Liisme, Gerbang Prinsip (理门code: zh is deprecated Lǐmén), Jalan Berpakaian Putih (白衣道code: zh is deprecated ), Jalan Segi Delapan (八方道code: zh is deprecated )
Zaili Jiao atau Zailiisme (Hanzi:在理教; Pinyin:Zàilǐjiào[a]) atau Liisme (理教; Lǐjiào),[2] juga dikenal sebagai Báiyīdào (白衣道; "Jalan Berpakaian Putih") atau Bāfāngdào (八方道; "Jalan Segi Delapan"), adalah sekte kepercayaan rakyat Tionghoa di wilayah utara Tiongkok, yang didirikan pada abad ke-17 oleh Yang Zai.[3] Sekte ini mengklaim identitas mereka sebagai Taois[4] dan berpusat pada pemujaan terhadap Guanyin sebagai penjelmaan dari prinsip alam semesta, yang disebut sebagai "Satu-satunya Dewa Tanpa Batas" (无极只神; Wújí Zhīshén).[5]
Sejarah
Kehidupan Yang Zai
Zaili Jiao didirikan pada masa-masa akhir Dinasti Ming oleh Yang Zai (1621–1754; juga dikenal dengan nama Yang Chengqing atau Yang Rulai), seorang pemegang gelar jinshi dari Jimo, Shandong.[3] Meskipun ia sangat ingin menduduki jabatan resmi, Yang tetap tinggal di Jimo untuk merawat ibunya yang sudah lanjut usia.[3] Setelah ibunya meninggal, ia menjadi seorang pemimpin agama, dan terdapat berbagai kisah berbeda mengenai bagaimana hal itu terjadi.[3] Beberapa sumber menyebutkan bahwa hal tersebut berawal dari sebuah penglihatan atau pertemuan dengan Guanyin.[3]
Ia kemudian berpindah ke pegunungan di Distrik Jizhou, Tianjin.[6] Di sana ia tinggal selama sepuluh tahun untuk bermeditasi di Gua Lanshui, menyucikan diri, dan merumuskan ajaran filosofisnya yang berpusat pada Delapan Larangan (八戒).[6] Pada usia delapan puluh tahun, ia menerima sepuluh murid, yang kemudian diutus ke berbagai arah untuk menyebarkan ajaran tersebut. Berkat teknik meditasi dan penyempurnaan diri yang ia kembangkan, Yang konon wafat pada usia 133 tahun.[6]
Abad ke-18: Kepemimpinan Yin Ruo
Agama ini secara resmi didirikan di Tianjin, dan pada pertengahan abad ke-18 telah menyebar ke seluruh wilayah utara Tiongkok.[2] Pengikut dalam jumlah besar terbentuk berkat karya Yin Ruo (1729–1806; juga dikenal sebagai Yin Laifeng dan Yin Zhongshan), patriark besar kedua dalam sejarah sekte ini.[7] Pada tahun 1766, Yin mendirikan rumah bersama (公所) pertama di pinggiran Tianjin; rumah bersama kemudian menjadi unit organisasi dasar dan khas dari Zaili Jiao.[8] Rumah bersama berfungsi sekaligus sebagai kuil dan balai pertemuan, dan pada masa awal biasanya berupa ruangan di rumah pribadi atau kuil desa.[8] Menjelang masa republik awal, beberapa di antaranya berkembang menjadi kompleks bangunan dan halaman yang lebih megah.[8]
Rumah bersama dijalankan oleh dua lapisan kepemimpinan: ritual dan administratif. Para pemimpin ritual adalah dangjia (当家), yaitu pria selibat yang menjalani disiplin ketat dalam penyempurnaan diri.[2] Di Tianjin, setiap rumah bersama memiliki seorang dangjia, yang lebih dari sekadar imam paroki, melainkan orang suci dan teladan moral, yang memimpin beberapa ritual tahunan sekte.[8] Sementara itu, pemimpin administratif adalah seorang "pengelola" (承办人), seorang awam yang mengurus kegiatan sehari-hari rumah bersama.[9]
Abad ke-19 dan ke-20
