ENSIKLOPEDIA
Nigersaurus
| Nigersaurus | |
|---|---|
| Kerangka yang direkonstruksi di Jepang | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Klad: | Dinosauria |
| Klad: | Saurischia |
| Klad: | †Sauropodomorpha |
| Klad: | †Sauropoda |
| Famili: | †Rebbachisauridae |
| Genus: | †Nigersaurus Sereno et al., 1999 |
| Spesies: | †N. taqueti |
| Nama binomial | |
| †Nigersaurus taqueti Sereno et al., 1999 | |
Nigersaurus (/niːˈʒɛərsɔːrəs, ˈnaɪdʒərsɔːrəs/) adalah sebuah genus dinosaurus sauropoda rebakisaurid yang hidup pada pertengahan zaman Kapur, sekitar 115 hingga 105 juta tahun yang lalu. Dinosaurus ini ditemukan di Formasi Elrhaz pada daerah yang disebut Gadoufaoua, di Niger. Fosil dinosaurus ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1976, tetapi baru diberi nama Nigersaurus taqueti pada tahun 1999 setelah sisa-sisa fosil yang lebih lengkap ditemukan dan dideskripsikan. Nama genusnya berarti "reptil Niger", dan nama spesifiknya diberikan untuk menghormati ahli paleontologi Philippe Taquet, yang pertama kali menemukan sisa-sisanya.
Berukuran kecil untuk ukuran seekor sauropoda, panjang Nigersaurus hanya sekitar 9–14,1 m (30–46 ft), dan memiliki leher yang pendek. Beratnya sekitar 1,9–4 t (2,1–4,4 ton pendek), sebanding dengan gajah modern. Tengkoraknya sangat terspesialisasi untuk aktivitas makan, dengan fenestra yang besar dan tulang yang tipis. Moncongnya yang lebar dipenuhi lebih dari 500 gigi, yang terus berganti dengan laju yang cepat: sekitar setiap 14 hari. Rahangnya mungkin memiliki selubung keratin. Tidak seperti tetrapoda lainnya, tulang pembawa gigi pada rahangnya berputar secara melintang relatif terhadap sisa tengkorak, sehingga semua giginya terletak jauh di bagian depan. Kerangkanya sangat terpneumatisasi (dipenuhi rongga udara yang terhubung dengan kantung udara), tetapi tulang anggota geraknya terbentuk dengan kokoh.
Nigersaurus dan kerabat terdekatnya dikelompokkan ke dalam subfamili Rebbachisaurinae (sebelumnya dianggap termasuk ke dalam kelompok eponim Nigersaurinae) dari famili Rebbachisauridae, yang merupakan bagian dari superfamili sauropoda Diplodocoidea. Nigersaurus kemungkinan besar adalah hewan perenggut (pemakan dedaunan), dan mencari makan dengan posisi kepala yang dekat dengan permukaan tanah. Wilayah otaknya yang berfungsi mendeteksi bau kurang berkembang, meskipun ukuran otaknya sebanding dengan dinosaurus lain. Terdapat perdebatan mengenai apakah kepalanya lebih sering dihadapkan ke bawah, atau mendatar secara horizontal seperti halnya sauropoda lainnya. Hewan ini hidup di habitat riparian, dan makanannya kemungkinan besar terdiri dari tanaman lunak, seperti paku-pakuan, paku ekor kuda, dan angiospermae. Spesies ini merupakan salah satu fosil vertebrata paling umum yang ditemukan di daerah tersebut, dan berbagi habitat dengan megaherbivora dinosaurus lainnya, serta hewan-hewan teropoda dan Crocodylomorpha yang berukuran besar.
Sejarah penemuan

Sisa-sisa fosil yang diyakini sebagai milik Nigersaurus pertama kali ditemukan selama ekspedisi tahun 1965–1972 ke Republik Niger yang dipimpin oleh ahli paleontologi Prancis Philippe Taquet, dan pertama kali disebutkan dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada tahun 1976.[1][2] Walaupun merupakan genus yang umum, dinosaurus ini kurang begitu dikenal hingga lebih banyak materi dari individu lain ditemukan selama ekspedisi yang dipimpin oleh ahli paleontologi Amerika Paul Sereno pada tahun 1997 dan 2000. Pemahaman yang terbatas mengenai genus ini merupakan akibat dari buruknya pelestarian sisa-sisa fosilnya, yang disebabkan oleh struktur tengkorak dan kerangkanya yang rapuh serta sangat pneumatis (dipenuhi rongga udara yang terhubung dengan kantung udara), yang pada gilirannya menyebabkan disartikulasi (terlepasnya persendian) pada fosil tersebut. Beberapa fosil tengkoraknya sangat tipis sehingga sorotan cahaya yang kuat dapat menembusnya. Oleh karena itu, tidak ada tengkorak utuh atau kerangka berartikulasi yang pernah ditemukan, dan spesimen-spesimen ini mewakili sisa-sisa rebakisaurid paling lengkap yang diketahui.[3][1]
Nigersaurus baru diberi nama dan dideskripsikan secara lebih rinci oleh Sereno beserta rekan-rekannya pada tahun 1999, berdasarkan sisa-sisa individu yang baru ditemukan. Artikel yang sama juga menamai Jobaria, sauropoda lain dari Niger. Nama genus Nigersaurus ("reptil Niger") merujuk pada negara tempat dinosaurus tersebut ditemukan, dan nama spesifik taqueti diberikan untuk menghormati Taquet, yang merupakan orang pertama yang menyelenggarakan ekspedisi paleontologi berskala besar ke Niger.[4] Spesimen holotipe (MNN GAD512) terdiri dari sebagian tengkorak dan leher. Materi anggota gerak dan sebuah skapula (tulang belikat) yang ditemukan di dekatnya juga dikaitkan ke spesimen yang sama. Fosil-fosil ini disimpan di Museum Nasional Niger.[1]

