Asal-usul Ajaran Pangestu
Asal-usul mengenai ajaran Paguyuban Ngesti Tunggal tidak terlepas dari riwayat hidup pendirinya, yaitu R. Soenarto Mertowardojo.[1] R. Soenarto dilahirkan pada tanggal 21 April 1899 di Desa Simo, Kabupaten Boyolali sebagai putera keenam dari keluarga R. Soemowardojo.[1] Sejak kecil ia tidak diasuh oleh orang tua kandungnya melainkan dititipkan untuk tinggal dan dibesarkan oleh orang lain (dalam bahasa Jawa disebut ngenger).[6] Di dalam buku Sabda-sabda Pratama yang diterbitkan oleh Proyek Penerbitan dan Perpustakaan Pangestu dikatakan bahwa pada tanggal 14 Februari 1932, R. Soenarto menerima wahyu pertama ketika melakukan salat daim.[7] Shalat daim adalah doa terus-menerus untuk mencapai tingkat pengetahuan yang sempurna.[6]
Wahyu yang diterima oleh R. Soenarto terjadi dalam tiga tahap yaitu, pertama berupa penegasan bahwa Ilmu Sejati merupakan petunjuk nyata tentang jalan benar menuju asal dan tujuan hidup, kedua berupa pernyataan Sang Suksma Sejati tentang siapakah dirinya dan apakah tugasnya serta siapakah Suksma Kawekas itu, ketiga berupa sabda yang meneguhkan hati R. Soenarto dalam menjalankan tugas menaburkan terang serta janji akan diberikannya dua orang pembantu yaitu Hardjoprakoso dan Soemodihardjo untuk mencatat sabda-sabda Sang Suksma Sejati.[8] Pada tanggal 27 Mei 1932 R. Soenarto, Hardjoprakoso dan Soemodihardjo berkumpul untuk mencatat sabda-sabda yang diterima oleh R. Soenarto selama tujuh bulan berturut-turut dan dikumpulkan dalam Buku Sasangka Djati.[6] Antara tahun 1933-1949 tidak ada sabda yang turun tetapi pada tahun 1949-1961 R. Soenarto menerima kembali beberapa sabda yang dihimpun dalam buku Sabda Khusus.[6][8] Sabda-sabda yang dihimpun dalam buku Sabda Khusus tersebut merupakan komplemen dan pemantap sabda-sabda dalam Sasangka Djati sebagai Kitab Suci yang utama.[6]
Kemunculan dan Perkembangan Pangestu
Pada tanggal 20 Mei 1949 ketika Surakarta diduduki oleh pasukan Belanda, R. Soenarto kedatangan tujuh orang siswa untuk berolah rasa (permenungan bersama tentang ajaran secara khidmat) dan manembah bersama.[6] Di dalam panembah tersebut, R. Soenarto menerima sabda yang berisi perintah untuk mengumpulkan siswa-siswa dalam suatu himpunan yang diatur seperti perkumpulan pada umumnya.[8] Ketujuh siswa yang hadir tersebut kemudian berunding dan menyediakan diri untuk menjadi pengurus yang pertama.[6] Gunawan menjabat sebagai ketua, Sutardi sebagai penulis dan Suratman sebagai bendahara, sedangkan R. Soenarto menjadi paranpara (penasihat).[6] Di dalam pertemuan tersebut nama Paguyuban Ngesti Tunggal pun ditetapkan sebagai nama resmi perkumpulan ini, yang secara harfiah berarti Persatuan Memohon Tunggal dan kemudian diartikan sebagai persatuan untuk dapat hidup bertunggal.[8]
Arti kata Paguyuban Ngesti Tunggal adalah:
Paguyuban: perkumpulan yang dijiwai oleh hidup rukun dan semangat kekeluargaan
Ngesti: upaya batiniah yang didasari dengan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa
Tunggal: bersatu dalam hidup bermasyarakat dan bersatu kembali dengan Tuhan Yang Maha Esa
Paguyuban Ngesti Tunggal berarti perkumpulan yang dijiwai oleh rasa persatuan dan kesatuan dalam suasana kekeluargaan yang rukun dan akrab dari orang-orang yang berupaya dengan sungguh-sungguh secara lahir dan batin dengan penuh keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk bersatu baik dengan lingkungan masyarakat dan seluruh umat manusia dalam kehidupan di dunia maupun untuk bersatu kembali ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.
Kata Pangestu itu sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti berkah Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada umat-Nya yang berbakti dan taat.[9]
Setelah perang kemerdekaan berakhir, Pangestu mengalami perkembangan terutama melalui kegiatan para siswa yang giat menyebarkan ajaran-ajaran Pangestu.[6] Pola penyebaran ajaran ini adalah melalui kota-kota besar, terutama di Jawa seperti Semarang, Surakarta dan Surabaya.[10] Pada tahun 1976 Pangestu telah memiliki 135 cabang, 12 di antaranya berada di luar Jawa.[6] Pada tahun tersebut jumlah anggota Pangestu tercatat sebanyak 66.678 orang dan banyak di antaranya berasal dari golongan terpelajar dan pemimpin-pemimpin masyarakat termasuk perwira-perwira tinggi ABRI.[6] Setiap lima tahun diadakan kongres nasional untuk memilih pengurus pusat yang baru, selain itu hubungan di antara cabang-cabang Pangestu diperkuat melalui buletin bulanan Dwidja Wara yang berisi ajaran-ajaran Pangestu.[10]