Prasasti ini terletak di salah satu papan batu tepatnya di sisi timur makam. Selain dipahatkan tulisan beraksara Batak, juga terdapat gambar cicak (kadal) yang mengapit tulisan prasasti tersebut. Ukuran papan batu prasasti ialah 100cm x 90cm, dengan tebal 10cm.[1][3]
Keletakan prasasti tersebut kemungkinan bahwa ia pernah dicabut, dan kemudian ditempatkan kembali namun dengan posisi yang salah. Diperkirakan orang yang menempatkannya kembali kurang mengerti aksara Batak, sehingga prasasti ini ditempatkan dengan posisi yang miring.[3]
Karakteristik prasasti
Prasasti Raja Soritaon dituliskan dengan menggunakan aksara dan bahasa Batak Angkola. Prasasti ini dituliskan dari arah kiri ke kanan dan berjumlah 9 baris.[3] Bahan batu prasasti ini cukup keras, dan hasil penulisan prasasti ini masih cukup jelas untuk dibaca. Namun demikian, beberapa bagian ada yang aus dan terdapat pula goresan-goresan yang tipis, sehingga membuat sulit dalam mengidentifikasi beberapa aksaranya.[1]
Pada media penulisan prasasti ini juga terdapat motif cicak dengan posisi kepala yang berlawanan. Dalam budaya Batak, cicak/kadal dikenal dengan sebutan Boraspati ni Tano.[4]Boraspati ni Tano merupakan salah satu unsur kayangan Batak yang sekaligus melambangkan kemakmuran, kesuburan tanah, dan dunia bawah. Ia hampir selalu digambarkan dengan kepala yang seolah-olah muncul dari dunia bawah untuk bergabung dalam dunia tengah.[5]
Aspek fisik yang dapat dilihat dari sebuah prasasti Batak adalah bentuk media yang digunakan, yang sangat terkait dengan bahannya. Prasasti yang terbuat dari batu bentuknya bervariasi, di antaranya bentuk lingga, yupa, stele, akulade, blok, atau batu alam yang bentuknya tidak beraturan. Selain batu, prasasti tertulis beraksara Batak pada umumnya juga dituliskan pada tiga jenis bahan lainnya, yaitu kulit kayu (laklak), tulang kerbau, dan bambu.[1]