Pulau Jawa berada di dekat batas konvergen aktif yang memisahkan Lempeng Sunda di sebelah utara dan Lempeng Australia di sebelah selatan. Di perbatasan ini, yang ditandai dengan Palung Sunda dan Lempeng Australia yang bergerak ke arah utara men-subduksi di bawah Lempeng Sunda. Palung Sunda di bagian Selatan (Jawa) memanjang dari Selat Sunda di barat hingga ke Bali di timur. Konvergensi kerak samudra yang relatif tua terjadi dengan kecepatan 6 sentimeter (2,4 inci) per tahun di bagian barat dan 4,9cm (1,9 inci) per tahun di bagian timur, serta penurunan Zona Benioff (sudut kemiringan).[3] Zona subduksi ini mampu menghasilkan gempa bumi Megathrust hingga bermagnitudo 8,7, sementara Lempeng Australia juga dapat menghasilkan gempa bumi dalam dari litosfer ke bawah (gempa bumi intralempeng) di lepas pantai Pulau Jawa. Zona subduksi ini menghasilkan dua gempa bumi dan tsunami yang merusak pada tahun 2006 dan 1994.[4]
Gempa bumi
Gempa bumi tersebut terjadi pada hari Jumat malam, 6 Februari 2026, pukul 01:06:10 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut awalnya tercatat berkekuatan 6,4 magnitudo, kemudian direvisi parameter update menjadi 6,2 magnitudo. Pusat gempa berada pada koordinat 8,98 LS dan 111,18 BT.[5] Lokasi tersebut berada di laut, berjarak 89 kilometer arah tenggara Kota Pacitan dengan kedalaman 58 kilometer (36mi). Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengungkapkan bahwa analisis mekanisme sumber memperlihatkan adanya pergerakan naik (thrust fault). Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa ini dikategorikan sebagai gempa dangkal.[6] Sementara menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa tersebut tercatat berkekuatan 5,8 magnitudo, dengan kedalaman 40km (25mi).[7]
Dampak
Jawa Timur
Satu orang tewas akibat syok di Ngadirojo, Pacitan.[8][9] Di seluruh wilayah Pacitan, setidaknya 46 bangunan rusak, kerusakan tersebut tersebar di berbagai titik, mencakup rumah warga, sarana pendidikan (sekolah), tempat ibadah, hingga fasilitas umum lainnya.[10] Kerusakan didominasi oleh atap ambrol, genting runtuh, serta dinding rumah yang retak hingga jebol akibat kuatnya guncangan.[11][12] Di Kabupaten Trenggalek, delapan bangunan rusak, terdiri dari tujuh rumah warga dan satu balai desa rusak ringan.[13] di Kabupaten Ponorogo, empat rumah dilaporkan roboh, dan satu masjid rusak.[14] Satu rumah tua roboh dan menimpa sebuah kafe di Kota Blitar.[15][16] Di Kabupaten Blitar, gempa mengakibatkan dua rumah rusak, termasuk dapur rumah warga di Kecamatan Kesamben roboh dan dinding dapur rumah warga di Kecamatan Gandusari retak parah.[17] Sementara di Kabupaten Madiun, dan Nganjuk, puluhan bangunan lain juga terdampak.[18]
Yogyakarta
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, setidaknya 47 orang luka-luka akibat dampak dari gempa tersebut.[19] Di Kabupaten Bantul, 11 rumah rusak, dua tempat ibadah, empat fasilitas pemerintah; termasuk kantor Samsat Bantul yang rusak cukup parah, dan satu tempat parkir Palang Merah Indonesia (PMI) Bantul,[20] dua bangunan sekolah rusak, serta satu fasilitas kesehatan rusak.[21] Total sedikitnya 20 titik infrastruktur terdampak.[22] Di Kota Yogyakarta, dua rumah dilaporkan rusak pada atap dan plafon.[23][24]