Karier
Primus yang berdarah Iran dan Jawa ini mengawali kariernya di dunia akting sejak tahun 1993, diikuti dengan mengikuti pemilihan model Coverboy Aneka Yess 1995 dan terpilih sebagai pemenang The Best Catwalk dan pernah mengikuti ajang Abang None Jakarta Timur 1995 sebagai pemenang Wakil 1 Abang Jakarta Timur (Juara 2) dan mewakili wilayah Jakarta Timur di Pemilihan Abang None Jakarta 1995 [1]
Sinetron yang melejitkan namannya adalah serial Cinta bersama Desy Ratnasari yang ditayangkan di RCTI. Beberapa serial yang pernah dibintanginya antara lain Kehormatan, Panji Manusia Millenium, Papaku Keren-Keren, Si Kembar, Titipan Ilahi, dan Cinta itu Nggak Buta. Kemampuan aktingnya telah dibuktikan dengan mendapat penghargaan sebagai aktor terfavorit versi Panasonic Award tahun 1999.[2] Primus juga memerani beberapa spot iklan.
Pada tahun 2008 Primus secara mengejutkan menyatakan untuk turut serta dalam Pemilihan umum Bupati Subang 2008 sebagai kandidat bupati (berpasangan dengan Agus Nurani) dari kalangan independen.[3] Dalam pemilihan 26 Oktober 2008 ia terkalahkan. Tidak patah arang, ia mencalonkan diri sebagai anggota DPR pada Pemilihan Umum Legislatif 2009 sebagai calon yang diajukan Partai Amanat Nasional untuk Daerah Pemilihan Jawa Barat IX (mencakup salah satunya Kabupaten Subang) dan terpilih. Pada pemilu legislatif 2014, Primus maju sebagai calon legislatif dapil Jawa Barat V dan lolos ke Senayan dan menjadi anggota DPR periode 2014-2019 dengan perolehan suara 45.485 suara.[4] Pada pemilu legislatif 2019, Primus mencalonkan diri lagi, masih di dapil Jawa Barat V, ia terpilih dengan suara sebanyak 86.983.[5]
Pada kontestasi Pemilu legislatif 2024, Primus masih terpilih menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat DPR-RI dari Partai PAN mewakili suara di wilayah Jawa Barat V dengan perolehan suara 128.892 pemilih[6]
Keterlibatannya dalam dunia politik dibuktikan dengan mengawal isu-isu penting. Sebagai anggota Komisi VI, Primus membidangi masalah seputar perdagangan, perindustrian, investasi, koperasi, UKM dan BUMN, serta standardisasi nasional. Pemikirannya dalam persoalan tenaga kerja misalnya, ia mengusulkan Indonesia bisa mengirimkan Tenaga Kerja Indonesia ke Rusia. Pertimbangannya ekonomi Rusia yang maju sangat berpeluang memberikan penghasilan lebih tinggi daripada negara lainnya bagi para pekerja Indonesia.[7]