"Zaid" beralih ke halaman ini. Untuk Zaid yang disebutkan dalam Alquran, lihat Zaid bin Haritsah. Untuk orang lain bernama Zaid, lihat Zaid (disambiguasi).
Zaid bin Tsabit an-Najjari al-Anshari adalah salah seorang sahabat NabiMuhammad dan merupakan penulis wahyu dan surat-surat Nabi.
Kehidupan awal
Nasabnya adalah Zaid bin Tsabit bin Adh-Dhahhak bin Zaid bin Ludzan bin Amr bin Abdu Auf bin Ghanam bin Malik bin Taymullah al-Najjar bin Tsa'labah.[1] Ibunya bernama an-Nawar bin Malik.[2] Zaid bin Tsabit merupakan keturunan Bani Najjar, yang mulai tinggal bersama Nabi Muhammad ketika ia hijrah ke Madinah. Ibunya kerap mengirimkan makan malam ke rumah Muhammad sehingga ia mendapat doa berkah. Rumah Nawar yang tinggi menjadi tempat adzan Bilal sebelum didirikan masjid Nabawi dengan tiang adzannya.[3]
Ketika berusia berusia 11 tahun, Zaid bin Tsabit dikabarkan telah dapat menghafal 11 surahAlquran. Zaid bin Tsabit turut serta bersama Nabi Muhammad dalam perperangan Khandaq dan peperangan-peperangan lainnya. Dalam peperangan Tabuk, Nabi Muhammad menyerahkan bendera Bani Najjar yang sebelumnya dibawa oleh Umarah kepada Zaid bin Tsabit. Ketika Umarah bertanya kepada Nabi, ia berkata, "Al-Quran harus diutamakan, sedang Zaid lebih banyak menghafal Al-Quran daripada engkau."
Penulis wahyu
Kekuatan daya ingat Zaid bin Tsabit telah membuatnya diangkat penulis wahyu dan surat-surat Nabi Muhammad semasa hidupnya, dan menjadikannya tokoh yang terkemuka di antara para sahabat lainnya. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit bahwa:
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata kepadanya "Aku berkirim surat kepada orang, dan aku khawatir, mereka akan menambah atau mengurangi surat-suratku itu, maka pelajarilah bahasa Suryani", kemudian aku mempelajarinya selama 17 hari, dan bahasa Ibrani (yahudi) selama 15 hari.[2]
Saat Pertempuran Badar, Zaid ingin terlibat namun karena usianya masih 13 tahun sehingga Muhammad menolaknya. Ia pulang dengan sedih namun ditenangkan ibunya, Nawar.
Di kemudian hari pada zaman kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, Zaid bin Tsabit adalah salah seorang yang diamanahkan untuk mengumpulkan dan menuliskan kembali Al-Quran dalam satu mushaf. Dalam perang Al-Yamamah banyak penghafal Al-Quran yang gugur, sehingga membuat Umar bin Khattab cemas dan mengusulkan kepada Abu Bakar untuk menghimpun Al-Quran sebelum para penghafal lainnya gugur. Mereka kemudian memanggil Zaid bin Tsabit dan Abu Bakar mengatakan kepadanya:
"Anda adalah seorang pemuda yang cerdas dan kami tidak meragukanmu".
Setelah itu Abu Bakar menyuruh Zaid bin Tsabit untuk menghimpun Al-Quran. Meskipun pada awalnya ia menolak, tetapi setelah diyakinkan akhirnya Zaid bin Tsabit dengan bantuan beberapa orang lainnya pun menjalankan tugas tersebut.[2]
Ulama
Zaid bin Tsabit telah meriwayatkan sembilan puluh dua hadist, yang lima daripadanya disepakati bersama oleh Iman Bukhari dan Imam Muslim. Bukhari juga meriwayatkan empat hadist yang lainnya bersumberkan dari Zaid bin Tsabit, sementara Muslim meriwayatkan satu hadist lainnya yang bersumberkan dari Zaid bin Tsabit. Zaid bin Tsabit diakui sebagai ulama di Madinah yang keahliannya meliputi bidang fiqih, fatwa dan faraidh (waris).[2]
Mursi, Muhammad Sa'id (2007). Muhammad Ihsan, Lc. (ed.). Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah. Diterjemahkan oleh Harahap, Khoirul Amru; Faozan, Achmad. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN979-592-387-0.