Sereno dan ahli paleontologi Amerika Jeffrey A. Wilson memberikan deskripsi terperinci pertama mengenai tengkorak dan adaptasi cara makannya pada tahun 2005.[1] Pada tahun 2007, deskripsi kerangka yang lebih terperinci diterbitkan oleh Sereno dan rekan-rekannya, berdasarkan spesimen yang ditemukan sepuluh tahun sebelumnya. Fosil-fosil tersebut, beserta kerangka rekonstruksi yang dipasang dan model plastik dari kepala serta lehernya, kemudian dipresentasikan di National Geographic Society di Washington.[5] Nigersaurus dijuluki sebagai "sapi Mesozoikum" di media cetak, dan Sereno menekankan bahwa hewan ini adalah dinosaurus paling tidak biasa yang pernah ia lihat. Ia mengibaratkan penampilan fisiknya dengan Darth Vader dan penyedot debu, serta membandingkan gesekan giginya dengan sabuk konveyor dan tuts piano yang diasah.[6][7][8]
Sejumlah besar spesimen Nigersaurus yang dikumpulkan oleh ekspedisi Prancis dan Amerika masih belum dideskripsikan.[9] Gigi-gigi yang mirip dengan milik Nigersaurus telah ditemukan di Isle of Wight dan di Brasil, tetapi tidak diketahui secara pasti apakah gigi-gigi tersebut milik kerabat dari takson ini, atau milik dinosaurus titanosaurus, yang sisa-sisanya juga ditemukan di sekitar area tersebut. Rahang bawah yang dikaitkan dengan titanosaurus Antarctosaurus juga memiliki kemiripan dengan milik Nigersaurus, tetapi mungkin telah berevolusi secara konvergen.[1]
Deskripsi
Seperti semua sauropoda, Nigersaurus adalah hewan berkaki empat (kuadrupedal) dengan kepala kecil, kaki belakang yang tebal, dan ekor yang menonjol. Di antara klad tersebut, Nigersaurus berukuran cukup kecil, dengan panjang tubuh hanya sekitar 9–141 m (30–463 ft) dan femur (tulang paha) yang hanya mencapai 1 m (3 ft 3 in); beratnya mungkin sekitar 19–4 t (20,9–4,4 ton pendek), sebanding dengan gajah modern.[3][10][11] Dinosaurus ini memiliki leher yang pendek untuk ukuran seekor sauropoda, dengan tiga belas ruas tulang leher (vertebra servikal). Hampir semua rebakisaurid memiliki leher yang relatif pendek dan panjang tubuh 10 m (33 ft) atau kurang. Satu-satunya anggota famili ini yang mencapai ukuran sebesar sauropoda yang lebih besar adalah Rebbachisaurus[3] dan Maraapunisaurus.[12]
Tengkorak

Tengkorak Nigersaurus sangat rapuh, dengan empat fenestra (bukaan pada tengkorak) samping yang lebih besar dibandingkan pada sauropodomorpha lainnya. Total area tulang yang menghubungkan moncong dengan bagian belakang tengkoraknya hanya sebesar 10 cm2 (1,6 sq in). Penopang tulang penghubung ini biasanya memiliki ketebalan kurang dari 2 mm (0,08 in). Meskipun demikian, tengkorak ini tahan terhadap gesekan gigi yang terjadi secara terus-menerus. Ciri unik lain yang dimilikinya di antara sauropodomorpha adalah fenestra supratemporal yang tertutup. Bukaan hidungnya, yaitu lubang hidung bertulang, berbentuk memanjang.[3] Walaupun tulang hidungnya belum diketahui secara utuh, tampaknya tepi depan lubang hidung bertulangnya terletak lebih dekat ke moncong daripada dinosaurus diplodokoid lainnya. Moncongnya juga secara proporsional lebih pendek, dan barisan giginya sama sekali tidak prognatik, ujung moncongnya tidak menonjol relatif terhadap sisa rangkaian gigi lainnya.[1] Nigersaurus memiliki ciri khas pada frontal bone (yang membentuk sebagian besar atap tengkorak) yang memanjang (jauh lebih sempit daripada panjangnya), dan memiliki fosa serebral yang jelas (sebuah lekukan di permukaan tulang ini di dalam kepala).[4] Barisan gigi rahang atasnya (maksila) secara keseluruhan berputar secara transversal, di mana bagian belakangnya yang normal terbalik 90° ke arah depan. Hal ini disesuaikan dengan putaran identik pada tulang dentari di rahang bawahnya. Orientasi melintang dari barisan gigi atas dan bawah ini merupakan hal yang unik pada dinosaurus ini. Akibat konfigurasi ini, tidak ada tetrapoda lain yang memiliki seluruh gigi terletak sejauh itu di bagian depan seperti Nigersaurus.[3][4]
