Gempa bumi Jawa 1834 melanda pulau Jawa, di dekat kota Bogor, Hindia Belanda. Gempa tersebut terjadi pada pagi hari tanggal 11 Oktober 1834. Gempa ditetapkan pada skala VIII (Parah) hingga IX (Hebat) Skala intensitas Mercalli yang dimodifikasi, dirasakan sangat kuat di kota Batavia (kini Jakarta). Gempa itu didahului oleh serangkaian gempa ringan pada malam harinya sebelum gempa utama datang.[1] Beberapa sumber meyakini gempa tersebut disebabkan oleh Sesar Baribis,[2] sementara sumber lain menyatakan bahwa gempa tersebut disebabkan oleh Sesar Citarik.[3]
Gempa utama terjadi pada pagi hari, berkekuatan 7,0 Mw dengan kedalaman sangat dangkal 12km (7mi) berpusat sekitar 11 km dari Kota Bogor. Getaran gempa dirasakan kuat, di seluruh provinsi Jawa Barat, Banten, dan Batavia, guncangan gempa diperkirakan berdurasi 51 detik lamanya. Di Kota Bogor, gempa bumi menyebabkan Istana Bogor mengalami kerusakan parah.[4]
Gempa bumi
Pemodelan gempa bumi dengan magnitudo momen (Mw) 7,0 pada kedalaman 12 km di sepanjang patahan naik sepanjang 45 km yang dikenal sebagai Sesar Baribis konsisten dengan deskripsi historis tentang gempa bumi dan dampaknya. Dalam simulasi gerakan tanah, Batavia, Buitenzorg, Tjanjor, dan Tjiandjawar mengalami guncangan paling kuat, pada skala IX pada skala intensitas Mercalli. Simulasi juga memprediksi guncangan hebat hingga dahsyat di Banten, Karawang, dan Tegal, tetapi tidak ada laporan kerusakan parah di sana, kemungkinan karena bias historis.[5]
Kerusakan
Gempa itu didahului oleh sejumlah gempa bumi berukuran sedang pada malam sebelumnya tanggal 11 Oktober. Ketika gempa utama melanda keesokan paginya, gempa itu sangat terasa. Getaran juga terdeteksi oleh orang-orang dari Tegal di Jawa Tengah hingga Lampung di pulau Sumatra.[6]
Meskipun gempa tersebut menyebabkan sangat sedikit korban jiwa dan luka-luka, bangunan banyak yang rusak parah dan beberapa runtuh. Kerusakan jalan seperti retak dilaporkan dari Bogor hingga Cianjur, dan Kabupaten Cianjur. Banyak gudang dan pabrik juga terkena dampak parah. Sebuah stasiun pos di kota terkubur tanah longsor, menewaskan lima orang dan sepuluh ekor kuda. Banyak rumah dan bangunan batu di Batavia yang rusak. Gudang pedesaan dan sejumlah townhouse juga rusak. Istana Bogor di kota itu, yang merupakan kediaman Jean Chrétien Baud, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, rusak parah sehingga Jean Chrétien Baud memerintahkannya untuk dibongkar.[7] Istana ini dibangun kembali dengan gaya arsitektur Eropa abad ke-19 yang baru.[8]