Utbah bin Ghazwan bin Harits bin Jabir dari Bani Mazin, ia termasuk barisan orang-orang yang masuk Islam di awal waktu, dalam barisan para sahabat yang hijrah ke Habasyah, di dalam barisan kaum muslimin yang hijrah ke Madinah, dan dalam barisan ahli panah pilih tanding yang banyak berkorban untuk Islam, ia seorang laki-laki berperawakan tinggi.
Dialah orang ke-7 yang masuk Islam, berjanji setia kepada Rasulullah, siap menghadapi orang-orang kafir Quraisy yang kejam dan sewenang-wenang. Pada hari-hari pertama Islam, saat penderitaan dan kesulitan banyak menghadang, Utbah bersama rekan-rekan muslimnya tetap teguh memegang pendirian. Keteguhan yang di kemudian hari menjadi makanan dan penyubur bagi hati nurani manusia.[4]
Penaklukan Ubullah
Amirul Mukminin Umar bin Khattab mengirim Utbah bin Ghazwan dalam sebuah misi penaklukan. Tugas utamanya adalah membersihkan wilayah Ubullah (Basrah) dari pasukan Persia,[5] setelah usai Pertempuran Qadisiyah pada 14 H, yang telah menjadikan wilayah tersebut sebagai pusat serangan terhadap pasukan Islam yang bergerak melalui wilayah jajahan Persia. Misi ini bertujuan untuk membebaskan negeri-negeri dari kekuasaan pasukan Persia.[1]
Sebelum keberangkatan Utbah bersama pasukannya, Umar bin Khattab memberikan pesan yang penuh makna dan arahan tegas:
"Berjalanlah bersama pasukanmu hingga engkau mencapai negeri Arab yang paling jauh dan negeri 'Ajami yang paling dekat. Berjalanlah dengan keberkahan dan keberuntungan dari Allah. Dakwahi orang-orang yang engkau temui. Jika mereka menolak dakwahmu, suruhlah mereka membayar jizyah. Jika mereka juga menolak, maka perangilah mereka tanpa belas kasihan. Hadapilah musuh-musuhmu dan bertakwalah kepada Allah, Tuhanmu."
Utbah bin Ghazwan pun berangkat bersama pasukan yang jumlahnya relatif kecil. Setibanya di Ubullah, ia menghadapi pasukan Persia yang telah dikoordinasikan secara maksimal—pasukan yang merupakan salah satu kekuatan terbaik yang dimiliki Persia saat itu. Dengan sigap, Utbah mengatur barisan pasukannya. Ia berdiri di garis depan, membawa tombak yang terkenal tidak pernah meleset dari sasaran. Sambil mengangkat senjatanya, ia berseru lantang,“Allahu Akbar! Allah pasti menepati janji-Nya!”
Seolah-olah firasatnya membaca peristiwa gaib yang akan segera terjadi. Tak lama setelah beberapa kali serangan, pasukan Islam berhasil menaklukkan Ubullah dan membersihkannya dari tentara Persia. Penduduknya pun terbebas dari tirani yang selama ini menindas mereka. Kemenangan ini menjadi bukti nyata bahwa Allah Yang Maha Agung menepati janji-Nya.[1]
Kepemimpinan Zuhud
Setelah kemenangan tersebut, Utbah bin Ghazwan mengganti nama Ubullah menjadi Basrah. Ia mulai membangun kota tersebut, termasuk mendirikan sebuah masjid besar sebagai pusat ibadah dan dakwah. Utbah berniat kembali ke Madinah untuk menghindari jabatan kepemimpinan, tetapi Amirul Mukminin memerintahkannya untuk tetap tinggal. Maka ia pun menetap di Basrah sebagai imam salat, guru agama, sekaligus hakim yang memutuskan perkara dengan adil.
Utbah memberikan teladan luar biasa dalam hal kezuhudan, kewaraan, dan kesederhanaan hidup. Ia bersungguh-sungguh memerangi gaya hidup mewah dan berlebihan, hingga sebagian masyarakat yang masih mencintai dunia merasa tidak senang dengan sikapnya.[1]
Suatu ketika, ia mengumpulkan masyarakat dan menyampaikan sebuah khutbah:
“Demi Allah, aku pernah hidup bersama Rasulullah sebagai orang ketujuh yang pertama masuk Islam. Saat itu kami tidak memiliki makanan selain daun-daun pepohonan, hingga bibir-bibir kami terluka karena memakannya. Pernah suatu hari aku mendapat sehelai kain, maka aku memotongnya menjadi dua. Setengahnya kuberikan kepada Sa’ad bin Malik (Sa'ad bin Abi Waqqash), dan setengahnya kupakai sendiri.”