Gigi-giginya yang ramping memiliki mahkota gigi yang sedikit melengkung, berbentuk oval pada penampang melintang. Mahkotanya memiliki ciri khas berupa tonjolan yang menonjol pada tepi garis tengah dan sisi-sisinya. Gigi pada rahang bawah mungkin 20–30% lebih kecil dibandingkan dengan gigi pada rahang atas, namun hanya sedikit yang diketahui, dan tingkat kedewasaannya pun belum dapat dipastikan. Selain perbedaan tersebut, gigi-giginya identik.[4] Di bawah setiap gigi yang aktif, terdapat satu kolom yang terdiri dari sembilan gigi pengganti di dalam rahang. Dengan 68 kolom di rahang atas dan 60 kolom di rahang bawah, struktur yang disebut sebagai baterai gigi ini (yang juga terdapat pada hadrosaurus dan ceratopsia) memiliki total lebih dari 500 gigi aktif dan gigi pengganti.[1] Baterai gigi ini tumbuh secara serempak, bukan tumbuh per kolom secara individu.[4] Email pada gigi Nigersaurus sangat asimetris, sepuluh kali lebih tebal di sisi yang menghadap ke luar dibandingkan di sisi dalam.[13] Selain dinosaurus ini, kondisi tersebut hanya diketahui pada kelompok dinosaurus ornitiskia tingkat lanjut.[4]
Nigersaurus tidak menunjukkan modifikasi yang sama seperti yang terlihat pada rahang dinosaurus lain yang memiliki baterai gigi, atau mamalia dengan fungsi mengunyah yang rumit. Rahang bawahnya berbentuk seperti huruf L dan terbagi menjadi ramus melintang subsilindris, yang berisi gigi-gigi, dan ramus belakang, yang lebih ringan dan merupakan lokasi bagi sebagian besar perlekatan otot. Keunikannya adalah barisan giginya melebar ke sisi-sisi dari bidang ramus utama rahang bawah. Rahangnya juga memiliki beberapa fenestra, termasuk lima fenestra yang tidak ditemukan pada sauropoda lainnya. Ujung depan rahangnya memiliki alur-alur yang mengindikasikan keberadaan selubung keratin (zat tanduk).[3][4] Nigersaurus adalah satu-satunya hewan tetrapoda yang diketahui memiliki rahang yang lebih lebar daripada tengkoraknya dengan gigi-gigi yang memanjang secara lateral melintasi bagian depannya.[6] Moncongnya bahkan lebih lebar daripada hadrosaurus "berparuh bebek".[14]
Kerangka pascakranial

Nigersaurus memiliki ciri khas di mana vertebra dorsal (punggung)-nya memiliki ruang pneumatis berpasangan di dasar tulang belakang saraf (tulang belakang yang menonjol ke atas dari vertebra). Vertebra presakral (vertebra di depan sakrum) sangat terpneumatisasi hingga pada titik di mana kolom tersebut terdiri dari serangkaian "cangkang" berongga, yang masing-masing dibagi oleh sebuah septum tipis di tengahnya. Tulang ini memiliki sedikit atau bahkan tidak ada tulang spons, sehingga lempeng tulang tipis bagian sentrum-nya dipenuhi oleh rongga udara. Bagian lengkung vertebra-nya begitu banyak ditembus oleh perluasan kantung udara eksternal sehingga dari dinding sampingnya hanya tersisa lamina yang saling berpotongan setebal 2 mm (0,08 in), yaitu punggungan di antara bukaan pneumatis tersebut. Namun, vertebra bagian ekornya memiliki sentrum yang padat.[3][4]
Tulang panggul dan gelang bahu-nya juga sangat tipis, sering kali hanya setebal beberapa milimeter. Dinosaurus ini memiliki rugositas (area yang kasar dan berkerut) yang menonjol pada aspek garis tengah dari dasar bilah skapulanya, yang menjadi fitur pembedanya. Seperti sauropoda lainnya, anggota geraknya berukuran kokoh, kontras dengan struktur bagian kerangka lainnya yang sangat ringan. Anggota geraknya tidak sespesialisasi bagian kerangka lainnya, dan kaki depan Nigersaurus memiliki panjang sekitar dua pertiga dari kaki belakangnya, seperti pada sebagian besar diplodokoid.[3][4]
Klasifikasi

Sisa-sisa fosil Nigersaurus pada awalnya dideskripsikan oleh Taquet pada tahun 1976 sebagai anggota dari famili dikreosaurid, namun pada tahun 1999 Sereno dan rekan-rekannya mengklasifikasikan ulang sebagai diplodokoid rebakisaurid.[4] Para peneliti ini berspekulasi bahwa karena leher pendek dan ukuran tubuh yang kecil umum diketahui pada anggota diplodokoid basal, hal ini mungkin mengindikasikan bahwa ciri-ciri tersebut merupakan ciri leluhur dari kelompok tersebut.[3] Rebbachisauridae adalah famili paling basal di dalam superfamili Diplodocoidea, yang juga mencakup kelompok diplodokid berleher panjang dan dikreosaurid berleher pendek. Subfamili eponim Nigersaurinae, yang mencakup Nigersaurus dan genus-genus yang berkerabat dekat, diberi nama oleh ahli paleontologi Amerika John A. Whitlock pada tahun 2011.[15]
