Definisi
Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Bhikkhu Bodhi menyatakan:
- Cetanā... adalah faktor mental yang berkenaan dengan aktualisasi suatu tujuan, yakni aspek konatif atau kehendak dari kognisi. Maka dari itu, cetanā diartikan sebagai kehendak (volition). Kitab komentar menjelaskan bahwa cetanā mengatur faktor-faktor mental yang terkait dalam bertindak atas objek. Ciri khasnya adalah keadaan berkehendak, fungsinya adalah mengumpulkan (kamma), dan manifestasinya adalah koordinasi. Penyebab langsungnya adalah keadaan-keadaan terkait. Seperti halnya seorang kepala murid membacakan pelajarannya sendiri dan juga meminta murid-murid yang lain membacakan pelajaran mereka sendiri, demikian pula ketika kemauan mulai bekerja pada objeknya, ia mengatur keadaan-keadaan yang terkait untuk melakukan tugasnya juga...[3]
Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan bahwa cetanā didefinisikan dalam empat batasan:[4]
- Karakteristik: berkehendak (cetayitalakkhaṇa).
- Fungsi: mengoordinasi (āyūhanarasa).
- Manifestasi: pengaturan (saṃvidahanapaccupaṭṭhāna).
- Sebab-terdekat: dhamma-dhamma yang berasosiasi dengannya.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa:
Pada saat kita berbicara tentang kamma, maka sesungguhnya kita sedang berbicara tentang faktor-mental kehendak yang mendasari setiap perbuatan, baik itu melalui tindakan, ucapan, maupun yang hanya melalui pikiran. Kehendak muncul di semua kesadaran. Dengan kata lain, kehendak muncul di setiap momen kehidupan. Akan tetapi, yang dimaksud dengan kamma hanyalah kehendak yang muncul di kesadaran yang baik (kusala-citta) dan kesadaran yang tidak baik (akusala-citta) [kehendak yang muncul di kesadaran resultan (vipāka-citta) dan fungsional (kiriya-citta) tidak bisa disebut sebagai kamma]. Hal ini terjadi karena kemampuan kehendak yang terkemuka dan menjadi pemimpin (padhāna) dari semua formasi-formasi batin (saṅkhāra) dalam hal mengoordinasi dan mengakumulasikan perbuatan baik maupun perbuatan tidak baik yang telah terjadi di masa lalu. Kehendak bisa terlahir dari kontak-mata, kontak-telinga, kontak-hidung, kontak-lidah, kontak-tubuh dan kontak-batin.[4]
Kitab Atthasālinī (I, Bagian IV, Bab I, 111) menyatakan bahwa cetanā memiliki karakteristik mengoordinasikan dhamma terkait (citta dan cetasika lainnya) pada objek, dan fungsinya adalah 'menghendaki':
- ... Tidak ada yang namanya kehendak tanpa karakteristik pengoordinasian di keempat alam keberadaan; semua kehendak memiliki karakteristik/ciri pengoordinasian. Namun, fungsi 'berbuat' (dalam konteks karma) hanya ada pada kesadaran baik (kusala) dan tidak baik (akusala) [tidak ada pada kesadaran fungsional (kiriya)]... Ia memiliki 'pengarahan' sebagai manifestasinya. Ia muncul mengarahkan keadaan-keadaan yang berhubungan, seperti murid utama, kepala tukang kayu, dan sebagainya yang memenuhi tugas-tugas mereka sendiri dan orang lain.[5]