Wahsyi (وحشي, memiliki arti nama "yang buas" atau "yang liar").[6]
Kemerdekaan dari perbudakan
Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa Hindun binti Utbah memerintahkan Wahsyi untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, dan para ulama hadis Sunni mengatakan: Riwayat riwayat ini tidak otentik dan mursal (terputus).[7][8] Sebaliknya, kisah sebenarnya adalah Wahsyi akan dibebaskan jika ia membunuh Hamzah atas permintaan tuannya, Jubair bin Muth'im, sebagai balas dendam atas dibunuhnya Thu'aimah bin Adi, paman Jubair, oleh Hamzah.[9]
Setelah memeluk Islam
Setelah berakhirnya Pertempuran Uhud, Wahsyi dibebaskan dan hidup di Makkah. Namun setelah Pembukaan Makkah oleh umat Muslim, Wahsyi melarikan diri ke Ta'if. Setelah Ta'if dikuasai oleh umat Muslim, Wahsyi menemui Muhammad untuk mengucapkan syahadat. Setelah Muhammad mengenali dirinya sebagai pembunuh pamannya yaitu Hamzah, Muhammad menyatakan bahwa ia tidak akan melihat Wahsyi hingga hari kebangkitan terjadi karena mengingat musibah yang menimpa Hamzah. Setelah Muhammad meninggal, Wahsyi mengikuti Pertempuran Yamamah pada tahun 632. Ia berhasil membunuh pemimpin pasukan musuh, Musailamah al-Kazzab, yang mengaku sebagai nabi. Senjata yang digunakan untuk membunuh Musailamah adalah lembing yang sama yang digunakannya ketika membunuh Hamzah.[10] Ia dibantu oleh dua orang Anshar yang bernama Abdullah bin Zaid bin Ashim dan Abu Dujanah.[11]
Wahsyi kemudian turut serta dalam Pertempuran Yarmuk di masa Khalifah Umar bin Khathab dan tinggal di Homs hingga meninggal di sana sekitar tahun 645 pada masa kekhalifahan Utsman. Ia memiliki putra yang bernama Harb.[5][12] Semasa Umar, Wahysi sering mabuk sehingga namanya dihapus dalam daftar penerima bantuan keuangan pejuang Islam, dan ia wafat dalam kondisi mabuk.[13]