Cao Ren (Hanzi:曹仁, Cáorén) (168 – 223),[4]nama kehormatanZixiao adalah jendralmiliter yang bekerja di bawah panglima perang dan sepupunya Cao Cao selama Zaman Tiga Negara di Tiongkok.[5] Cao Ren memainkan peranan penting pada perang-perang sipil di Tiongkok yang menyebabkan keruntuhan Dinasti Han Timur dan pembentukan Cao Wei. Saat putra Cao Cao Cao Pi naik takhta menjadi kaisar, Cao Ren diangkat menjadi Marsekal Agung (大司馬) dan juga berjasa dalam pembentukan Cao Wei. Namun, Cao Ren juga dicemooh sebagai komandan yang biasa saja oleh Zhu Huan, jenderal dari Dong Wu yang merupakan negara saingan Wei.[6]
DIa sangat berperan dalam kematian Guan Yu karena koalisinya dengan Dong Wu yang dipimpin oleh Lu Meng dan Lu Xun
Kehidupan awal
Cao Ren merupakan sepupu muda dari Cao Cao.[7] Kakeknya, Cao Bao (曹襃) dan ayahnya Cao Chi (曹熾) mengabdi sebagai pejabat pemerintah selama Dinasti Han Timur.[8] Ia memiliki seorang adik bernama Cao Chun. Karena ayah mereka meninggal saat mereka masih muda, Cao Ren dan Cao Chun hidup bersama keluarga lain. Mereka mewarisi harta keluarga mereka ketika sudah dewasa. Mereka dikenal kaya dan memperkerjakan ratusan pelayan dan pengikut.[9]
Saat masih muda, Cao Ren memiliki hobi berkuda, memanah dan berburu. Saat Dinasti Han mengalami kekacauan, Cao Ren mengumpulkan sebanyak 1,000 tentara dan berkelana di wilayah sekitar Sungai Huai dan Sungai Si. Pada akhirnya ia bersama 1,000 tentaranya bergabung kepada sepupunya, Cao Cao pada 190 saat Cao Cao hendak merekrut tentara untuk kampanye militer terhadap Dong Zhuo. Cao Ren memegang pangkat Mayor Komando Terpisah (別部司馬) di bawah Cao Cao, tetapi sebenarnya ia bertindak sebagai Kolonel Ujung Tajam (厲鋒校尉).[10]
Pada tahun 208, setelah kalah dari Sun Quan dan Liu Bei dalam Pertempuran Tebing Merah, Cao Cao mundur ke utara dan meninggalkan Cao Ren dan Xu Huang untuk mempertahankan Komanderi Jiangling (江陵郡; di Jingzhou, Hubei saat ini) yang strategis dari serangan pasukan Sun Quan, yang dipimpin oleh Zhou Yu. Cao Ren saat itu menjabat sebagai Jenderal Penyerang Selatan (征南將軍) sementara. Zhou Yu mengirimkan pasukan garda depan yang berjumlah beberapa ribu orang untuk menantang pasukan Cao Cao di Jiangling. Cao Ren menyadari bahwa moral pasukannya rendah, karena mereka baru saja dikalahkan di Tebing Merah, jadi dia memerintahkan bawahannya Niu Jin untuk memimpin 300 tentara sukarelawan ke medan perang, dengan harapan mereka akan menunjukkan keberanian dan meningkatkan moral pasukannya. Niu Jin dan anak buahnya kalah jumlah dan dikepung oleh musuh. Kepala Juru Tulis Cao Ren (長史), Chen Jiao (陳矯), pucat pasi ketika melihat situasi tersebut dari atas tembok kota. Namun, tidak seperti dugaan semua orang, Niu Jin dan pasukannya menciptakan kekacauan di pasukan musuh hanya dengan sisa 100 orang saat itu. Cao Ren merasa terinspirasi melihat bagaimana Niu Jin dengan hanya 300 pasukan membuat kekacauan di pasukan Zhou Yu yang berjumlah tiga kali lipat dan kemudian memerintah seluruh pasukan untuk keluar berperang. Chen Jiao dan yang lainnya berusaha membujuknya agar tidak nekat menghadapi bahaya, tetapi Cao Ren mengabaikan mereka dan memerintahkan setiap prajurit di bawah komandonya untuk menyerbu formasi musuh. Cao Ren berhasil menyelamatkan Niu Jin dan anak buahnya yang selamat, bahkan berbalik untuk menyelamatkan prajuritnya yang masih terjebak dalam formasi musuh. Pasukan Sun Quan mundur. Setelah Cao Ren kembali, Chen Jiao dan bawahannya berkata, "Jenderal, kamu betul-betul seorang dewa!". Tentaranya juga bersorak untuk keberanian Cao Ren. Cao Cao mendengarkan itu terkesan. Gelar marquis Cao Ren diganti menjadi "Marquis Desa Anping" (安平亭侯).[11]
Kemudian, Zhou Yu sendiri pergi menyerang benteng Cao Ren namun pasukan Cao Ren menembak Zhou Yu dengan panah beracun.[12] Zhou Yu mundur, terluka akibat panah tersebut. Cao Ren kemudian menyerang benteng Zhou Yu, tetapi ia kemudian mundur setelah melihat Zhou Yu sehat. Setelah setahun berperang dan kehilangan banyak tentara, Cao Cao memerintah Cao Ren untuk mundur.
