657+ tercatat Mw 3.0[4]Mw 5.1 pada 3 April, 16:02 (WIB(terkuat)[5]
Korban
4 terluka
Pada tanggal 22 Maret 2024, serangkaian gempa bumi dengan magnitudo Mw 5.6 terjadi pada pukul 11:22 WIB,[6] dan guncangan utama dengan magnitudo Mw 6.4 terjadi pada pukul 15:52 WIB. Pusat gempa tersebut berada di lepas pantai Laut Jawa, sekitar 110km (68mi) dari Paciran, Kabupaten Lamongan.[7] Akibat rangkaian gempa tersebut, ribuan rumah dilaporkan rusak atau hancur total. Daerah yang paling parah terkena dampaknya adalah Sangkapura dan Tambak, sebuah kecamatan yang terletak di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik.
Getaran gempa ini dirasakan sekitar 15 detik lamanya, dengan Skala intensitas Mercalli mencapai VIII (Parah). Getaran tersebut dirasakan luas di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Bali, getaran tidak hanya terasa di Pulau Jawa, tetapi juga terasa di luar gugus pulau tersebut, termasuk di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.[8] Sedikitnya Empat orang luka-luka, 774 rumah hancur dan 3.905 rusak serta 303 bangunan publik rusak di utara-tengah Jawa Timur. Gempa bumi sebesar ini relatif jarang terjadi di wilayah Laut Jawa, tetapi bukan hal yang tidak terduga, hal ini diyakini oleh sebagian besar ahli seismologi sebagai peristiwa aseismik.[9]
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser (strike-slip). Peristiwa ini merupakan jenis gempa bumi kerak dangkal (shallow crustal earthquake), akibat pada sebuah patahan lokal yang berpusat di Laut Jawa.[14]
Hingga hari Minggu tanggal 24 Maret 2024 pukul 11.00 WIB, gempa susulan dilaporkan masih berlangsung. Tercatat, telah terjadi 238 gempa susulan.[15][16][17][18]
Guncangan gempa dirasakan sangat kuat di seluruh wilayah Pulau Bawean sekitar 35km (22mi) dari pusat gempa, dengan skala MMI VII–VIII, berlangsung selama 15 detik lamanya, dan merusak ribuan rumah, fasilitas publik, hingga masjid. Sementara di Kota Surabaya, Kabupaten Tuban, Kota Gresik, dan Kabupaten Bangkalan getaran dirasakan cukup kuat dengan skala MMI V (Sedang) di mana getaran tersebut dirasakan oleh hampir semua penduduk. Lalu di Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto, dan Lamongan getaran dirasakan dengan skala MMI IV (Ringan). Kemudian di Semarang, Kota Malang, dan Banjarmasin mencapai MMI III (Lemah).
Pulau Bawean terkena dampak paling parah akibat gempa.[20]Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 331 rumah rusak berat, 706 rumah rusak sedang, dan 1.356 rumah rusak ringan. Dampak lainnya, 63 fasilitas pendidikan terdampak, 5 fasilitas kesehatan terdampak, 88 rumah ibadah, dan 5 kantor desa rusak.[21]
Di Kota Surabaya, dua orang mengalami luka-luka, sekitar dua rumah roboh, dan lima belas lainnya rusak. Sebuah rumah sakit juga dilaporkan rusak. Tempat parkir di Tunjungan Plaza mengalami retak-retak. Bangunan Universitas Airlangga juga mengalami kerusakan pada strukturnya.
Di Kabupaten Gresik Kantor pusat Petrokimia Gresik mengalami retak-retak. Sekitar dua orang terluka, empat rumah dan balai desa roboh, serta puluhan bangunan, termasuk 55 rumah dan dua rumah sakit rusak di Tuban.[22][23] Di Desa Tambak, seorang lansia berusia 71 tahun dilaporkan mengalami luka ringan akibat tertimpa genteng.[24]
Di Kabupaten Banjar, kantor camat Tatah Makmur dan Puskesmas di kecamatan Aluh Aluh mengalami retak-retak. [25][26]
Pada gempa sebelumnya (gempa pendahuluan), yang bermagnitudo 5.6 yang terjadi pukul 12:31 WIB, dilaporkan menyebabkan seorang jamaah terluka karena retakan keramik tiang masjid di Desa Kumalasa, Kecamatan Sangkapura.[27]
Pasca gempa
Pasca gempa, muncul beberapa sebuah semburan lumpur mendadak di area Bledug Cangkring, Kabupaten Grobogan.
Lumpur ini muncul pada 22 Maret 2024 sekitar pukul 16.00 WIB. Lumpur tersebut meluas hingga ke area persawahan sejauh 100 meter dan berhenti pada pukul 21.00 WIB.[28][29]
Air panas muncul di beberapa titik di Pulau Bawean, masyarakat menemukan sekitar delapan titik lubang yang mengeluarkan air panas pada wilayah sebuah sekolah di Desa Tambak, Kecamatan Tambak Pulau Bawean. Pada awalnya, lubang tersebut mengeluarkan lumpur. Setelah sekitar 30 menit, lumpur berubah menjadi air tawar. Lama kelamaan, air perlahan hangat dan dingin seperti pada umumnya. Semburan air dan lumpur tersebut berhenti pada pukul 02.00 WIB tanggal 23 Maret 2024.[30][31]
Disinformasi dan Hoaks yang Terjadi
Karena daerah Tuban jarang merasakan gempa, tersebar disinformasi di masyarakat dan menimbulkan kekhawatiran. Berikut daftarnya:
Setelah Gempa, Gelombang Besar Menerjang Kawasan Pantai di Kabupaten Tuban
Berdasarkan penelusuran Diskominfo SP Kabupaten Tuban, narasi disertai foto ini merupakan merupakan hasil jepretan jurnalis beritajatim.com. Pada berita tersebut memuat informasi tentang ombak yang menerjang pantai di Kabupaten Malang akibat peralihan musim hujan ke musim kemarau.[32]
Beredar Video Durasi 13 Detik Rusaknya Infrastruktur Di Tuban Akibat Gempa
Berdasarkan hasil telusur Diskominfo SP Kabupaten Tuban, dengan bantuan pencarian gambar Google, diketahui bahwa unggahan video yang tersebar itu merupakan rekaman video dari gempa yang berada di Kabupaten Cianjur.[33]
Foto Beberapa Rumah Warga Singgahan Rubuh Akibat Gempa Bumi
Berdasarkan hasil telusur Diskominfo SP Kabupaten Tuban, foto tersebut menggambarkan kejadian bencana gempa bumi di Kabupaten Cianjur pada tahun 2022.[34]
Imbauan dari BPBD Mengenai Adanya Gempa Susulan di Wilayah Tuban
Konfirmasi yang didapat oleh tim Klinik Hoaks Diskominfo SP kepada BPBD Tuban, pihaknya menyebutkan bahwa saat ini belum ada perkiraan adanya gempa susulan masih belum bisa diprediksi. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh pihak BMKG melalui siaran pers yang digelar secara daring, bahwa BMKG juga belum dapat memastikan potensi adanya gempa susulan dalam kurun waktu 24 jam ke depan. Meskipun begitu, pihaknya tetap mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dan meningkatkan kewaspadaannya.[35]