Dalam Buddhisme, acinteyya (Pali; Sanskerta: acintya), yang berarti “tidak dapat dipastikan” atau “tidak dapat dipahami”; avyākata (Pali; Sanskerta: अव्याकृत, avyākṛta), yang berarti “tidak dapat diukur, tidak dapat dijelaskan”;[1] dan atakkāvacara,[2] yang berarti “di luar lingkup nalar”;[2] adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab atau pertanyaan-pertanyaan yang sengaja tidak dijelaskan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan kumpulan pertanyaan yang tidak seharusnya dipikirkan, dan yang ditolak oleh Sang Buddha untuk dijawab, karena dianggap mengalihkan perhatian dari praktik, dan menghalangi pencapaian pembebasan. Berbagai kumpulan pertanyaan ini dapat ditemukan dalam teks-teks Pali dan Sanskerta, dengan daftar yang berisi empat, sepuluh (teks Pali), atau empat belas (teks Sanskerta) pertanyaan yang tidak dapat dijawab.
Etimologi
Kata Sanskertaacintya (Pali: acinteyya) berarti “tidak dapat dipahami, melampaui pikiran, tidak terpikirkan, di luar jangkauan pikiran.”[web 1] Dalam filsafat India, acintya (Sanskerta) adalah
Hal yang harus diterima sebagai penjelasan terhadap fakta, tetapi tidak dapat bertahan di bawah pemeriksaan logika.[3]
Istilah ini juga didefinisikan sebagai
Hal yang tidak bisa atau tidak seharusnya dipikirkan, yang tidak terpikirkan, tidak bisa dipahami, tidak bisa dimengerti, yang melampaui batas-batas pemikiran dan oleh karena itu tidak seharusnya dipikirkan.[web 2]
Istilah ini digunakan untuk menggambarkan realitas mutlak yang berada di luar semua konseptualisasi.[4] Pemikiran tentang hal ini tidak seharusnya dikejar, karena tidak akan membantu dalam mencapai pembebasan.[4]
Istilah-istlah lain dengan makna yang serupa adalah avyākata (Sanskerta: avyākṛta)[4] “pertanyaan yang tidak dapat ditentukan jawabannya secarai pasti,”[5] dan atakkāvacara,[2] “di luar lingkup nalar.”[2]
Atakkāvacara
Nirwana dikatakan sebagai atakkāvacara, “melampaui penalaran logis”.[6] Sulit untuk memahami Nirwana dengan logika atau akal sehat karena Nirwana bukanlah suatu “benda” yang konkret.[6] Nirwana juga tidak dapat dijelaskan dengan logika atau akal sehat kepada seseorang yang belum mencapainya sendiri.[7]
Acinteyya
Empat hal yang tidak bisa dipastikan (Pali: acinteyya) diidentifikasi dalam Acinteyya Sutta (AN 4.77) sebagai berikut:[8]
Jangkauan kekuatan Buddha (Pali: buddha-visaya) [yaitu, cakupan kekuatan yang dikembangkan oleh seorang Buddha sebagai hasil dari menjadi Buddha];
Jangkauan penyerapan meditatif (Pali: jhāna-visaya) dari seseorang yang terbenam dalam jhāna [yaitu, cakupan kekuatan yang dapat diperoleh seseorang saat terbenam dalam jhāna];
Spekulasi tentang [asal-usul, dll., dari] alam semesta (Pali: lokacintā) adalah hal yang tak terukur yang tidak seharusnya dispekulasikan (SN 56.41 mengembangkan spekulasi ini sebagai sepuluh hal yang tak terukur).
Avyākata
Daftar pertanyaan yang tidak dapat dijawab (Pali: avyākata; Sanskerta: avyākṛta) diuraikan dalam teks-teks Buddhis antartradisi.
Sepuluh pertanyaan yang tidak dapat dijawab
Cūḷamālunkya Sutta (MN 63)[9] dan Aggivaccha Sutta (MN 72)[10] memuat daftar sepuluh pertanyaan yang tidak terjawab mengenai pandangan-pandangan tertentu (diṭṭhi):
Dunia ini abadi
Dunia ini tidak abadi
Dunia ini terbatas (tidak infinit)
Dunia ini tidak terbatas (infinit)
Jiwa (jīva) identik dengan sari-tubuh (sārira)
Jiwa tidak identik dengan sari-tubuh
Tathāgata (makhluk yang sepenuhnya tercerahkan) ada setelah kematian
Tathāgata tidak ada setelah kematian
Tathāgata ada sekaligus tidak ada setelah kematian
Tathāgata tidak ada sekaligus tidak tidak ada setelah kematian
Dalam Aggi-Vacchagotta Sutta,[6] “Khotbah kepada Vacchagotta tentang [Perumpamaan] Api” (MN 72),[web 3] Buddha ditanya oleh Vacchagotta tentang “sepuluh pertanyaan yang tidak pasti”[5] (Pali: avyākata):[4]
Apakah alam semesta abadi, tidak abadi, terbatas, atau tak terbatas?
Apakah jiwa dan sari-tubuh (jīvaṃ & sarīraṃ) serupa atau berbeda?
Setelah kematian, apakah Tathāgata ada, tidak ada, ada sekaligus tidak ada, atau tidak ada sekaligus tidak tidak ada?