Genus kerabat dekatnya Demandasaurus dari Spanyol dideskripsikan oleh ahli paleontologi Spanyol Fidel Torcida Fernández-Baldor dan rekan-rekannya pada tahun 2011, dan bersama dengan kelompok hewan lain yang tersebar pada zaman Kapur di Afrika dan Eropa, hal ini mengindikasikan bahwa paparan karbonat menghubungkan daratan-daratan ini melintasi Laut Tethys.[16] Hal ini didukung pada tahun 2013 oleh ahli paleontologi Italia Federico Fanti dan rekan-rekannya dalam deskripsi mereka mengenai nigersaurin Tataouinea dari Tunisia, yang lebih berkerabat dengan bentuk asal Eropa daripada dengan Nigersaurus, meskipun berasal dari Afrika, yang pada saat itu merupakan bagian dari benua super Gondwana.[17] Pneumatisasi pada kerangka rebakisaurid berevolusi secara progresif, yang berpuncak pada kelompok nigersaurin.[17]


Di bawah ini adalah sebuah kladogram yang mengikuti analisis tahun 2013 oleh Fanti dan rekan-rekannya, yang mengonfirmasi penempatan Nigersaurus sebagai rebakisaurid nigersaurin basal.[17]
Sebuah studi kladistik tahun 2015 oleh Wilson dan ahli paleontologi Prancis Ronan Allain menemukan bahwa Rebbachisaurus itu sendiri mengelompok bersama nigersaurin, dan para penulis tersebut menyarankan bahwa karenanya Nigersaurinae merupakan sebuah sinonim junior dari Rebbachisaurinae (karena nama tersebut seharusnya memiliki prioritas).[9] Pada tahun yang sama, Fanti dan rekan-rekannya mendukung penggunaan nama Rebbachisaurinae dibandingkan Nigersaurinae, dan menemukan Nigersaurus sebagai anggota paling basal dari subklad "Eropa-Afrika" ini.[18]
Pada tahun 2019, Mannion dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa karena Nigersaurus ditemukan sebagai takson saudara dari semua nigersaurin lainnya dalam beberapa studi, sebuah klad Rebbachisaurinae mungkin belum tentu mencakup Nigersaurus itu sendiri (serta fakta bahwa posisi Rebbachisaurus dapat berubah dalam analisis di masa mendatang), dan mereka mendukung penggunaan nama Nigersaurinae yang berkelanjutan dibandingkan Rebbachisaurinae untuk semua rebakisaurid yang berkerabat lebih dekat dengan Nigersaurus daripada dengan Limaysaurus. Mereka menemukan bahwa kelompok nigersaurin terbatas di wilayah Afrika Utara dan Eropa, sedangkan kelompok Limaysaurinae secara eksklusif hanya diketahui dari Argentina.[19] Pada tahun yang sama, ahli paleontologi Brasil Rafael Matos Lindoso dan rekan-rekannya menggunakan nama Nigersaurinae mengikuti rekomendasi Mannion, dan menemukan bahwa Itapeuasaurus dari Brasil mengelompok dengan kelompok nigersaurin, sehingga memperluas silsilah ini secara lebih luas (membuat hipotesis paleobiogeografi untuk kelompok ini menjadi kurang dapat diandalkan).[20]
Paleobiologi

Walaupun ia memiliki lubang hidung yang besar dan moncong berdaging, Sereno dan rekan-rekannya menemukan bahwa Nigersaurus memiliki wilayah penciuman (olfaktori) di otaknya yang kurang berkembang, sehingga tidak memiliki indra penciuman yang tajam. Rasio massa otak terhadap tubuhnya merupakan ukuran rata-rata untuk seekor reptil, dan lebih kecil dibandingkan dengan rasio milik dinosaurus ornitiskia dan teropoda non-koelurosauria. Bagian serebrumnya mencakup sekitar 30% dari total volume otak, sama seperti pada banyak dinosaurus lainnya.[3] Seniman paleo Amerika Mark Hallett dan ahli paleontologi Mathew J. Wedel menyatakan pada tahun 2016 bahwa, meskipun sauropoda pada umumnya dapat menggunakan leher panjang mereka untuk mendeteksi pemangsa dari kejauhan, hal ini tidak berlaku bagi Nigersaurus yang berleher pendek. Mereka menunjukkan bahwa mata Nigersaurus terletak lebih jauh ke arah atas tengkorak dibandingkan pada sebagian besar sauropoda lainnya, yaitu di atas moncongnya, yang dapat memberikannya bidang pandang yang tumpang tindih. Bidang pandangnya mungkin mencapai atau mendekati 360 derajat, dan hipersensitivitas terhadap pergerakan pastilah sangat penting bagi hewan mangsa yang rentan ini.[21]
Pada tahun 2017, ahli paleontologi Argentina Lucio M. Ibiricu dan rekan-rekannya meneliti pneumatisasi kerangka pascakranial pada kerangka rebakisaurid, dan menyarankan bahwa hal tersebut merupakan sebuah adaptasi untuk menurunkan kepadatan kerangka, dan ini dapat mengurangi energi otot yang dibutuhkan untuk menggerakkan tubuh, sekaligus mengurangi panas yang dihasilkan dalam proses tersebut. Mengingat beberapa rebakisaurid menghuni lintang yang beriklim tropis hingga subtropis pada zaman Kapur Pertengahan, pneumatisasi ini mungkin membantu hewan-hewan tersebut untuk mengatasi suhu yang sangat tinggi. Menurut Ibiricu dan rekan-rekannya, adaptasi ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa rebakisaurid merupakan satu-satunya kelompok diplodokoid yang bertahan hidup hingga zaman Kapur Akhir.[22]
