mencapai lebih dari 10.000 dan sebagian besar adalah perempuan.[5]
Keyakinan
Pengikut Yaochidao meyakini bahwa semua umat manusia berasal dari alam Surga Asal (先天) dan merupakan anak-anak dari Sang Ibu Suci, Yaochi Jinmu.[4] Yaochi Jinmu dipandang sebagai penguasa tertinggi para dewa dan Buddha serta merupakan pencipta seluruh alam semesta dan manusia.[6] Dikarenakan manusia telah terlena dan mabuk dengan kenikmatan duniawi, maka telah lupa dengan kampung halaman. Oleh karena itu Ibu Suci mengutus para dewa dan Buddha untuk turun ke dunia menyampaikan ajaran, dan menyelamatkan manusia melalui wahyu-wahyu melalui tulisan roh.[7] Para pengikut Yaochidao meyakini bahwa sejarah manusia terbagi menjadi tiga tahap besar. Dalam dua tahap pertama, wahyu telah diberikan, tapi manusia gagal memperbaiki diri. Oleh karena itu pada masa tahap akhir, Yaochi Jinmu memutuskan untuk turun secara langsung dan memerintahkan semua Buddha, bodhisatwa dan dewa turun ke dunia guna menolong umat manusia. Masa penyelamatan akhir ini diyakini dimulai pada tahun 1875.[8] Setelah menerima keyakinan tersebut, anggota kelompok berkewajiban untuk menyebarkan kabar baik tersebut kepada orang lain.
Praktik
Para anggota Yaochidao mengenakan seragam berwarna biru kehijauan dan menjalankan berbagai ritual serta praktik keagamaan, termasuk peramalan melalui kitab yang dianggap mendapat ilham, pembacaan kitab suci, latihan pengembangan tubuh, praktik perantaraan dewa, serta bentuk-bentuk lain dari kegiatan religius yang bersifat karismatik, seperti arak-arakan ataupun tarian kerasukan spiritual.[9] Praktik yang paling menonjol dari kelompok ini adalah fuji, yang menjadi praktik umum dari banyak kelompok sektarian Tiongkok sejak sebelum abad ke-19.[3]