Setelah meninggalnya Nabi Muhammad banyak suku-suku Arab yang kemudian kembali murtad dan melawan terhadap Kekhalifahan Islam di Madinah. Khalifah Abu Bakar mengkordinasikan 11 korps pasukan untuk menumpas pemberontak. Abu Bakar menugaskan Ikrimah bin Abu Jahal untuk memimpin salah satu korps untuk menumpas Musailamah al-Kazzab, tetapi tidak bertemu dalam sebuah pertempuran. Kemudian Khalifah Abu Bakar menugaskan Khalid bin Walid untuk menumpas Musailamah al-Kazzab, setelah ia berhasil menumpas pemberontak di tempat lain. Tugas Ikrimah dalam pertempuran ini adalah untuk memastikan Musailamah al-Kazzab tetap di Yamamah hingga Khalid bin Walid datang untuk memimpin pasukan menumpas Musailamah al-Kazzab.[1]
Serangan Kedua Pasukan Muslim
Setelah kedatangan Khalid bin Walid, pasukan Muslim kemudian maju ke arah Yamamah (sekarang berada di sebelah selatan kota Riyadh, ibukota Arab Saudi) untuk menumpas Musailamah al-Kazzab. Khalid menempatkan Zaid bin Khattab dan Abu Hudzaifah sebagai komandan sayap kanan kiri pasukan. Panji Muhajirin dipegang Salim maula Abu Hudzaifah sementara panji Anshar dipegang Tsabit bi Qais. Sementara Musailamah menempatkan Rajjal bin Unfuwah dan Muhkam (Muhakam bin Thufail) sebagai komandan sayap kanan kiri.[1]
Rajjal pernah bertemu Muhammad bersama sahabat lain lalu Muhammad mengatakan,"Sungguh di antara kalian ada seorang lelaki yang gigi gerahamnya di neraka lebih besar dartpada gunung Uhud."
Letak Yamamah di Selatan Kota Riyadh.
Pertempuran ini, pasukan Muslim dan pasukan Musailamah berjalan dengan seimbang dalam waktu cukup lama, bahkan pasukan Musailamah mampu memukul muslimin hingga ke tenda mereka. Khalid bin Walid bersama Syurahbil, kemudian berusaha untuk menarik Musailamah masuk dalam pertempuran untuk menumpas Musailamah dengan maksud untuk menghancurkan moral para pemberontak. Banyak pasukan muslim terbunuh dalam pertempuran ini, termasuk Zaid bin Khattab terbunuh setelah ia membunuh Rajjal dengan kalimat terakhir Zaid,"Demi Allah, aku tidak akan berbicara hingga Allah mengalahkan mereka atau aku berjumpa Allah Ialu aku berbicara menyampaikan hujjahku."
Abu Hudzaifah pun terbunuh dengan mengambil posisi bertahan di lubang bersama panjinya dengan pesan terakhirnya,"Wahai parapenghafal Al Qur'an, hiasilah AI Qur'an dengan perbuatan kalian." Khalid lalu menyusun ulang formasi tempurnya berdasarkan kesukuan lalu membakar semangat suku / kelompok masing-masing.[1][2] “Tunjukkan kelebihan sukumu masing-masing!”
Khalid bin Walid kemudian maju ke garis depan pertempuran untuk menantang duel dengan para pemimpin pemberontak termasuk Musailamah. Ajakan duel ini disetujui dengan Khalid bin Walid berduel dengan pemimpin pemberontak. Satu per satu pemimpin pemberontak berhasil dikalahkan Khalid bin Walid hingga ia berhasil berduel dengan Musailamah al-Kazzab, tetapi Musailamah al-Kazzab berhasil melarikan diri bersama dengan pasukannya ke dalam benteng.[1] Saat masuk ke benteng, Muhkam terkena panah Abdurrahman bin Abu Bakar di lehernya hingga terbunuh.[1]
Akhir Pertempuran
Musailamah al-Kadzab berserta 7.000 pasukannya kemudian mundur ke benteng pertahanannya. Pasukan Muslim tetap maju untuk menumpas Musailamah hingga ke benteng pertahanannya dan berhasil menjebol pertahanan pasukan Musailamah setelah sahabat Barra bin Malik meloncat sendiri masuk ke benteng musuh dan membuka gerbang dari dalam sehingga tubuhnya penuh luka dari pedang dan tombak musuh.[3]
Pemakaman Pejuang Muslimin di Yamamah
Akhirnya Musailamah dan pasukannya berusaha mempertahankan diri dengan terus melawan. Pada akhirnya Musailamah dapat dibunuh dengan pedang Abdullah bin Zaid bin Ashim, Abu Dujanah dan bersamaan ditombak oleh Wahsyi. Seluruh pasukan Musailamah dapat dikalahkan dalam pertempuran ini.[1][3] Sebanyak 10.000 lebih pasukan Musailamah terbunuh di dalam benteng.
Pertempuran Yamamah mengorbankan lebih 70 sahabat penghafal al-Quran, sehingga Abu Bakar mempersiapkan penghafal Quran baru dan memisahkan (berbagi tugas sesuai kemampuan) pejuang muslim agar tidak turun berperang semua. Saudara Umar bin Khathab yaitu Zaid bin Khathab ikut terbunuh (syahid dalam Islam) dalam pertempuran ini.[1]
Paska pertempuran Yamamah, Khalid membuat perjanjian damai dengan penduduk yang tersisa dari Bani Hanifah. Ia menikahi putri Mujja'ah bin Murarah selaku pemimpin Bani Hanifah. Rampasan perang dikirimkan ke Madinah, termasuk budak wanita yang dinikahi Ali bin Abi Thalib yang melahirkan Muhammad bin al-Hanafiyah. Abu Bakar lalu menugaskan Khalid menuju ke Irak melalui kurir surat khususnya Abu Said al-Khudri.[1]
Bacaan lanjutan
A.I. Akram, The Sword of Allah: Khalid bin al-Waleed, His Life and Campaigns, Nat. Publishing. House, Rawalpindi (1970) ISBN 0-7101-0104-X.