Sebuah studi tahun 2023 oleh ahli paleontologi Prancis Rémi Lefebvre dan rekan-rekannya meneliti struktur mikroanatomi dari tulang anggota gerak Nigersaurus melalui pemindaian CT, yang merupakan studi pertama dari jenisnya pada kelompok sauropoda. Penampang virtual dari tulang anggota gerak yang dijadikan sampel dari individu dengan berbagai ukuran dieksplorasi untuk menentukan rentang variasinya. Hewan penopang beban berat sering kali memiliki ciri-ciri yang terkait dengan kondisi tersebut, yang memengaruhi struktur bagian dalam dari tulang anggota geraknya, tetapi variasi di antara tulang-tulang semacam itu kurang diketahui. Meskipun hewan berukuran berat lain yang diteliti (seperti badak) memiliki korteks tulang yang tebal dan bervariasi, korteks milik Nigersaurus justru agak tipis. Para peneliti ini menduga bahwa mikroanatomi sauropoda tidak dipengaruhi oleh tekanan selektif drastis yang disebabkan oleh penopangan berat tubuh, melainkan bahwa ciri-ciri seperti anggota gerak berbentuk kolumnar (seperti yang terlihat pada gajah), pneumatisasi, serta bantalan kaki berdaging dan tulang rawan telah mengurangi tekanan pada tulang-tulangnya. Mereka juga menyarankan bahwa dengan demikian sauropoda mungkin memiliki bobot yang lebih ringan daripada yang diperkirakan untuk ukuran tubuhnya, yang pada akhirnya mendukung estimasi massa tubuh paling rendah untuk dinosaurus-dinosaurus ini.[23]
Makanan dan aktivitas makan

Nigersaurus diusulkan oleh Sereno dan rekan-rekannya sebagai hewan perenggut (peramban) tak-selektif di tingkat permukaan tanah. Lebar moncong dan orientasi lateral (menyamping) dari barisan giginya menunjukkan bahwa sauropoda ini dapat mengumpulkan banyak makanan dan memotongnya di dekat permukaan tanah, dalam jarak 1 m (3 ft 3 in) dari permukaan.[3][1] Hal ini didukung lebih lanjut oleh faset keausan pada sisi labial (menghadap ke luar) dari gigi atasnya, mirip dengan Dicraeosaurus dan Diplodocus, yang menjadi bukti bahwa makanan atau substrat telah mengikis gigi hewan tersebut saat makan. Nigersaurus juga menunjukkan tanda-tanda keausan antargigi dengan sudut rendah di bagian dalam mahkota maksilanya, yang mengindikasikan bahwa pergerakan rahangnya terbatas pada gerakan presisi ke atas dan ke bawah. Gigi yang aus dari rahang bawah belum pernah ditemukan, tetapi diperkirakan akan menunjukkan keausan antargigi yang berlawanan. Kemampuan untuk mengangkat kepalanya jauh di atas tanah tidak selalu berarti bahwa mereka merenggut tanaman di ketinggian tersebut, dan leher Nigersaurus yang pendek akan membatasi jangkauan renggutannya jika dibandingkan dengan diplodokoid lainnya.[3]
Otot aduktor rahang tampaknya melekat pada tulang kuadrat, alih-alih pada fenestra supratemporal. Baik otot ini maupun otot pengunyah lainnya kemungkinan besar lemah, dan Nigersaurus diperkirakan memiliki salah satu gigitan terlemah di antara seluruh sauropoda.[3] Selain itu, menurut Whitlock dan rekan-rekannya pada tahun 2011, sifat goresan dan lubang kecil yang hampir sejajar pada giginya (yang disebabkan oleh kersik atau pasir kasar, yang tidak akan sesering itu termakan oleh hewan perenggut tingkat tinggi) menunjukkan bahwa ia memakan tanaman herba yang relatif lunak seperti tanaman paku yang tumbuh rendah.[14] Akibat orientasi gigi yang menyamping, ia mungkin tidak memiliki kemampuan untuk mengunyah.[1] Nigersaurus mengalami pengikisan mahkota gigi yang jauh lebih cepat daripada dinosaurus herbivor lainnya,[3] dan laju pergantian giginya adalah yang tertinggi di antara semua dinosaurus yang diketahui. Setiap gigi diganti satu kali setiap 14 hari; laju ini sebelumnya diperkirakan lebih lambat. Berbeda dengan Nigersaurus, sauropoda dengan laju pergantian gigi yang lebih lambat dan mahkota gigi yang lebih lebar diyakini merupakan hewan perenggut tingkat tajuk (kanopi).[13]
Rerumputan baru berevolusi pada zaman Kapur Akhir, sehingga paku-pakuan, paku ekor kuda, dan angiospermae (yang telah berevolusi pada zaman Kapur Pertengahan) menjadi makanan potensial bagi Nigersaurus. Sereno dan rekan-rekannya menyatakan bahwa Nigersaurus kemungkinan tidak memakan tumbuhan runjung (konifer), sikas, atau vegetasi perairan, yang masing-masing disebabkan oleh faktor ketinggian tanaman, strukturnya yang keras dan kaku, serta ketiadaan habitat yang sesuai.[3] Wedel menyarankan bahwa gigi Nigersaurus yang berjarak merata mungkin berfungsi seperti sisir, yaitu dengan menyaring tanaman air atau invertebrata, mirip seperti flamingo. Ia juga menyarankan bahwa hewan ini mungkin merenggut di tingkat rendah dari tumbuhan runjung pendek dan berbagai tanaman lain yang tumbuh rendah.[21]
Postur kepala
