Prasasti Sri Ranapati ditemukan pada tahun 2017 oleh Bapak Wardi yang sehari-hari bekerja sebagai pencari batu. Ia menemukan batu tersebut pada sepetak sawah tidak jauh dari tempat keberadaan arca Ganesha di Dusun Nglarangan, Desa Kataan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung.
Penafsiran prasasti
Secara ringkas dapat diceritakan bahwa pada tanggal 13 April 787 Masehi seorang pemimpin (ḍaŋ karayān) yang bernama śṛī rānāpati, menata ulang aturan sebuah sīma yang berada di sebuah desa.
Nama pejabat yang diminta/diperintahkan untuk usaha menata ulang sīma tersebut berturut turut adalah ḍaŋ karayān hamaṇdraŋ ; ḍapunta tis mahālaka; ḍaŋ karayān wakka saŋ ḍanu°i ; ḍapunta maŋṅulu; ḍapunta tira; ḍaŋ tirru°an nagalaha saŋ dan ḍapunta rāja laŋligwaraḥ. Nama penulis prasasti ini adalah saŋ wayur sapācarla.
Puja puji pada dewa, raja atau orang yang dihormati biasa terdapat pada bagian manggala suatu prasasti. Manggala prasasti-prasasti sebelum era Kadiri, biasanya pendek pendek dan biasanya ditujukan kepada para dewa. Misalnya “Om namaśśiwaya namo buddaya” (Prasasti Taji Gunung 832 Ś).[2]
Penyebutan nama bhagawan Kasyapa di awal prasasti menarik untuk dicermati lebih lanjut. Diketahui bhagawan Kasyapa adalah cucu Brahma ayah dari segala mahluk bumi. Salah satu diantaranya adalah garuda tunggangan dewa Wisnu dan para Naga. Kisah ini terdapat dapat salah satu bagian Adiparwa dalam kitab Mahabharata (Juynboll, 1906;29). Meskipun masih perlu penelitian lebih lanjut tetapi untuk sementara dapat dikatakan bahwa prasasti ini bersifat Hindu.
Pembacaan angka tahun pada prasasti Śṛī Rānāpati adalah 709 Ś (śaka wa(r)ṣatita 709). Prasasti Wanua Tṅah III memberi berita bahwa Rakai Panaraban naik tahta pada tahun 706 Ś – 725 Ś. Merujuk pada hal ini maka dapat dikatakan bahwa prasasti Śṛī Rānāpati, dibuat pada masa pemerintahan Rakai Panaraban menjadi raja di Medang. Selain prasasti Wanua Tṅah III, belum ditemukan lagi sebuah berita tentang Rakai Panaraban.[3]
Penataan ulang atau penetapan ulang sebuah sīma adalah hal yang biasa terjadi pada masa masa kemudian karena banyak hal. Penataan ulang di sini diartikan sebagai usaha untuk memurnikan kembali aturan/hak sebuah sīma seperti posisi semula ketika ditetapkan pada suatu masa. Meskipun ‘seharusnya” sīma umumnya berlaku untuk selamanya karena adanya kalimat “mne hlěm tka ri dlaha ning dlaha ; sejak sekarang hingga selama lamanya”, akan tetapi dapat pula keputusan untuk selama lamanya itu dicabut. Hal ini pernah terjadi pada sīma sawah di Wanua tṅah. Ketetapan atas sīma pernah dicabut dua kali oleh dua orang raja. Hal ini menunjukkan bahwa pernah terjadi pelanggaran terhadap ketentuan ketetapan.[2]
Banyak nama dan jabatan yang disebut dalam prasasti ini. Selain nama bhagawan Kasyapa, sebagai tokoh yang dihormati, tokoh utama pembuatan prasasti ini adalah ḍaŋ karayān śṛī rānāpati. Setelah itu berturut turut muncul nama dan jabatan seperti; ḍaŋ karayān, ḍapunta maŋṅulu ḍaŋ tirru°an dll. Serta diakhiri dengan nama sang penulis prasasti. Nama nama itu diselingi dengan kata “ḍisuruḥ” yang mungkin sekali adalah serapan dari kata bahasa Melayu Kuno. Tidak ada keterangan lain tentang hal ini. Kata “ḍisuruḥ” dapat merujuk pada susunan birokrasi yang ada di bawah ḍaŋ karayān śṛī rānāpati, orang per orang berurutan sampai jabatan paling bawah. Akan tetapi dapat pula kata itu merujuk pada sebuah kelompok pejabat yang mendapat perintah dari ḍaŋ karayān śṛī rānāpati.