1.770+ tercatat, Mw 6.2 pada 12:23 WIT(terkuat)[1]
Korban
1 tewas, 4 luka-luka
Pada tanggal 2 April 2026, pukul 06:48 Waktu Indonesia Tengah atau 07:48 Waktu Indonesia Timur, gempa bumi besar dengan magnitudo 7,4 atau 7,6 Mw melanda Sulawesi Utara dan Maluku Utara, dengan pusat gempa berada di kawasan Laut Maluku, sekitar 126km (78mi) dari Ternate. Menurut USGS gempa tersebut berkedalaman dangkal dengan kedalaman 35km (22mi).[2] Sementara menurut BMKG gempa tersebut bermagnitudo 7,6 dengan kedalaman 18km (11mi).[3]
Kondisi tektonik
Kondisi tektonik yang unik dan kompleks di wilayah Laut Maluku merupakan satu-satunya contoh global dari tumbukan busur-busur aktif yang menelan cekungan samudra melalui subduksi dalam dua arah. Lempeng Laut Maluku men-subduksi oleh lempeng mikro tektonik, yaitu lempeng Halmahera dan lempeng Sangihe. Seluruh kompleksitas ini sekarang dikenal sebagai Zona subduksi Laut Maluku.
Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), wilayah tektonik ini telah menjadi sumber 115 gempa bumi dengan magnitudo melebihi Mw 6,0 sejak tahun 1908, termasuk 18 gempa dengan magnitudo >Mw 7,0. Gempa terbesar yang melanda zona ini adalah dua gempa dengan magnitudo Mw 7,7 pada tahun 1932 dan 1968.[4]
Gempa bumi tersebut terjadi pada hari Kamis pagi, tanggal 2 April 2026, pukul 06:48:12 Waktu Indonesia Tengah (WITA) atau 07:48:12 Waktu Indonesia Timur (WIT) dengan pusat gempa di kawasan Laut Maluku.[5] Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut awalnya tercatat berkekuatan 7,6 magnitudo berkedalaman 62km (39mi), kemudian direvisi parameter update menjadi 7,6 magnitudo dengan kedalaman 18km (11mi). BMKG menjelaskan gempa tersebut diakibatkan aktivitas deformasi kerak bumi pada Zona subduksi laut Maluku. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).[6] Sementara menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), mencatat gempa tersebut tercatat berkekuatan 7,6 magnitudo, dengan kedalaman 35km (22mi), berpusat 126km (78mi) Barat Barat-laut Kota Ternate, Maluku Utara.[7]
Gempa bumi tersebut terasa kuat di seluruh wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara, bahkan guncangan tersebut terasa kuat hingga sampai Kota Manado.[12] Kendaraan-kendaraan berhenti di jalan, dan gempa dirasakan sekitar 2 menit. Motor-motor ikut terguncang, dan hampir seluruhnya jatuh ke jalan.[13] Satu orang tewas tertimpa reruntuhan bangunan Gedung Olahraga (GOR) milik KONI di Kota Manado tepatnya di Kecamatan Sario.[14] Sementara dua orang lainnya mengalami luka-luka.[15]Rumah Sakit Siloam mengalami kerusakan parah pada strukturnya, lima bangunan perkantoran rusak, dan sebuah hotel juga rusak di Kota Manado.[16] Tiga gereja dilaporkan rusak di Kabupaten Minahasa dan Tomohon.[17] Di Kota Bitung, 41 bangunan rusak, termasuk rumah warga, kantor pemerintahan dan masjid yang mengalami kerusakan.[18] Menurut BPBD, kerusakan tersebar di beberapa kecamatan, antara lain Maesa, Matuari, Madidir, Girian hingga kawasan Pulau Lembeh.[19] Di Kabupaten Minahasa, satu orang terluka, 17 rumah rusak, satu kantor pemerintahan, dua fasilitas ibadah, dan satu akses jalan juga terdampak.[20][21]
Pulau Batang Dua merupakan kawasan paling parah terdampak dan sangat dekat dengan pusat gempa bumi.[22] Berdasarkan data sementara BPBD Kota Ternate, sebanyak enam kelurahan di Kecamatan Pulau Batang Dua terkena dampaknya, dan satu orang mengalami luka ringan.[23][24] Total sekitar 282 rumah warga rusak, dan sembilan tempat ibadah juga rusak ringan, sedang hingga berat.[25] Di Kota Ternate, 32 rumah rusak berat, 36 rusak sedang, 66 rusak ringan, serta 6 fasilitas ibadah terdampak. Di Kota Tidore, sekitar 25 rumah rusak ringan, 5 fasilitas ibadah, dan 1 fasilitas umum juga rusak.[26] Di Gambesi, Ternate Selatan, satu rumah dilaporkan rusak ringan.[27] Sebuah jembatan di Kabupaten Halmahera Selatan dilaporkan ambruk.[28] Di Gorontalo sejumlah jalan tertutup oleh tanah longsor akibat guncangan gempa.[29]