Berdasarkan pindaian mikrotomografi dari elemen-elemen tengkorak pada spesimen holotipe, Sereno dan rekan-rekannya membuat sebuah "prototipe" tengkorak Nigersaurus yang dapat mereka teliti. Mereka juga membuat sebuah endokast otak dan memindai saluran setengah lingkaran pada telinga dalamnya, yang mereka temukan berorientasi secara horizontal. Dalam studi mereka pada tahun 2007, mereka menyatakan bahwa struktur oksiput di bagian belakang tengkorak dan tulang lehernya akan membatasi gerakan leher ke atas dan ke bawah serta rotasi tengkorak. Berdasarkan analisis biomekanik ini, tim menyimpulkan bahwa kepala dan moncongnya biasanya berorientasi 67° ke bawah dan dekat dengan permukaan tanah, sebagai bentuk adaptasi untuk merenggut makanan di permukaan tanah. Hal ini berbeda dengan cara sauropoda lainnya direstorasi, yang kepalanya diangkat lebih mendatar.
Sebuah studi tahun 2009 oleh ahli paleontologi Inggris Mike P. Taylor dan rekan-rekannya sepakat bahwa Nigersaurus mampu makan dengan postur kepala dan leher yang menunduk ke bawah seperti yang diusulkan oleh studi tahun 2007, tetapi menyanggah bahwa itu merupakan postur kebiasaan hewan tersebut. Studi tersebut mencatat bahwa postur kepala dan leher "netral" pada hewan modern tidak selalu sesuai dengan kebiasaan postur kepala mereka. Studi ini lebih lanjut berargumen bahwa orientasi saluran setengah lingkaran sangat bervariasi pada spesies-spesies modern, dan oleh karena itu tidak dapat diandalkan untuk menentukan postur kepala.[24] Hal ini didukung oleh ahli paleontologi Spanyol Jesús Marugán-Lobón dan rekan-rekannya dalam sebuah studi tahun 2013 yang menyarankan bahwa metode yang digunakan oleh tim Sereno tidak presisi, dan bahwa Nigersaurus secara alami menahan kepalanya seperti sauropoda lainnya.[25]
Pada tahun 2020, ahli paleontologi Prancis Julien Benoit dan rekan-rekannya menguji korelasi saluran setengah lingkaran lateral terhadap postur kepala pada mamalia modern, dan menemukan bahwa meskipun terdapat korelasi yang signifikan antara postur kepala hasil rekonstruksi dan postur sebenarnya, bidang saluran setengah lingkarannya tidak dipertahankan secara horizontal pada pose istirahat seperti yang disimpulkan. Oleh karena itu, para penulis memperingatkan agar tidak menggunakan saluran setengah lingkaran sebagai proksi untuk menyimpulkan orientasi tengkorak secara presisi. Mereka menemukan bahwa pola makan berkorelasi kuat dengan orientasi saluran setengah lingkaran, tetapi tidak dengan postur kepala, sedangkan postur kepala dan orientasi saluran setengah lingkaran berkorelasi kuat dengan filogeni.[26]
Paleolingkungan

Nigersaurus diketahui dari Formasi Elrhaz yang merupakan bagian dari Grup Tegama di suatu area Gurun Ténéré yang disebut Gadoufaoua, berlokasi di Niger. Dinosaurus ini adalah salah satu vertebrata yang paling umum ditemukan di dalam formasi tersebut. Formasi Elrhaz utamanya terdiri dari batu pasir fluvial dengan relief yang rendah, yang sebagian besar tertutup oleh bukit pasir.[4][27] Sedimennya berbutir kasar hingga sedang, dengan hampir tidak ada horizon yang berbutir halus.[3] Nigersaurus hidup di tempat yang sekarang menjadi Niger sekitar 120 hingga 112 juta tahun yang lalu, selama sub-kala Aptium dan Albium pada pertengahan zaman Kapur.[4] Hewan ini kemungkinan besar hidup di habitat yang didominasi oleh dataran banjir pedalaman (sebuah zona riparian).[3]
Setelah kelompok iguanodontia Lurdusaurus, Nigersaurus merupakan megaherbivora yang paling banyak populasinya. Herbivora lain dari formasi yang sama meliputi Ouranosaurus, Elrhazosaurus, dan sebuah titanosaurus yang belum diberi nama. Bersama-sama, mereka membentuk salah satu dari sedikit perkumpulan megaherbivora dengan perbandingan yang seimbang antara sauropoda dan ornitopoda berukuran besar. Hewan ini juga hidup berdampingan dengan teropoda Kryptops, Suchomimus, Eocarcharia, dan Afromimus. Kelompok krokodilomorf seperti Sarcosuchus, Anatosuchus, Araripesuchus, dan Stolokrosuchus juga hidup di sana. Selain itu, telah ditemukan pula sisa-sisa fosil seekor pterosaurus, kelompok kelonia (kura-kura), ikan, hiu hibodon, dan bivalvia air tawar. Fauna perairannya terdiri sepenuhnya dari penghuni air tawar.[3][27][28]
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Wilson, J. A.; Sereno, P. C. (2005). "Structure and evolution of a sauropod tooth battery". Dalam Curry Rogers, K.; Wilson, J.A. (ed.). The Sauropods: Evolution and Paleobiology (PDF). University of California Press. hlm. 157–177. ISBN 978-0-520-24623-2.
