Cao Ang merupakan putra sulung Cao Cao dan selirnya Nyonya Liu (劉夫人). Nyonya Liu juga melahirkan putra Cao Cao lainnya, Cao Shuo, dan seorang putri, Putri Agung[2] Qinghe (清河公主).[3][4] Karena Nyonya Liu meninggal muda, Cao Ang dibesarkan oleh Nyonya Ding, istri pertama Cao Cao. Nyonya Ding menyayangi Cao Ang dan memperlakukannya selayak anak kandung sendiri.[5]
Tidak banyak yang diketahui mengenai kehidupan awal Cao Ang, kecuali ia dinominasikan sebagai seorang xiaolian (kandidat pamong praja) ketika ia beranjak dewasa (pada sekitar usia 19 tahun). Pada bulan lunar tahun 197, Cao Ang mengikuti ayahandanya pergi kamapanye melawan Zhang Xiu di Wan (宛; atau Wancheng, yang sekarang Distrik Wancheng, Nanyang, Henan). Zhang Xiu pada awalnya menyerah, tetapi kemudian ia memberontak dan meluncurkan serangan mendadak dan menangkap basah Cao Cao. Cao Cao terluka di lengan kanannya oleh panah di dalam pertempuran sementara kudanya, Jueying (絕影), terpukul di leher dan kakinya. Cao Ang tidak dapat naik ke atas kudanya sehingga ia menawarkan kudanya sendiri untuk menyelamatkan ayahandanya yang berhasil melarikan diri dari Wancheng. Cao Ang tewas terbunuh di dalam pertempuran itu.
Peristiwa Post-mortem Dan Suksesi
Nyonya Ding kerap menangis mendengarkan kematian Cao Ang dan menuduh Cao Cao telah membunuhnya. Cao Cao marah mendengarkan tuduhan tersebut dan mengutus Nyonya Ding kembali ke keluarganya dengan harapan ia dapat bertenang. Saat Cao Cao kemudian bertemu dengan Nyonya Ding pada tahun 200, Nyonya Ding tidak sudi berbicara dengannya, membuat Cao Cao secara resmi menceraikannya.[6] Cao Cao juga berkata kepada keluarga Nyonya Ding bahwa ia bersedia membantu mencarikan suami untuknya namun keluarga Nyonya Ding menolak tawaran tersebut. Permaisuri Bian kerap menanyakan kabar Nyonya Ding kepada Cao Cao dan ketika Cao Cao ingin reuni dengan Nyonya Ding dengan menjamunya makan, Permaisuri Bian menawarkan kursinya kepada Nyonya Ding agar ia dapat duduk di sebelah Cao Cao layaknya seorang istri resmi namun Nyonya Ding secara halus menolak walaupun terharu dengan kebaikan Permaisuri Bian. Setelah Nyonya Ding meninggal, Cao Cao merasa tidak nyaman dan berpikir apa yang bisa ia katakan kepada arwah Cao Ang jika ditanya mengenai Nyonya Ding.[7]
Pada tahun 221, setelah Cao Pi (putra Cao Cao lainnya) mengakhiri Dinasti Han dan mendirikan negara Cao Wei (yang menandai awalnya periode Zaman Tiga Negara), ia memberikan Cao Ang gelar anumerta "Adipati Dao dari Feng" (豐悼公). Tiga tahun kemudian, Cao Ang dinaikkan gelarnya menjadi pangeran, dan gelar anumertanya menjadi "Pangeran Dao dari Feng" (豐悼王). Cao Pi kerap berkata di hadapan pejabat, "Kakakku berbakti dan bersih, itu kewajibannya. Jika Cangshu masih hidup, saya tidak akan diwariskan dunia ini". Pada tahun 229, selama pemerintahan putra Cao Pi Cao Rui, gelar anumerta Cao Ang diganti menjadi "Pangeran Min dari Feng" (豐愍王).
Cao Ang tidak memiliki keturunan laki-laki sebagai ahli warisnya pada saat ia meninggal. Namun pada tahun 222, Cao Wan (曹琬), putra saudara tiri Cao Ang Cao Jun (曹均), ditunjuk sebagai ahli waris Cao Ang dan digelari "Adipati Zhongdu" (中都公). Kemudian pada tahun itu, Cao Wan ditugaskan sebagai "Adipati Zhangzi" (長子公). Pada tahun 254, pada masa pemerintahan Cao Fang, Cao Wan dipromosikan sebagai "Pangeran Feng" (豐王) dan diberikan sebuah kabupaten "Feng", sesuai dengan gelar anumerta Cao Ang. Jumlah rumah tangga pajak kabupatennya meningkat di dalam pemerintahan Cao Mao dan Cao Huan sampai dengan 2,700. Setelah kematian Cao Wan, ia diberikan gelar anumerta sebagai "Pangeran Gong dari Feng" (豐恭王) dan digantikan oleh putranya, Cao Lian (曹廉).
↑Lee, Lily; Wiles, Sue, ed. (2015). Biographical Dictionary of Chinese Women. Vol.II. Routledge. hlm.609. ISBN978-1-317-51562-3. An emperor's [...] sister or a favorite daughter was called a grand princess (zhang gongzhu); and his aunt or grand-aunt was called a princess supreme (dazhang gongzhu).