Eko Hendro Purnomo yang lebih dikenal dengan Eko Patrio (lahir 30 Desember 1970[1][2]) adalah seorang pelawak, pembawa acara, produser, politikus, dan pemeran Indonesia. Ia merupakan satu dari tiga anggota grup komedi Indonesia, Patrio bersama Parto dan Akri.[butuh rujukan]
Kehidupan awal
Eko dilahirkan dari pasangan Sumarsono Mulyo dan Sumini. Ketika masih SMA, Eko membentuk kelompok lawak Seboel, yang merupakan singkatan dari "Sekelompok Bocah Eling", bersama Jejen dan Tejo. Mereka memenangi sebuah lomba lawak yang diadakan oleh Radio Suara Kejayaan. Ketika ia lulus kuliah, ia kembali membentuk kelompok lawak baru bernama Patrio bersama Akri dan Parto.[butuh rujukan]
Kehidupan pribadi
Eko menikah dengan aktris Viona Rosalina pada 12 Oktober 2001. Mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Syawal Adrevi Putra Purnomo, Nayla Ayu, dan Cannavaro Adrevi Putra Purnomo.[butuh rujukan]
Karier
Karier politik
Eko pada 2014
Pada tahun 2009, Eko menjadi caleg nomor urut satu melalui Partai Amanat Nasional (PAN) untuk daerah pemilihan Jawa Timur VIII, yang mencakup Kabupaten Nganjuk, daerah kelahiran orang tuanya.[3] Ia berhasil terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2009–2014 dan duduk di Komisi X yang membidangi Pendidikan, Kebudayaan, Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kepemudaan, dan Olahraga.[4]
Pada Pemilu 2014, Eko kembali mencalonkan diri dari dapil Jawa Timur VIII. Eko lolos dan menjadi anggota DPR periode 2014–2019 dengan perolehan 69.301 suara.[5] Pada periode ini, ia bertugas di Komisi IV bidang Pertanian, Kelautan, Lingkungan Hidup, dan Kehutanan.[4]
Pada Pemilu 2019, Eko beralih ke daerah pemilihan DKI Jakarta I dan kembali berhasil terpilih untuk periode 2019–2024. Ia kemudian bertugas di Komisi VI yang membidangi Perdagangan, Koperasi Usaha Kecil Menengah, BUMN, Investigasi, dan Standarisasi Nasional.[4]
Eko Patrio kembali terpilih untuk periode keempatnya pada Pemilu 2024, kali ini kembali ke dapil Jawa Timur VIII dengan perolehan sekitar 64.000 suara.[6] Pada 30 September 2024, ia ditunjuk oleh Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan untuk menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PAN periode 2024–2029, menggantikan Eddy Soeparno.[7]
Pada 30 Agustus 2025, rumah Eko Patrio di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, dijarah massa dalam sebuah unjuk rasa menentang kebijakan DPR.[8] Penjarahan terjadi setelah Eko mengunggah video parodi di akun TikTok pribadinya yang dinilai tidak sensitif terhadap permasalahan masyarakat.[8] Massa menjarah berbagai barang berharga termasuk perabotan, elektronik, dan pakaian.[9] Sebelum penjarahan terjadi, Eko telah menyampaikan permintaan maaf melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya.[8] Peristiwa ini merupakan bagian dari gelombang demonstrasi yang menuntut pembubaran DPR dan penolakan terhadap kebijakan pemerintah.[8]
Partai Amanat Nasional kemudian menonaktifkan Eko Patrio bersama Uya Kuya[10] dan pimpinan DPR menghentikan gaji dan tunjangan Eko Patrio bersama dengan Ahmad Sahroni, Nafa Urbach, Uya Kuya dan Adies Kadir.[11]