Utbah sangat khawatir jika dunia akan membahayakan keislamannya dan kaum Muslimin. Karena itulah, ia selalu mengajak masyarakat hidup dalam qana'ah dan kesederhanaan. Banyak orang mencoba membujuknya agar menerima gaya hidup mewah dan menikmati jabatan yang ia emban, dengan alasan bahwa seorang pemimpin berhak atas kehormatan duniawi, apalagi jika memimpin sebuah negeri yang sebelumnya terbiasa dipimpin oleh para raja yang hidup mewah. Namun, Utbah dengan tegas menolak dan menjawab,“Sungguh aku berlindung kepada Allah jika aku terlihat besar di mata dunia kalian, tapi kecil di sisi Allah.”
Ketika ia melihat ekspresi wajah masyarakat yang menunjukkan ketidakpuasan atas seruannya untuk hidup sederhana, ia berkata kepada mereka,“Kelak kalian akan melihat penguasa-penguasa lain setelah aku.”[1]
Akhir Hayat
Ketika musim haji tiba, Utbah bin Ghazwan memutuskan untuk menunaikan ibadah haji. Sebelum berangkat, ia menunjuk salah seorang saudaranya untuk menggantikan sementara posisinya sebagai pemimpin di Basrah. Seusai melaksanakan ibadah haji, Utbah tidak langsung kembali ke Basrah. Ia justru pergi ke Madinah untuk menghadap Amirul Mukminin Umar bin Khattab, memohon agar dirinya dibebaskan dari tugas sebagai gubernur.
Namun, Umar bin Khattab tidak dapat begitu saja melepaskan sosok agung seperti Utbah bin Ghazwan. Seorang pemimpin yang zuhud, tidak rakus akan jabatan, dan sangat amanah—berbanding terbalik dengan kebanyakan orang yang justru berlomba-lomba mengejar kedudukan. Umar pun berkata kepada para pejabatnya,“Kalian letakkan amanah di atas leherku, lalu kalian ingin meninggalkanku sendirian? Tidak, demi Allah! Aku tidak akan membebastugaskan kalian.”[1]
Demikianlah ketegasan Umar bin Khattab terhadap Utbah. Maka, Utbah bin Ghazwan tidak memiliki pilihan lain selain menaati perintah tersebut. Ia pun bersiap kembali ke Basrah. Namun sebelum menaiki untanya, ia menghadap kiblat dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, memanjatkan doa penuh harap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak dikembalikan ke Basrah dan tidak lagi diangkat menjadi gubernur. Doanya pun dikabulkan.
Dalam perjalanan kembali menuju wilayah kekuasaannya, Utbah bin Ghazwan wafat di tengah jalan. Ia kembali ke hadirat Sang Pencipta dalam keadaan bahagia, penuh ketenangan dan keridaan atas seluruh prestasi dan pengorbanan yang telah ia berikan selama hidupnya.
Ia wafat dalam keadaan menjaga kezuhudan, menjaga kesucian diri, dan senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat yang Allah karuniakan. Dan kini, pahala yang besar telah disiapkan oleh Allah untuknya, sebagai balasan atas ketulusan dan pengabdiannya di jalan kebenaran.[1]
↑Muhammad Khalid, Khalid (Cetakan kesembilan April 2018). 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5
Daftar pustaka
Al-Asqalani, Abu al-Fadhl Ahmad bin Hajar (1415 H). Adil Ahmad Abdul-Maujud; Ali Muhammad Mu'awwidh (ed.). Al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaḥābah (dalam bahasa bahasa Arab). Vol.Jilid 4. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. hlm.363–364. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-11-25. Diakses tanggal 2017-10-08. ; ; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Tahun (link)
Az-Zarkali, Khairuddin bin Mahmud bin Muhammad (2002). Al-A‘lām (dalam bahasa bahasa Arab). Vol.Jilid 4. Beirut: Dar el-Ilm Lilmalayin. hlm.201–202. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-08-09. Diakses tanggal 2017-10-08. ; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Ibn Sa'ad, Abu Abdillah Muhammad (1990). Muhammad Abdul-Qadir Atha (ed.). Al-Ṭabaqāt al-Kubrā (dalam bahasa bahasa Arab). Vol.Jilid 3. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. hlm.72–73. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-07-20. Diakses tanggal 2017-10-08. ; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)