Tiongkok Barat Laut
Pada 211, Cao Ren mengikuti kampanye militer Cao Cao melawan Ma Chao dan Han Sui di Pertempuran Lintasan Tong. Cao Ren memegang jabatan sebagai Jenderal Pengaman Barat (安西將軍) dan memimpin pertahanan di Tong Pass (潼關; sekarang Kabupaten Tongguan, Weinan, Shaanxi) sebelum Cao Cao mencapai garis depan.[13]
Cao Ren diangkat kembali sebagai Jenderal Penyerang Selatan (征南將軍) dan diperintahkan untuk ditempatkan di Fan (樊; juga disebut Fancheng, di Distrik Fancheng, Xiangfan, Hubei saat ini) dan mengawasi pasukan Cao Cao di Provinsi Jing. Cao Ren menumpas pemberontakan yang dipimpin oleh Hou Yin (侯音) sebelum membantai penduduk Wan (宛; Distrik Wancheng, Nanyang, Henan saat ini) antara akhir tahun 218 dan awal tahun 219,[14][15] Ia kemudian secara resmi diangkat sebagai JenderalPenyerang Selatan dan terus bertugas di Fan.[16]
Pada musim gugur 219, jenderal Liu Bei, Guan Yu yang bertanggung jawab atas wilayah Liu Bei di Provinsi Jing selatan memimpin pasukan untuk menyerang Fancheng. Cao Cao memerintah Yu Jin untuk memimpin 7 tentara untuk melawan Guan Yu, tetapi pasukan pimpinan Yu Jin terdampar banjir karena hujan lebat yang meluap Sungai Han. Yu Jin menyerah kepada Guan Yu sementara bawahannya Pang De menolak untuk menyerah dan dibunuh. Cao Ren hanya disisakan beberapa ribu tentara untuk menahan Fancheng. Guan Yu dan pasukannya berlayar menuju Fan menggunakan perahu dan mengepung benteng tersebut. Saat itu, Cao Ren dan pasukannya telah sepenuhnya terisolasi di dalam Fan karena kehilangan kontak dengan dunia luar, sementara persediaan mereka menipis dan tidak ada bala bantuan yang terlihat. Awalnya, ia ingin mundur namun Man Chong meyakinkan Cao Ren untuk menunggu bala bantuan, menjelaskan bahwa Fancheng sangat strategis sehingga tidak boleh ditinggal. Cao Ren kemudian mendorong anak buahnya untuk bertempur sampai mati dan mereka sangat terinspirasi oleh kata-katanya. Begitu bala bantuan pimpinan Xu Huang sudah tiba, air sudah mulai menyurut. Saat Xu Huang mulai menyerang Guan Yu, Cao Ren mengambil kesempatan untuk menyerang balik dan memecahkan kepungan Guan Yu. Guan Yu gagal menguasai Fancheng dan mundur.[17]
Pengabdian kepada Cao Pi
Cao Ren pada masa mudanya tidak menyukai peraturan dan selalu melanggarnya bila ada kesempatan. Namun, sejak berdinas militer untuk Cao Cao, Cao Ren mulai taat terhadap aturan secara ketat dan selalu mengikuti aturan dalam segala hal yang dilakukannya. Karena perubahan pesat itu, saat putra Cao Cao Cao Zhang sedang berkampanye melawan suku Wuhuan, Cao Pi menyurati adiknya, "Bukankah seharusnya kamu ikut peraturan setaat Cao Ren?"[18]
