Pada masa jahiliyah, Hindun menikah dengan al-Fakih bin al-Mughirah, salah seorang dari suku Bani Makhzum.[1][2] Ia kemudian menikah dengan saudara al-Fakih, Hafsh bin al-Mughirah, dan melahirkan putra yang bernama Aban bin Hafsh.[2][3] Ia kemudian menikah dengan Abu Sufyan dan melahirkan Muawiyah,[3]Utbah,[4] Ummul Hakam, dan Juwairiyah.[5] Nasabnya Hindun binti 'Utbah bin Rabi'ah bin 'AbduSyams bin 'Abdu Manaf dari Bani Umayyah Al-Qurasyiyyah. Ibunya adalah Shafiyyah binti Umayyah binHaritsah bin Al-Auqashi bin Murrah bin Hilal bin Falih bin Dzakwan bin Tsa'labah bin Buhtah bin Salim.[6]
Kehidupan
Keluarganya (ayah, paman, saudara dan sepupunya) terbunuh dalam Pertempuran Badar oleh pasukan muslimin saat ia masih memusuhi Islam sehingga ia dendam pada Hamzah pembunuh keluarganya. Zainab binti Muhammad menceritakan kunjungan Hindun ke rumahnya saat Zainab hendak hijrah ke Madinah. "Ketika kami hendak berkemas-kemas di Makkah untuk menyusul ayahku di Madinah, Hindun binti Utbah menemuiku dan berkata, 'Wahai putri Muhammad, bukankah aku mendengar bahwa engkau hendak menyusul ayahmu? Wahai putri pamanku, jika engkau memerlukan peralatan atau logistik yang dapat membantumu selama dalam perjalanan, atau harta benda yang dapat membuatmu sampai di tempat ayahmu, aku mempunyai semua yang engkau butuhkan. Jangan malu. Apa yang dirasakan wanita tidak seperti yang dirasakan laki-laki." Zainab mengenang tawaran itu, "Sungguh demi Allah, aku tidak melihatnya mengatakan ini kecuali akan dia laksanakan, tapi dia menyamarkannya. Aku pun menolak meskipun menginginkannya."[7]
Lalu saat Pertempuran Uhud ia perintahkan budaknya Wahsyi untuk membunuh Hamzah bin Abdul Mutholib, paman Muhammad, dengan janji kemerdekaannya dari budak. Setelah Hamzah terbunuh, Hindun bersorak dan mencabik tubuh Hamzah lalu menggigit jantungnya.[8]
Saat penaklukan Mekah oleh Muhammad, Hindun dan suaminya, Abu Sufyan menyatakan masuk Islam.[9] Ketika pulang ke rumah seusai bai'at dengan Muhammad,ia melihat ada sebuah patung di rumahnya. Seketika itu juga ia mengambil kapak dan memukulkannya ke patung tersebut hingga hancur berkeping-keping. la pun berkata: "Kami dulu tertipu olehmu. Kami dulu tertipu olehmu."[10]
Aisyah menuturkan, "Hindun binti Utbah istri Abu Sufyan menghadap Rasulullah dan berkata, 'Ya Rasulullah, Abu Sufyan itu adalah orang yang kikir. Ia tidak suka memberi belanja yang cukup buat saya dan anak-anaknya, melainkan dengan hartanya yang saya ambil tanpa setahu dia. Apakah itu dosa bagi saya?' Maka beliau bersabda, 'Ambillah dari hartanya yang cukup buatmu dan anak-anakmu dengan cara yang baik.''[11]
Saat Pertempuran Yarmuk melawan Romawi, Hindun ikut menjadi pembantu muslimin di perkemahan.[10] Ia berkata kepada satuan barisan perempuan muslimah, "Hendaknya kalian membantu pasukan Islam yang hendak melarikan diri dengan pedang-pedang kalian."
Hindun binti 'Utbah meminjam kepada Khalifah Umar uang dari baitul mal sebanyak empat ribu dirham untuk dijadikan modal dagang, dan menjamin akan membayarnya. Maka Umar pun memberikan pinjaman kepadanya. Lalu Hindun pergi membawa uang tersebut ke daerah Kalb membeli barang untuk dijual. Kemudian sesampainya di Madinah dan menjual barang, dia mengadukan kehilangan (uang tersebut). Maka Umar berkata kepadanya, "Jika harta itu milikku, niscaya aku tidak akan mempersoalkannya. Tapi, uang itu milik kaum muslimin." Lantas Umar menahan Abu Sufyan agar melunasi hutang Hindun. [12]
↑Al-Muafiri, Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam (2020-12-18). Sirah Nabawiyah lbnu Hisyam: Jilid 2 (dalam bahasa Melayu). Darul Falah. hlm.56. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)