Zhang Zhao (156–236),[1]nama kehormatanZibu adalah seorang ahli kaligrafi, jenderal dan politikus Tiongkok. Ia mengabdi sebagai pejabat Dong Wu pada Zaman Tiga Negara. Lahir pada masa-masa akhir Dinasti Han Timur, ia memulai kariernya sebagai seorang cedekiawan di kampung halamannya, Provinsi Xu, sebelum pindah ke Jiangdong akibat kekacauan yang terjadi selama Akhir Dinasti Han. Di Jiangdong, Zhang Zhao bekerja sebagai seorang penasehat bagi Sun Ce. Setelah Sun Ce dibunuh, Zhang Zhao memainkan peran penting bagi penerusnya Sun Quan saat Sun Quan sedang mengonsolidasi kekuasaannya di Jiangdong. Pada 208 sebelum Pertempuran Chibi, Zhang Zhao pernah meminta Sun Quan untuk menyerah kepada Cao Cao karena ia merasa mereka tidak cukup kuat untuk menahan Cao Cao. Namun, Sun Quan yang kecewa mendengarkannya menolak untuk menyerah dan mendengar nasihat Zhou Yu dan Lu Su untuk berperang. Pasukan Sun Quan pada akhirnya memenangkan Pertempuran Chibi melawan Cao Cao pada musim dingin 208. Sepanjang kariernya, Zhang Zhao dikenal sebagai sosok yang tegas, tanpa kompromi, dan mengintimidasi, yang dihormati baik oleh rekan-rekannya maupun Sun Quan. Meskipun Zhang Zhao senior dan berpengalaman, Sun Quan dua kali melewatkannya sebagai kandidat Kanselir Kekaisaran pada tahun 222 dan 225 karena ia yakin Zhang Zhao begitu keras kepala dan keras kepala sehingga ia tidak akan mampu memimpin pemerintahan secara efektif. Meskipun demikian, Sun Quan tetap menghormati Zhang Zhao sebagai sosok mentor yang membimbingnya melalui masa-masa awal hingga naik takhta.
Pengabdian dibawah Sun Ce
Ketika kekacauan melanda Tiongkok pada tahun 190-an, banyak penduduk Provinsi Xu meninggalkan rumah mereka dan menyeberangi Sungai Yangtze untuk berlindung di Provinsi Yang (atau wilayah Jiangdong) di selatan. Zhang Zhao pun mengikuti jejaknya dan pindah dari Negara Bagian Pengcheng ke Jiangdong.[Sanguozhi 1]
Antara tahun 194 dan 199, panglima perang Sun Ce menaklukkan wilayah-wilayah di Jiangdong dan mendirikan rezimnya sendiri di wilayah tersebut. Selama masa ini, ia mendengar tentang Zhang Zhao dan ingin merekrutnya sebagai penasihat. Setelah Zhang Zhao setuju dan bergabung dengannya, ia begitu gembira sehingga berkata kepada Zhang Zhao: "Sekarang setelah aku memperluas wilayah kekuasaanku di keempat penjuru, aku harus memperlakukan orang-orang terpelajar dan berbudi luhur dengan rasa hormat yang sebesar-besarnya. Aku tidak akan memperlakukanmu dengan cara yang merendahkan." Ia kemudian mengangkat Zhang Zhao sebagai Kolonel (校尉) dan menghormatinya seperti seorang guru.[Sanguozhi zhu 1]
Kemudian, Sun Ce mengangkat Zhang Zhao sebagai Kepala Juru Tulis (長史) dan mempromosikannya dari Kolonel menjadi Jenderal Rumah Tangga Penenang Tentara (撫軍中郎將). Selain memberi penghormatan kepada ibu Zhang Zhao dan memperlakukan Zhang Zhao seperti teman lama, Sun Ce juga berkonsultasi dengan Zhang Zhao mengenai berbagai hal terkait kebijakan sipil dan militer.[Sanguozhi 2][1]
