Suhaib sebenarnya orang Arab, ayahnya gubernur di Irak yang saat itu wilayah Persia (Ubullah), tetapi saat masih kecil desanya diserang Romawi dan dia diambil dijadikan budak sampai dewasa di Romawi Timur (Bizantium). Ayahnya Sinan sampai hilang ingatan karena sedih kehilangan Shuhaib.[3]
Suatu hari, Shuhaib mendengar pembicaraan antara majikannya dengan seorang dukun. Dukun itu berkara, “Di jazirah Arab telah muncul seorang nabi dimana kitab terdahulu telah meberitakan kedatangannya.” Pembicaraan itu menarik perhatian Shuhaib dan mendorong keinginannya untuk melarikan diri. la sangat ingin menjumpai nabi yang telah diwartakan kedatangannya dalam kitab terdahulu. Setelah 20 tahun menjadi budak Suhaib bisa melarikan diri ke Mekkah.[3]
Shuhaib Menjadi Muslim
Selama di Mekah, Shuhaib pelan-pelan mulai berdagang dari berdagang skala kecil hingga sukses. Lalu Shuhaib menemukan keberadaan Nabi yang beritanya ia dengar dahulu.
Shuhaib bin Sinan dan Ammar bin Yasir masuk Islam pada waktu yang sama. Ketika itu mereka bertemu di depan rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam, tempat Nabi Muhammad mengajarkan Islam kepada para sahabatnya. Saat bertemu Ibnu Sinan, Amar bertanya, “Apa yang kaulakukan di sini?”
Shuhaib justru balik bertanya, “Kau sendiri, apa tujuankmu ke sini? Ammar menjawab, “Aku ingin masuk ke tempat Muhammad dan mendengar perkataannya.”
Shuhaib berkata, “Aku pun sama.” Keduanya memasuki rumah itu dan Nabi berkenan menerima mereka serta menjelaskan kepada mereka ajaran Islam.[3] Mereka masuk Islam setelah lebih 30 orang berislam.
Awalnya Shuhaib menyembunyikan keislamannya, tetapi tak lama diketahui juga oleh kaum Quraisy Mekah sehingga ia ikut mendapatkan tindakan keras. Sampai akhirnya Nabi perintahkan hijrah ke Madinah, ia pun segera berangkat.
Saat Shuhaib hendak berangkat hijrah ke Madinah, sekeiompok Quraisy mengikutinya diam-diam. TKetika di tempat yang sepi, orang-orang Quraisy itu mencegat dan mengepung Shuhaib. Namun keinginannya untuk hijrah ke Yatsrib tak tergoyahkan oleh gangguan apa pun. Karena itu, ketika kaum Quraisy menghadangnya, ia berlari dan naik ke tempat yang lebih tinggi lalu mempersiapkan busur dan anak panahnya. la arahkan panahnya kepada para pengejarnya, lalu berteriak keras, “Hai kaum Quraisy, kalian pasti tahu, aku adalah orang yang sangat mahir memanah. Aku dikenal sebagai pemanah yang paling jitu. Anak panahku tak pernah meleset. Demi Allah, jika kalian memaksa mendekatiku, kalian tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali hujan anak panahku. Jika anak panahku habis, aku akan hancurkan kalian dengan pedangku. Aku tidak akan pernah menyerah selama tanganku masih memegang senjata.”
Melihat bahwa kaum Quraisy itu tidak gentar dengan ancaman anak panahnya, Shuhaib berkata, “Bagaimana jika kuserahkan seluruh hartaku kepada kalian? Apakah kalian akan meinbiarkanku pergi?”
Rupanya penawaran itulah yang dinanti-natikan kaum musyrik Qurasiy sehingga mereka setuju melepaskan Shuhaib.[3]
Saat Shuhaib tiba di Quba, pinggiran Yastrib (Madinah). Di tempat itulah ia bertemu dengan Nabi. Ketika keduanya berjumpa, Nabi berkata kepadanya dengan wajah gembira, “Perniagaan yang beruntung wahai Abu Yahya, sungguh perniagaan yang menguntungkan.”
Shuhaib tampak terkejut mendengar ucapan Nabi, tetapi ia segera menyahut dengan nada yang ceria, “Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak pernah menceritakan masalah yang kuhadapi di perjalanan kepada seorang pun. Engkau pastimengetahuinya dari Malaikat Jibril.”[3] Peristiwa ini direkam dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 207:
"Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirmya karena mencari rida Allah dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya."
Shuhaib ar-Rumi adalah veteran Perang Badar, Perang Uhud, Khandak dan lainnya bersama Nabi. Shuhaib adalah pejabat sementara khalifah saat Umar bin Khathab terbunuh dan Ustman bin Affan belum diangkat menjadi khalifah. Umar pernah berkata kepadanya, “Aku lihat kau banyak memberi dan kadang-kadang berlebihan.” Shuhaib menjawab, “Aku mendengar Nabi berkata, ‘Sebaik-baik kamu adalah yang mau memberi makanan."[3]
Kulitn Shuhaib kemerahan, rambutnya lebat, postur tubuhnya tidak sedang meskipun terlihat agak pendek, dan logat bicaranya masih melekat dengan logat Romawi.[3]