Cao Cao meninggal pada 220 dan posisinya digantikan oleh Cao Pi sebagai Raja Wei. Tidak lama kemudian, Cao Pi dengan dukungan seluruh pejabat termasuk Cao Ren memaksa Kaisar Xian dari Han untuk turun taktha, mengakhiri Dinasti Han yang sudah runtuh dan mendeklarasikan Dinasti Cao Wei yang baru dan sekaligus negara terkuat di Zaman Tiga Negara. Cao Pi kemudian menunjuk Cao Ren sebagai Jenderal Kereta dan Kavaleri (車騎將軍) dan menanggung jawab atas seluruh urusan militer di Provinsi Jing, Yang dan Yi. Ia juga menerima gelar "Marquis Chen" (陳侯) dan diberi tambahan 2.000 rumah tangga kena pajak di wilayah kekuasaannya, sehingga totalnya menjadi 3.500 rumah tangga.[19]
Cao Ren pindah ke Wan (宛; sekarang Distrik Wancheng, Nanyang, Henan) di utara Provinsi Jing dan ditempatkan di sana. Kemudian, ketika Sun Quan mengirim Chen Shao (陳邵) untuk menyerang Xiangyang, Cao Pi memerintahkan Cao Ren untuk memimpin pasukan ke Xiangyang untuk melawan pasukan Sun Quan. Cao Ren dan Xu Huang mengalahkan Chen Shao dan pasukan mereka memasuki Xiangyang. Cao Ren menugaskan jenderal Gao Qian (高遷) untuk mengawasi pemindahan warga sipil dari tepi selatan Sungai Han ke utara. Cao Pi mengangkat Cao Ren sebagai Panglima Tertinggi (大將軍). Kemudian, Cao Pi memerintahkan Cao Ren untuk pindah ke Linying (臨潁) dan mempromosikannya menjadi Marsekal Agung (大司馬). Cao Ren ditempatkan sebagai komandan pasukan di sepanjang Sungai Wu (烏江) dan ditempatkan di Hefei.[20] Pada tahun 222, Cao Ren memimpin puluhan ribu pasukan untuk menyerang garnisun Sun Quan di Ruxu (濡須; sebelah utara Kabupaten Wuwei, Anhui saat ini), di mana jenderal yang bertahan, Zhu Huan, hanya memiliki 5.000 pasukan yang tersisa di dalam tembok kota.[21] Namun, Cao Ren dianggap hanya sebagai komandan yang kurang mumpuni oleh Zhu Huan dan rekan-rekannya, sehingga para pembela memberikan perlawanan yang gigih. Meskipun Cao Ren memiliki keunggulan jumlah pasukan yang lengkap, pertempuran berakhir dengan kemenangan Zhu Huan – Cao Ren tidak hanya kehilangan lebih dari 1.000 orang, tetapi juga dua bawahannya, Chang Diao (常雕) dan Wang Shuang.[22]
Kematian
Cao Ren meninggal pada 6 Mei 223[23] pada usia 56 (berdasarkan Penghitungan usia Asia Timur).[24] Ia dianugerahi gelar anumerta "Marquis Zhong" (忠侯), yang secara harfiah berarti "marquis yang setia". Ia paling dikenang karena keberanian dan kegagahannya, yang menempatkannya di atas Zhang Liao di antara semua jenderal Cao Cao.[25]
Jasad Cao Ren kemudian disembah bersama almarhum Xiahou Dun dan Cheng Yu oleh Kaisar Cao Rui pada 7 Juni 233 dengan upacara kurban di kuil yang didedikasikan kepada Cao Cao. Penyembahan ini merupakan bentuk pengakuan terhadap jasa Cao Ren terhadap Wei.
12Cao Ren's biography in the Sanguozhi recorded that he died in the 4th year of the Huangchu era of Cao Pi's reign.[1] Cao Pi's biography in the Sanguozhi recorded a more precise date: The dingwei day of the 3rd month of the 4th year of the Huangchu era of Cao Pi's reign.[2] This date corresponds to 6 May 223 in the Gregorian calendar. The Wei Shu further recorded that Cao Ren was 56 years old (by East Asian age reckoning) when he died.[3] By calculation, Cao Ren's year of birth should be 168.