Menerima surat-surat pujian
Kecakapan Zhang Zhao dalam urusan dalam negeri dibawah Sun Ce membuatnya menerima surat pujian dari kalangan pelajar dari utara dan Zhang Zhao merasa bingung bagaimana ia harus membalasnya. Di satu sisi, ia takut bahwa Sun Ce akan mencurigainya dan di sisi lain, ia juga khawatir bahwa yang lain akan mencemoohnya sebagai orang yang sombong jika ia memperlihatkan surat-surat tersebut.[Sanguozhi 3]
Ketika Zhang Zhao pada akhirnya memutuskan untuk melaporkannya kepada Sun Ce, Sun Ce ketawa dan berkata kepada Zhang Zhao: "Di masa lalu, saat Guan Zhong menjadi kanselir Qi, Adipati Huan dari Qi menjadi seorang hegemon diantara tuan feodal. Hari ini, karena saya memiliki seseorang yang bijak seperti Zibu melayani saya, bukankah keberhasilannya punya saya juga?".[Sanguozhi 4] Zhang Zhao merasa lega dan melayani Sun Ce dengan sepenuh hati.
Dipercayakan untuk menjaga Sun Quan
Pada tahun 200, sebelum Sun Ce meninggal, ia meninggalkan sebuah wasiat kepada Zhang Zhao untuk menjaga Sun Quan. Ia berkata kepada Zhang Zhao, "Jika Zhongmou ternyata tidak kompeten, silakan anda menggantikannya. Jika tidak ada cara untuk menghadapi kesulitan, anda boleh pelan-pelan mundur ke barat dimana anda tidak akan merasa kesulitan".[Sanguozhi zhu 2]
Setelah kematian Sun Ce, Zhang Zhao beserta jajarannya menghadapi Sun Quan dan bersumpah setia.[Sanguozhi 5] Ia juga membuat sebuah petisi kepada pemerintah pusat Han untuk memberi tahu kematian Sun Ce dan penggantiannya oleh Sun Quan. Ia juga menulis surat perintah untuk setiap pemangku jabatan penting untuk tetap melanjutkan tugas masing-masing.[Sanguozhi 6]
Pengabdian dibawah Sun Quan
Membantu Sun Quan untuk mengonsolidasi kekuasaan
Sun Quan yang baru 18 tahun sangat terpukul dengan kematian kakaknya Sun Ce sampai ia menghabiskan waktunya untuk berkabung dan tidak mengurus pemerintahan yang didirikannya di Jiangdong. Zhang Zhao kemudian menasihatinya:
Karena anda penerus seseorang, sangat penting bagi anda untuk melanjutkan warisan pendahulumu, perluaskanlah dan bawa kejayaan kepadanya. Saat ini, kekaisaran berada di keadaan kacau dan bandit sedang menjarah bukit. Xiaolian, bagaimana anda masih bisa di kasur dan menutupi anda dengan kesedihan ketika Anda tidak mampu memberikan kemewahan waktu untuk perilaku seperti itu seperti orang lain?[2]
Biografi Sun Quan di Sanguozhi menuliskan bahwa Zhang Zhao berkata kepadanya:
Xiaolian, apakah ini masih waktunya untuk menangis? Saat Zhou Gong mendirikan aturan untuk sebuah pemakaman, putranya Bo Qin tidak mengikutinya. Ini bukan karena ia mau melawan ayahnya, tetapi prosedur itu tidak sesuai keadaan pada masa tersebut. Sekarang, pada saat banyak tokoh berbahaya melawan demi kekuasaan dan penjahat menguasai pemerintahan, anda menyibukkan diri dengan kesedihan dan membabi buta mengikuti ritual tanpa menyadari bahwa Anda sebenarnya sedang membuka gerbang Anda lebar-lebar bagi musuh untuk masuk. Ini tidak akan membantu Anda mencapai kebaikan yang lebih besar.[3]
