Peta megathrust Sunda dan Sesar Besar Sumatra di Sumatra
Banyak pulau di Indonesia, termasuk Sumatera, terletak di dalam zona aktivitas seismik tinggi yang dikenal sebagai Cincin Api.[7][8] Sepanjang megathrust Sunda, Lempeng Indo-Australia sedang subduksi di bawah lempeng Eurasia.[9] Subduksi menciptakan gempa bumi biasa, banyak dari mereka dari jenis megathrust. Secara khusus segmen Sumatra saat ini mengalami periode peningkatan aktivitas yang dimulai dengan bencana gempa bumi Samudra Hindia 2004. Setiap gempa dari urutan tersebut menambahkan tekanan tambahan pada segmen batas lempeng yang belum bergerak baru-baru ini.[10]
Bencana terjadi sebagai akibat dua gempa yang terjadi kurang dari 24 jam pada lokasi yang relatif berdekatan. Pada hari Rabu 30 September terjadi gempa berkekuatan 7,6 pada Skala Richter dengan pusat gempa (episentrum) 57km di barat daya Kota Pariaman (00,84 LS 99,65 BT) pada kedalaman (hiposentrum) 71km. Pada hari Kamis 1 Oktober terjadi lagi gempa kedua dengan kekuatan 6,8 Skala Richter, kali ini berpusat di 46km tenggara Kota Sungaipenuh pada pukul 08.52 WIB dengan kedalaman 24km.[11][12] Setelah kedua gempa ini terjadi rangkaian gempa susulan yang lebih lemah. Gempa pertama terjadi pada daerah patahan Mentawai (di bawah laut) sementara gempa kedua terjadi pada patahan Semangko di daratan.[13]
Getaran gempa pertama dilaporkan terasa kuat di seluruh wilayah Sumatera Barat, terutama di pesisir. Keguncangan juga dilaporkan dari Pematang Siantar, Medan, Kuala Lumpur, Bandar Seri Begawan, Lembah Klang, Jabodetabek, Jakarta, Singapura, Pekanbaru, Jambi, Pulau Batam dari Kota Batam, Palembang dan Bengkulu. Dilaporkan bahwa pengelolaan sejumlah gedung bertingkat di Singapura mengevakuasi stafnya.[14] Kerusakan parah terjadi di kabupaten-kabupaten pesisir Sumatera Barat, bagian selatan Sumatera Utara serta Kabupaten Kerinci (Jambi). Sementara Bandar Udara Internasional Minangkabau mengalami kerusakan pada sebagian atap bandara (sepanjang 100 meter) yang terlihat hancur dan sebagian jaringan listrik di bandara juga terputus.[15] Sempat ditutup dengan alasan keamanan, bandara dibuka kembali pada tanggal 1 Oktober.[16]
Getaran gempa dirasakan hampir separuh wilayah Sumatra, dan sejauh Malaysia hingga Singapura. Getaran hebat dengan intensitas MMI VIII (Parah) di Padang dan Kota Pariaman dengan bangunan kurang kokoh mengalami kerusakan berat, lalu MMI VII (Sangat kuat) di Payakumbuh, MMI VI (Kuat) di Bukittinggi, MMI V (Sedang) di Pekanbaru dan Kota Dumai, MMI IV (Ringan) di Bengkulu dan Jambi.
Akibat
Salah satu gedung pemerintah yang ambruk di Padang
Peringatan tsunami sempat dikeluarkan namun segera dicabut dan terdapat laporan kerusakan rumah maupun kebakaran.[18] Sejumlah hotel di Padang rusak, dan upaya untuk mencapai Padang cukup sulit akibat terputusnya komunikasi.[19] Korban tewas akibat gempa terus bertambah, dikhawatirkan mencapai ribuan orang.[20] Namun, hingga tanggal 4 Oktober 2009, angka resmi yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) adalah 603 orang korban tewas dan 343 orang dilaporkan hilang.[21] Pada tanggal 13 Oktober 2009, angka korban tewas meningkat menjadi 1.115 jiwa; 675 korban tewas di Padang Pariaman, 313 di Padang, 80 di Agam, dan 37 di Pariaman. Pertolongan yang sangat dibutuhkan oleh korban gempa terutama adalah kekurangan obat-obatan, air bersih, listrik, dan telekomunikasi, serta mengevakuasi korban lainnya.[22]
↑"Archived copy". Diarsipkan dari asli tanggal 15 October 2009. Diakses tanggal 14 October 2009. Pemeliharaan CS1: Salinan terarsip sebagai judul (link)
↑Anthony Reid (2015). "History and Seismology in the Ring of Fire: Punctuating the Indonesian Past". Dalam Henley, David; Nordholt, Henk Schulte (ed.). Environment, Trade and Society in Southeast Asia: A Longue Durée Perspective. Brill. hlm.62–77. JSTOR10.1163/j.ctt1w76vg1.8.
↑John McCloskey; Suleyman S. Nalbant; Sandy Steacy (17 March 2005). "Earthquake risk from co-seismic stress". Nature. 434 (291). Diarsipkan dari asli tanggal 2022-10-30. Diakses tanggal 2022-10-30.