Buddha menolak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, menghindari terjebak dalam perdebatan, tetapi menjawab dengan perumpamaan:[5]
“Dan bayangkan jika seseorang bertanya kepadamu, ‘Api yang telah padam di hadapanmu, ke arah mana dari sini api itu pergi? Timur? Barat? Utara? Atau selatan?’ Jika ditanya demikian, bagaimana kamu akan menjawab?” “Itu tidak berlaku, Guru Gotama. Api yang membakar bergantung pada bahan bakar rumput dan kayu, yang tidak diberi makan — setelah menghabiskan bahan bakar itu dan tidak diberi bahan bakar lain — diklasifikasikan sebagai ‘padam’ (terlepas).”
"Demikian pula, Vaccha, bentuk fisik apa pun yang digunakan untuk menggambarkan Tathāgata: Tathāgata telah meninggalkannya, akarnya telah dihancurkan, menjadi seperti batang palem yang terpotong, kehilangan kondisi untuk berkembang, dan tidak akan muncul kembali di masa depan. Terlepas dari klasifikasi bentuk, Vaccha, Tathāgata itu dalam, tak terbatas, sulit dipahami, seperti laut. ‘Muncul kembali’ (upapajjati) tidak berlaku (na upeti). ‘Tidak muncul kembali’ (na upapajjati) tidak berlaku. ‘Muncul-kembali dan juga tidak muncul-kembali’ (upapajjati ca na ca upapajjati) tidak berlaku. ‘Bukan muncul-kembali dan juga bukan tidak-muncul kembali’ (neva upapajjati na na upapajjatīti) tidak berlaku.[web 3]
Empat belas pertanyaan
Teks-teks dalam tradisi Sanskerta yang masih ada (serta teks-teks Tibet dan Tionghoa yang mengikuti tradisi Sanskerta) memperluas daftar hal-hal yang tidak dapat dipastikan menjadi empat belas.[11][12][13][14]
1. Apakah dunia abadi?
2. ...atau tidak?
3. ...atau keduanya?
4. ...atau tidak keduanya? (Teks Pali tidak memuat “keduanya” dan “tidak keduanya”)
5. Apakah dunia terbatas?
6. ...atau tidak?
7. ...atau keduanya?
8. ...atau tidak keduanya? (Teks Pali tidak memuat “keduanya” dan “tidak keduanya”)
9. Apakah diri identik dengan tubuh?
10. ...atau berbeda dari tubuh?
11. Apakah Tathāgata (Buddha) ada setelah kematian?
Setelah menjadi apa, kemudian menjadi apakah aku pada masa lalu?
Apakah aku akan ada pada masa depan?
Apakah aku tidak akan ada pada masa depan?
Siapakah aku pada masa depan?
Bagaimana aku pada masa depan?
Setelah menjadi apa, kemudian menjadi apakah aku pada masa depan?
Apakah aku ada?
Apakah aku tidak ada?
Siapakah aku?
Bagaimanakah aku?
Dari mana makhluk-makhluk ini datang?
Akan ke manakah makhluk-makhluk ini akan pergi?
Buddha menyatakan bahwa tidak bijaksana untuk terikat pada kedua pandangan tentang memiliki dan menyadari diri serta pandangan tentang tidak memiliki diri. Setiap pandangan yang melihat diri sebagai “abadi, stabil, kekal, tidak berubah, tetap sama selamanya” adalah “terjerat dalam pandangan, hutan pandangan, belantara pandangan; diskrepansi pandangan, kebingungan (perjuangan) pandangan, belenggu pandangan.”[16]
Halangan menuju pembebasan
Memikirkan keempat acinteyya merupakan halangan dalam mencapai pembebasan. Sacca-saṃyutta (SN 56) dalam kitab Saṃyuttanikāya:[web 4]
Oleh karena itu, wahai para bhikkhu, janganlah merenungkan [salah satu dari pandangan-pandangan ini]. Merenungkan hal-hal tersebut, wahai para bhikkhu:, adalah sia-sia, tidak ada hubungannya dengan perilaku suci yang sejati (lihat ādibrahmacariyaka-sīla), yang tidak membawa kepada ketidaksukaan, pelepasan, kepunahan, maupun pada kedamaian, sampai dengan pemahaman yang sempurna, pencerahan, dan Nibbāna, dll.[17]
Lebih lanjut, Aggi-Vacchagotta Sutta (MN 72, “Pembicaraan kepada Vacchagotta tentang [Perumpamaan] Api,”:
Vaccha, [yang mana pun dari pandangan-pandangan ini] adalah semak belukar pandangan, hutan belantara pandangan, kelainan pandangan, pergulatan pandangan, dan belenggu pandangan. Pandangan-pandangan ini disertai dengan penderitaan, kesedihan, keputusasaan, dan demam, dan tidak membawa kepada bangun dari khayalan, ketidakterikatan, penghentian; menjadi ketenangan, pengetahuan langsung, Pencerahan Penuh, Pembebasan.[web 3]
Buddha lebih lanjut memperingatkan bahwa:
Siapa pun yang berspekulasi tentang hal-hal ini akan menjadi gila dan mengalami frustrasi (kekesalan).[web 5]
↑Steinert, Christian. "ལུང་མ་བསྟན་གྱི་ལྟ་བ་བཅུ་བཞི་". Christian Steinert Tibetan-English Dictionary. Christian Steinert. Diakses tanggal 24 March 2024.
↑Chödrön, Gelongma Karma Migme (2001). "Appendix 8 - Fourteen Unanswered Questions". Maha Prajnaparamita Sastra. Diterjemahkan oleh Lamotte, Étienne.
Bodhi, Bhikkhu (2000), The Connected Discourses of the Buddha: A New Translation of the Samyutta Nikaya, Boston: Wisdom Publications, ISBN0-86171-331-1