- ↑ Taquet, P. (1976). "Géologie et paléontologie du gisement de Gadoufaoua. (Aptien du Niger)" (PDF). Cahiers de Paléontologie (dalam bahasa Prancis). Paris: 53. ISBN 978-2-222-02018-9.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Sereno, P. C.; Wilson, J. A.; Witmer, L. M.; Whitlock, J. A.; Maga, A.; Ide, O.; Rowe, T. A. (2007). "Structural extremes in a Cretaceous dinosaur". PLOS ONE. 2 (11) e1230. Bibcode:2007PLoSO...2.1230S. doi:10.1371/journal.pone.0001230. PMC 2077925. PMID 18030355..

- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Sereno, P. C.; Beck, A. L.; Dutheil, D. B.; Larsson, H. C.; Lyon, G. H.; Moussa, B.; Sadleir, R. W.; Sidor, C. A.; Varricchio, D. J.; Wilson, G. P.; Wilson, J. A. (1999). "Cretaceous sauropods from the Sahara and the uneven rate of skeletal evolution among dinosaurs" (PDF). Science. 286 (5443): 1342–1347. doi:10.1126/science.286.5443.1342. PMID 10558986.
- ↑ Ross-Flanigan, N. (2007). "U-M researchers study toothy, ground-feeding dinosaur". University of Michigan. Diarsipkan dari asli tanggal October 12, 2013. Diakses tanggal 2013-12-19.
- 1 2 Joyce, C. (2013-11-25). "'Mesozoic Cow' Rises from the Sahara Desert". NPR. Diakses tanggal 2007-11-16.
- ↑ "Cow-like dinosaur sucked up plants". www.abc.net.au. 2007. Diakses tanggal 20 August 2023.
- ↑ "Dinosaur From Sahara Ate Like A 'Mesozoic Cow'". ScienceDaily (dalam bahasa Inggris). 2007. Diakses tanggal 20 August 2023.
- 1 2 Wilson, J. A.; Allain, R. (2015). "Osteology of Rebbachisaurus garasbae Lavocat, 1954, a diplodocoid (Dinosauria, Sauropoda) from the early Late Cretaceous–aged Kem Kem beds of southeastern Morocco". Journal of Vertebrate Paleontology. 35 (4) e1000701. Bibcode:2015JVPal..35E0701W. doi:10.1080/02724634.2014.1000701. S2CID 129846042.
- ↑ Campione, Nicolás E.; Evans, David C. (2020). "The accuracy and precision of body mass estimation in non-avian dinosaurs". Biological Reviews (dalam bahasa Inggris). 95 (6): 1759–1797. doi:10.1111/brv.12638. ISSN 1469-185X. PMID 32869488. S2CID 221404013.
- ↑ Henderson, Donald (2013). "Sauropod Necks: Are They Really for Heat Loss?". PLOS ONE. 8 (10) e77108. Bibcode:2013PLoSO...877108H. doi:10.1371/journal.pone.0077108. PMC 3812985. PMID 24204747.
- ↑ Carpenter, Kenneth (2018). "Maraapunisaurus fragillimus, N.G. (formerly Amphicoelias fragillimus), a basal Rebbachisaurid from the Morrison Formation (Upper Jurassic) of Colorado". Geology of the Intermountain West. 5: 227–244. doi:10.31711/giw.v5i0.28.
- 1 2 D'Emic, M. D.; Whitlock, J. A.; Smith, K. M.; Fisher, D. C.; Wilson, J. A. (2013). Evans, A. R. (ed.). "Evolution of high tooth replacement rates in sauropod dinosaurs". PLOS ONE. 8 (7) e69235. Bibcode:2013PLoSO...869235D. doi:10.1371/journal.pone.0069235. PMC 3714237. PMID 23874921.

- 1 2 Whitlock, J. A. (2011). Farke, A. A. (ed.). "Inferences of diplodocoid (Sauropoda: Dinosauria) feeding behavior from snout shape and microwear snalyses". PLOS ONE. 6 (4) e18304. Bibcode:2011PLoSO...618304W. doi:10.1371/journal.pone.0018304. PMC 3071828. PMID 21494685.

- ↑ Whitlock, J. A. (2011). "A phylogenetic analysis of Diplodocoidea (Saurischia: Sauropoda)". Zoological Journal of the Linnean Society. 161 (4): 872–915. doi:10.1111/j.1096-3642.2010.00665.x.