Penyebaran Zaili Jiao tidak luput dari perhatian, dan pada abad ke-19 para pejabat Dinasti Qing melakukan berbagai penyelidikan untuk memverifikasi ortodoksi sekte ini, yang selalu berkesimpulan bahwa Zaili Jiao adalah ortodoks serta memberikan kontribusi bagi perekonomian dan moralitas masyarakat. Beberapa pejabat bahkan menasihati pihak istana bukan hanya untuk mengakui sekte ini, tetapi juga mendorongnya sebagai penyeimbang terhadap pengaruh Kekristenan yang semakin berkembang.[10]
Pada tahun 1891, rumah-rumah Zaili memimpin sebuah pemberontakan di wilayah Mongolia, Rehe, dalam iklim ketidakpuasan orang Han terhadap hak istimewa bangsawan Mongol dan Gereja Katolik.[2] Meskipun pemberontakan itu berhasil dipadamkan, ketegangan tetap membara dan muncul kembali dalam Pemberontakan Boxer pada pergantian abad.[2]
Sekte ini berkembang pesat pada tahun-tahun terakhir Dinasti Qing dan awal masa republik. Para pengikut Zaili mengoperasikan banyak rumah bersama dan mengambil alih beberapa kuil agama lain yang rusak.[2] Menjelang akhir abad ke-19, sekte ini telah membangun kehadiran yang kuat di Manchuria, dan pada awal abad ke-20 mulai menunjukkan karakter nasional.[11] Zaili Jiao bahkan menyebar di kalangan etnis Tionghoa di Rusia.[5] Pada dekade 1920-an, sekte ini telah memiliki kehadiran yang mapan di semua kota besar Tiongkok. Ketika provinsi Jiangsu melarangnya pada tahun 1929, para pemimpin berpengaruh dari Beijing, Tianjin, dan Shanghai mengajukan permohonan kepada pemerintah nasional agar larangan tersebut dicabut.[11] Pada bulan Agustus 1929, Kementerian Dalam Negeri memberikan persetujuan eksplisit terhadap Zaili Jiao.[11]
Perkembangan Kontemporer
Zaili Jiao kembali aktif di provinsi Hebei, Tiongkok sejak akhir 1990-an.[12] Sekte ini juga memiliki 186.000 anggota di Taiwan, yang setara dengan 0,8% dari total populasi. Terdapat organisasi bernama Paguyuban Bersatu Liisme Tiongkok (Hanzi sederhana:中华理教总会; Hanzi tradisional:中華理教總會; Pinyin:Zhōnghuá Lǐjiào Zǒnghuì) serta beberapa badan kecil lainnya.
Filantropi
Unsur paling khas dari Zaili Jiao adalah penekanan pada kemurnian fisik dan pantang dari zat adiktif.[6] Zaili Jiao menyebar melalui pendirian lembaga amal oleh para anggotanya, serta kampanye untuk menjauhi alkohol, tembakau, dan opium, sekaligus menawarkan pengobatan bagi para pecandu.[2] Zaili mengembangkan pusat rehabilitasi narkoba dengan menggunakan obat-obatan herbal dan teknik penyempurnaan diri (正身), yang dikatakan mampu menyembuhkan hingga dua ratus pecandu setiap tahun.[13]
Anggota Zaili juga mendirikan organisasi bernama 中華全國理善勸戒煙酒總會; Zhōnghuá quánguó lǐ shàn quàn jièyān jiǔ zǒng huì, yang diakui secara resmi oleh pemerintah Yuan Shikai pada Juni 1913.[14]
Catatan
↑Zai li berarti "prinsip yang tetap", "berpegang pada prinsip", "berpegang pada kebenaran", "tetap setiap pada kebenaran universal"; "jiao" berarti "ajaran" atau "transmisi".
Referensi
↑Michael Pye. Exploring Religions in Motion. Walter de Gruyter, 2003. ISBN1614511918. p. 159
Tertitski, Konstantin (2007). "Zailijiao in Russia: A Chinese Syncretic Religion in Diaspora". International Sinological Symposium. 4. Taipei: Fu Jen Catholic University: 414–443.