Aliran ini memiliki tiga ajaran utama, yaitu sujud, Wewarah Tujuh, dan sesanti. Ibadah penganut Sapta Darma dapat dilakukan secara pribadi di rumah atau secara bersama-sama di tempat ibadah yang disebut sanggar.
Sejarah
Penerima ajaran Sapta Darma adalah Hardjosapoero yang lahir di Desa Semanding, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada tahun 1910. Hardjosapoero yang sehari-hari bekerja sebagai tukang cukur menerima wahyu pertama mengenai ajaran aliran kerohanian ini pada tanggal 27 Desember1952 yang berlanjut hingga wafatnya pada tanggal 16 Desember1964. Sepeninggal Hardjosapoero yang bergelar Bapa Panuntun Agung Sri Gutama, pucuk pimpinan aliran kerohanian ini diserahkan kepada Soewartini Martodihardjo yang bergelar Ibu Tuntunan Agung Sri Pawenang hingga wafatnya pada tanggal 24 Mei1996.
Ajaran Sapta Darma sekilas memiliki makna yang sederhana, tetapi sebenarnya sangat luas karena meliputi segala aspek kehidupan di dunia manusia, roh, jin, dan setan. Inti sari dari ajaran ini bersumber pada sujud, Wewarah Tujuh, dan sesanti.
Konsepsi
Kerohanian Sapta Darma bertujuan untuk kebahagiaan pengikut-pengikutnya, baik di dunia maupun di akhirat. Intisari dari ajaran ini adalah membentuk pribadi manusia yang asli berdasarkan keluhuran budi dan menjadikan penganutnya memiliki sikap kesatria utama (bahasa Jawa:manghayu-hayu bagya buwanacode: jv is deprecated ).
Ketuhanan
Tuhan dalam ajaran Sapta Darma disebut Allah Hyang Maha Kuasa, yaitu Zat yang mutlak, bebas dari segala hubungan sebab akibat dan sumber dari alam semesta beserta isinya. Allah Hyang Maha Kuasa memiliki lima sifat luhur yang disebut Pancasila Allah, yaitu Maha Agung, Maha Rahim, Maha Adil, Maha Wasesa, dan Maha Langgeng.
Kemanusiaan
Dalam ajaran Sapta Darma, manusia dianggap sebagai gabungan dari roh dan materi. Roh manusia berupa sinar cahaya Allah sehingga manusia dapat berhubungan dengan-Nya, sedangkan materi berupa tubuh manusia. Gabungan roh dan materi ini dihasilkan melalui perantara orang tua, ayah dan ibu. Manusia juga dianggap sebagai makhluk tertinggi di atas hewan dan tumbuhan sehingga menurut aliran ini, di dalam tubuh manusia terdapat radar yang apabila dilatih dengan baik akan dapat memberikan kewaspadaan dalam menjalani hidup.
Sujud
Sujud adalah ritual ibadah penganut Sapta Darma. Ritual ini dilakukan sehari sekali, selebihnya dianggap sebagai keutamaan, baik secara individu maupun secara bersama-sama di sanggar.
Wewarah Tujuh
Wewarah Tujuh yang berarti 'tujuh petuah' merupakan pedoman hidup yang harus dijalankan oleh setiap penganut Sapta Darma. Secara umum, isi Wewarah Tujuh adalah sebagai berikut.
Setia dan tawakal kepada Pancasila Allah, yaitu bahwa Tuhan menpunyai lima sifat luhur yang mutlak.
Bersedia menjalankan peraturan perundang-undangan yang berlaku di negaranya.
Turut serta membela nusa dan bangsa.
Menolong siapa saja tanpa pamrih.
Berani hidup berdasarkan kekuatan dan kepercayaan diri sendiri.
Bersikap susila dan berbudi pekerti dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
Meyakini bahwa dunia tidak abadi dan selalu berubah.[4]
Sesanti
Sesanti atau semboyan penganut Sapta Darma dalam bahasa Jawa berbunyi "Ing ngendi bae, marang sapa bae, warga Sapta Darma kudu suminar pindha baskara." (bahasa Indonesia:"Di mana saja, kepada siapa saja, warga Sapta Darma harus senantiasa bersinar laksana surya."code: id is deprecated ). Sesanti ini bermakna bahwa setiap warga Sapta Darma berkewajiban untuk selalu siap membantu siapa saja yang memerlukan bantuan.[4]
Ibadah
Penganut Sapta Darma menganggap segala sesuatu yang dilakukannya sebagai ibadah. Akan tetapi, ibadah utama yang wajib dilakukan adalah sujud, racut, ening, dan olah rasa. Sujud adalah ibadah paling utama yang dilakukan minimal sekali sehari, sedangkan racut adalah ibadah Hyang Maha Suci (roh manusia) menghadap Allah Hyang Maha Kuasa terlepas dari raganya sebagai bekal perjalanan roh setelah kematian. Sementara itu, ening adalah ritual semadi dengan memasrahkan diri kepada Sang Pencipta. Adapun olah rasa adalah proses relaksasi untuk mendapatkan kesegaran jasmani setelah bekerja keras atau olahraga.[4]
Sanggar
Sanggar adalah tempat ibadah penganut Sapta Darma yang dipimpin oleh seorang tuntunan dengan tanggung jawab membina kerohanian para penganut di sanggar tersebut. Ada dua jenis sanggar, yaitu Sanggar Candi Sapta Rengga dan Sanggar Candi Busana. Sanggar Candi Sapta Rengga merupakan pusat kegiatan kerohanian Sapta Darma di Yogyakarta, sedangkan Sanggar Candi Busana merupakan sanggar yang tersebar di daerah. Adapun sanggar tempat kelahiran aliran kerohanian ini di Pare, Kediri, disebut sebagai Sanggar Agung Candi Busana.[4]
Kontroversi
Sapta Darma pernah menimbulkan perdebatan di sejumlah kalangan masyarakat. Sebagian kritik muncul karena Sapta Darma dipandang sebagai kepercayaan yang relatif baru dan memiliki perbedaan dengan agama-agama besar yang diakui secara resmi, khususnya terkait dengan istilah-istilah yang juga dikenal dalam tradisi Islam, seperti Allah, Rahman, dan Rahim, turut menjadi salah satu faktor yang memicu keberatan dari sebagian kelompok masyarakat.
Pada 11 Oktober2008, dilaporkan terjadi perusakan sebuah rumah milik penganut Sapta Darma yang digunakan sebagi sanggar di Dusun Pereng Kembang, Desa Balecatur, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.Peristiwa tersebut terjadi setelah adanya penolakan dari sebagian warga, yang berafilasi dengan Front Pembela Islam (FPI), terhadap keberadaan kegiatan kepercayaan tersebut di lingkungan setempat.[5]
1234Damanik, J. (2021). Pendidikan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Budi Pekerti untuk SMP Kelas VII. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. ISBN 978-602-244-335-3.