Sun Quan mendengar nasihat Zhang Zhao dan mulai bangkit. Ia ganti bajunya dari baju berkabung dan menaik kuda dengan bantuan Zhang Zhao dan melesat pergi untuk menemui tentara.[Sanguozhi 7] Para mantan pengikut Sun Ce menerima kepemimpinan Sun Quan dan berjanji setia kepadanya. Sun Quan juga mengangkat Zhang Zhao sebagai Kepala Juru Tulis (長史) dan memerintahkannya untuk menjalankan tugas yang sama seperti yang ia lakukan di bawah Sun Ce.[Sanguozhi 8]
Dengan bantuan Zhang Zhao, Sun Quan berhasil mengkonsolidasikan kendalinya atas rezim Jiangdong yang tidak stabil, peninggalan Sun Ce. Selain menenangkan dan memenangkan hati rakyat, ia juga merekrut banyak orang berbakat dan cakap untuk bertugas di pemerintahannya.[Sanguozhi zhu 3] Saat Sun Quan pergi berperang, Zhang Zhao menjaga wilayah kekuasaannya dan mengawasi pekerjaan administratif wilayah kekuasaannya.[1] Saat itu juga, Zhang Zhao berhasil menumpas sisa-sisa pemberontak Serban Kuning.[Sanguozhi zhu 4]
Pada musim semi 208,[4]Gan Ning yang baru saja bergabung dengan Sun Quan menyatakan bahwa Cao Cao yang mengendalikan pemerintah pusat berencana untuk menyerang Provinsi Jing (mencakupi wilayah modern Hunan dan Hubei) sebelah barat Jiangdong. Gan Ning juga berkata bahwa Liu Biao, rival ayahnya, juga tidak bisa menjaga wilayah kekuasaannya. Gan Ning kemudian menyarankan Sun Quan untuk merebut Provinsi Jing sebelum Cao Cao melakukannya. Ia menyerankan agar Sun Quan menyerang Komanderi Jiangxia (江夏郡; kini sekitar Wuhan, Hubei) yang dijaga oleh Huang Zu.[Sanguozhi 9]
Sun Quan menerima saran Gan Ning, namun Zhang Zhao menolak keras dengan menyatakan, "Daerah Wu masih belum aman. Saya takut jika Tuan melancarkan kampanye ini, akan ada kekacauan".[Sanguozhi 10] Gan Ning membantah, "Tuan kita telah memercayai wewenang kepadamu seperti anda menjadi Xiao He. Jika kamu tidak yakin bahwa tidak akan ada kekacauan dibawah pengawasan anda, bagaimana kamu bisa menjadi Xiao He?".[Sanguozhi 11]
Melihat keduanya beradu mulut, Sun Quan langsung intervensi dengan mengangkat cawan minum ke arah Gan Ning dan kemudian berkata, "Xingba, kita akan berangkat ke barat tahun ini. Seperti cawan arak yang saya angkat, saya memutuskan untuk memercayaimu. Bercobalah dengan baik bagaimana cara untuk mengalahkan Huang Zu. Itu akan menjadi pencapaian bagus untuk anda. Kenapa anda harus menghabiskan waktu untuk adu mulut dengan Kepala Sekretaris Zhang?". Sun Quan akhirnya menyetujui rencana Gan Ning dan membuatnya memimpin pertempuran ini.[Sanguozhi 12] Kampanye tersebut berhasil dan mereka juga membunuh Huang Zu dan menguasai Komanderi Jiangxia.[4]