- ↑ Fernández-Baldor, F. T.; Canudo, J. I.; Huerta, P.; Montero, D.; Suberbiola, X. P.; Salgado, L. (2011). "Demandasaurus darwini, a New Rebbachisaurid Sauropod from the Early Cretaceous of the Iberian Peninsula". Acta Palaeontologica Polonica. 56 (3): 535–552. doi:10.4202/app.2010.0003.
- 1 2 3 Fanti, F.; Cau, A.; Hassine, M.; Contessi, M. (2013). "A new sauropod dinosaur from the Early Cretaceous of Tunisia with extreme avian-like pneumatization". Nature Communications. 4: 2080. Bibcode:2013NatCo...4.2080F. doi:10.1038/ncomms3080. PMID 23836048.
- ↑ Fanti, F.; Cau, A.; Cantelli, L.; Hassine, M.; Auditore, M. (2015). "New information on Tataouinea hannibalis from the Early Cretaceous of Tunisia and implications for the tempo and mode of rebbachisaurid sauropod evolution". PLOS ONE. 10 (4) e0123475. Bibcode:2015PLoSO..1023475F. doi:10.1371/journal.pone.0123475. PMC 4414570. PMID 25923211.

- ↑ Mannion, P. D.; Upchurch, P.; Schwarz, D.; Wings, O. (2019). "Taxonomic affinities of the putative titanosaurs from the Late Jurassic Tendaguru Formation of Tanzania: phylogenetic and biogeographic implications for eusauropod dinosaur evolution". Zoological Journal of the Linnean Society. 185 (3): 784–909. doi:10.1093/zoolinnean/zly068. hdl:10044/1/64080.
- ↑ Lindoso, R. M.; Medeiros, M. A. A.; Carvalho, I. d. S.; Pereira, A. A.; Mendes, I. D.; Iori, Fabiano Vidoi; Sousa, E. P.; Souza Arcanjo, S. H.; Madeira Silva, T. C. (2019). "A new rebbachisaurid (Sauropoda: Diplodocoidea) from the middle Cretaceous of northern Brazil". Cretaceous Research. 104 104191. Bibcode:2019CrRes.10404191L. doi:10.1016/j.cretres.2019.104191. S2CID 201321631.
- 1 2 Hallett, M.; Wedel, M. J. (2016). The Sauropod Dinosaurs: Life in the Age of Giants. Baltimore: Johns Hopkins University Press. hlm. 154, 168, 230–231. ISBN 978-1-4214-2028-8.
- ↑ Ibiricu, L.; Lamanna, M.; Martinez, R.; Casal, G.; Cerda, I.; Martinez, G.; Salgado, L. (2017). "A novel form of postcranial skeletal pneumaticity in a sauropod dinosaur: implications for the paleobiology of Rebbachisauridae". Acta Palaeontologica Polonica. 62. doi:10.4202/app.00316.2016. hdl:11336/62982.
- ↑ Lefebvre, Rémi; Allain, Ronan; Houssaye, Alexandra (2023). "What's inside a sauropod limb? First three-dimensional investigation of the limb long bone microanatomy of a sauropod dinosaur, Nigersaurus taqueti (Neosauropoda, Rebbachisauridae), and implications for the weight-bearing function". Palaeontology. 66 (4) 12670. Bibcode:2023Palgy..6612670L. doi:10.1111/pala.12670.
- ↑ Taylor, M. P.; Wedel, M. J.; Naish, D. (2009). "Head and neck posture in sauropod dinosaurs inferred from extant animals". Acta Palaeontologica Polonica. 54 (2): 213–220. doi:10.4202/app.2009.0007.
- ↑ Marugán-Lobón, J. S.; Chiappe, L. M.; Farke, A. A. (2013). "The variability of inner ear orientation in saurischian dinosaurs: Testing the use of semicircular canals as a reference system for comparative anatomy". PeerJ. 1 e124. doi:10.7717/peerj.124. PMC 3740149. PMID 23940837.
- ↑ Benoit, J.; Legendre, L. J.; Farke, A. A.; Neenan, J. M.; Mennecart, B.; Costeur, L.; Merigeaud, S.; Manger, P. R. (2020). "A test of the lateral semicircular canal correlation to head posture, diet and other biological traits in "ungulate" mammals". Scientific Reports. 10 (1): 19602. Bibcode:2020NatSR..1019602B. doi:10.1038/s41598-020-76757-0. PMC 7658238. PMID 33177568.
- 1 2 Sereno, P. C.; Brusatte, S. L. (2008). "Basal abelisaurid and carcharodontosaurid theropods from the Lower Cretaceous Elrhaz Formation of Niger". Acta Palaeontologica Polonica. 53 (1): 15–46. doi:10.4202/app.2008.0102. hdl:20.500.11820/5d55ed2e-52f2-4e4a-9ca1-fd1732f2f964.
- ↑ Sereno, Paul C. (2017). "Early Cretaceous Ornithomimosaurs (Dinosauria: Coelurosauria) from Africa". Ameghiniana. 54 (5): 576–616. Bibcode:2017Amegh..54..576S. doi:10.5710/AMGH.23.10.2017.3155.
Pranala luar
- National Geographic Live! – Extreme Dinosaurs – kuliah tentang penemuan Nigersaurus oleh Paul Sereno
- National Geographic Live! – Bringing Back Nigersaurus – video tentang rekonstruksi kerangka Nigersaurus
| Nigersaurus | |
|---|---|
| Nigersaurus taqueti | |