Tempat ini banyak diziarahi oleh umat Muslim, karena di tempat tersebut banyak dimakamkan sahabat dan keluarga Muhammad, sehingga menjadi salah satu dari dua pemakaman tersuci dalam banyak tradisi Islam, selain Jannatul Mu'alla. Banyak cerita bahwa Muhammad sering menziarahi pemakaman tersebut setiap kali melewatinya.
Sejarah
Ketika Muhammad tiba di Madinah dari Makkah, pada September 622, al-Baqi' dahulunya adalah tanah yang ditumbuhi pohon-pohon gharqad (Lycium shawii). Menurut catatan sejarah, setelah hijrahnya Muhammad, permukiman di Madinah mulai dibangun di sekitar Baqi', dan kemudian ditetapkan sebagai pemakaman umum. Lahan yang akan dijadikan tapak pemakaman dibersihkan, dan kelak dijadikan pemakaman Muslim yang meninggal di Madinah.[1] Al-Baqi' berlokasi di suatu tempat yang di sebelah timurnya adalah Nakhl, dan di sebelah baratnya berupa rumah penduduk. Sebelum dihancurkan, Baqi terletak di balik permukiman.[3]
Selama masa pembangunan Masjid Nabawi, pada lahan yang dibeli dari dua orang anak yatim saat pertama kali Nabi datang di Madinah, As'ad bin Zurarah, sahabat Nabi Muhammad, meninggal dunia. Muhammad memilih tanah tersebut sebagai pemakaman dan As'ad menjadi orang pertama yang dimakamkan dari Kaum Anshar.
Ketika Muhammad ikut Perang Badar, putrinya Ruqayyah jatuh sakit dan meninggal pada tahun 624. Ia dimakamkan di Baqi. Ia menjadi orang Ahlulbait pertama yang dimakamkan di tempat tersebut.
Setelah Muhammad pulang dari perang tersebut, Utsman bin Mazh'un meninggal pada 626.[1] Ia menjadi orang pertama dari Kaum Muhajirin yang dimakamkan di tempat tersebut.
Ketika putra Muhammad, Ibrahim meninggal, Muhammad memerintahkan agar Ibrahim dimakamkan di situ.[4] Di bawah perintah Muhammad, dua putri lainnya juga dimakamkan di dekat makam Utsman bin Mazh'un, yaitu Zainab dan Ummu Kultsum.[5]
Awalnya, khalifah ketiga Utsman bin 'Affan[6] dimakamkan di dekat pemakaman Yahudi. Perluasan pertama pemakaman ini dalam sejarah dilakukan oleh Muawiyah I, khalifah pertama Umayyah. Untuk menghormati jasa-jasa Utsman, Muawiyah memasukkan pemakaman Yahudi tersebut ke dalam Baqi. Kekhalifahan Umayyah juga membangun kubah pertama di atas makam Utsman. Sepanjang sejarah, banyak kubah dan struktur dibangun di atas makam-makam tokoh penting di Baqi.
Sebelum berdirinya Negara Saudi Kedua pada abad ke-19, mereka mengambil alih Makkah dan Madinah pada 1806. Mereka menghancurkan banyak sekali bangunan keagamaan seperti kuburan dan tempat-tempat ibadah,[9] yang dibangun di dalam atau di sekitar Baqi,[10] untuk menegakkan tauhid dan memberantas syirik dan bid'ah.[1] Semuanya dihancurkan tanpa kecuali hingga menjadi tanah,[8][11] karena klaim terhadap praktik penyembahan kuburan.[12]
Penghancuran kedua
Wangsa Saud mengambil alih lagi kekuasaan Makkah dan Madinah pada 1924[8] atau 1925.[1] Pada tahun-tahun berikutnya, Raja Ibnu Saud memberi izin menghancurkan bangunan dan situs-situs sejarah atas perintah QadiAbdullah bin Bulaihid, dan penghancuran dimulai pada 21 April 1926[8] (atau 1925)[7][13] oleh kelompok Ikhwan.[14] Batu-batu nisan (kijing) yang sederhana pun tak luput dari penghancuran.[1] Eldon Rutter memandang penghancuran tersebut ibarat sebuah gempa: "Semua yang ada di atas makam telah hancur dan hanya menyisakan gundukan tanah dan batu, kayu-kayu, batang besi, balok-balok batu, dan pecahan semen dan bata, yang berserakan."[8]
Penghancuran kedua ini dibahas dalam Majles-e Shora-ye Melli (Majelis Syura Iran) dan diutuslah perwakilan ke Hijaz untuk menginvestigasi. Pada,[kapan?] banyak upaya yang terus digodok oleh ulama dan tokoh politik Iran untuk mengembalikan bangunan di atas makam.[8] Sejumlah kelompok Sunni, Sufi, dan Syiah memprotes penghancuran makam tersebut[1][13] dan protes tersebut telah digaungkan selama bertahun-tahun.[1][15] Hari tersebut dianggap sebagai Yaum-e Gham ("Hari Dukacita").[13] Para tokoh intelektual Sunni merasa kecewa atas situasi pemakaman tersebut, tetapi Saudi menolak seluruh kritik tersebut dan menolak untuk memugar kembali bangunan di atas kuburan dan mausoleum.[8]
Utsman bin 'Affan, sahabat Muhammad, Khalifah ke-3. Pertama kali dimakamkan di dekat pemakaman Yahudi, dan kemudian Muawiyah I memperluas Al-Baqi' agar Utsman masuk ke dalamnya.[17][18]
Makam Fatimah (satu kubur di depan) dan Hasan, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, dan Ja'far ash-Shadiq (baris kedua kiri ke kanan, empat kubur sisi ke sisi), dan Abbas bin Abdul Muthalib (satu kubur di kanan)
Makam istri-istri Muhammad
Makam Ibrahim bin Muhammad
Makam Utsman bin Affan, dengan Masjid Nabawi di belakang, menghadap ke arah barat. Terlihat Kubah Hijau.
↑"Al Baqi Cemetery". Al-Mustafa International University (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2017-11-07. Diakses tanggal 20 June 2017.