Pada akhir musim gugur 208,[4]Cao Cao melancarkan kampanye militer untuk memusnahkan seluruh kekuatan di Tiongkok Selatan yang masih membangkang. Ia dengan cepat menguasai Provinsi Jing (mencakupi wilayah modern Hunan dan Hubei) setelah gubernurnya Liu Cong menyerah tanpa perlawanan. Ketika rakyat Sun Quan mendengar bahwa Cao Cao telah menguasai Provinsi Jing beserta puluhan ribu pasukan darat dan lautnya, mereka menjadi takut karena mereka tahu bahwa target Cao Cao berikutnya adalah wilayah Sun Quan di wilayah Jiangdong.[Sanguozhi 13] Sun Quan memanggil mereka untuk suatu pertemuan dan memperlihatkan surat ancaman yang diterimanya dari Cao Cao, di mana Cao Cao mengklaim bahwa ia memiliki 800.000 pasukan.[Sanguozhi zhu 5]
Zhang Zhao merasa bahwa Sun Quan tidak bisa menang melawan Cao Cao dan ia bersama Qin Song dan beberapa tokoh lainnya meminta Sun Quan untuk menyerah.[Sanguozhi 14][1] Zhang Zhao berkata, "Cao Cao adalah seekor serigala dan harimau yang menyandera kaisar untuk menyerbu seluruh penjuru dunia dan mengeluarkan titah atas nama pemerintahan. Jika kita melawan hari ini, itu akan menjadi semakin tidak pantas dan tidak masuk akal. Lagipula, satu-satunya cara bagi jenderal untuk melawan Cao Cao adalah dengan mengandalkan penghalang alami Sungai Yangtze. Sekarang, Cao Cao telah menduduki tanah Jingzhou, dan angkatan laut yang dilatih oleh Liu Biao, termasuk ribuan kapal perang Mengchong, telah diambil alih oleh Cao Cao. Semua kapal Cao Cao sedang menyusuri Sungai Yangtze, dan dengan tambahan infanteri, mereka maju melalui darat dan air. Dengan demikian, penghalang alami Sungai Yangtze sekarang digunakan bersama oleh Cao Cao dan kita, dan kekuatan kedua belah pihak tidak sebanding. Oleh karena itu, menurut pendapat kami yang sederhana, yang terbaik adalah menyambut Cao Cao dan menyerah kepada istana."[5]
Saat bersamaan, Sun Quan juga mendengarkan opini dari perwira militer seperti Zhou Yu dan Cheng Pu, serta beberapa pejabat sipil yang pro-perang seperti Lu Su dan pada akhirnya Sun Quan membulatkan tekad untuk melawan Cao Cao. Lu Su dan Zhou Yu juga diberitahu oleh Sun Quan bahwa ia sangat kecewa dengan Zhang Zhao, Qin Song dan mereka yang memintanya untuk menyerah.[Sanguozhi 15][Sanguozhi 16] Ia kemudian mengumpulkan seluruh penjabat, mengangkat pedang dan memotong mejanya sembari berkata, "mulai hari ini, siapapun yang menyarankan saya untuk menyerah kepada Cao Cao akan berakhir seperti meja ini!".[Sanguozhi zhu 6]
Dibawah Kaisar Wu
Sun Quan mempermalukan Zhang Zhao di hadapan umum
Menurut Jiang Bao Zhuan, walaupun Sun Quan sangat menghargai Zhang Zhao karena ia setia, berani dan jujur, Sun Quan tidak lupa terhadap nasihatnya untuk menyerah kepada Cao Cao sebelum Pertempuran Chibi.[Sanguozhi zhu 7] Setelah menjadi kaisar, Sun Quan berkata, "Saya tidak akan menjadi kaisar hari jika Zhou Gongjin tidak ada untuk membantu saya".[Sanguozhi zhu 8] Saat Zhang Zhao bersiap untuk memegang hu dan memberi selamat kepada Sun Quan, Sun Quan berkata, "Jika saya mendengarkan Tuan Zhang, mungkin saya sudah mengemis makanan hari ini". Zhang Zhao merasa sangat malu dan berkeringat dingin saat dia berlutut.[Sanguozhi zhu 9]