Pada 16 Maret 2026 sekitar pukul 19.30–20.00 WIB, terjadi ledakan di Masjid Raya Pesona Alhabsyi, Kelurahan Patrang, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Jawa Timur, saat jemaah sedang melaksanakan salat tarawih.[1] Peristiwa ini menyebabkan kerusakan pada bagian bangunan masjid dan satu orang mengalami gangguan pendengaran akibat dampak ledakan.[2] Penyelidikan atas penyebab kejadian tersebut masih berlangsung.[3]
Latar belakang
Masjid Raya Pesona Alhabsyi merupakan tempat ibadah yang berada di kawasan perumahan Pesona Regency, Jember.[4] Pada malam kejadian, masjid tersebut sedang digunakan untuk pelaksanaan salat tarawih yang diikuti oleh sejumlah jemaah dari lingkungan sekitar.[5]
Kronologi
Ledakan terjadi pada Senin malam, 16 Maret 2026, sekitar pukul 19.30–20.00 WIB. Dentuman keras terdengar saat ibadah salat tarawih masih berlangsung, tepatnya menjelang rakaat akhir. Sejumlah saksi mata awalnya mengira suara tersebut berasal dari petasan sebelum menyadari adanya ledakan di dalam area masjid.[6]
Menurut keterangan saksi, sumber ledakan diduga berasal dari area tempat wudu laki-laki. Beberapa laporan menyebutkan bahwa titik ledakan berada di dalam atau sekitar sebuah lemari besi yang digunakan untuk menyimpan perlengkapan ibadah seperti sarung.
Setelah ledakan terjadi, jemaah sempat menyelesaikan satu rakaat sebelum akhirnya menghentikan ibadah dan mengevakuasi diri dari lokasi.
Dampak
Ledakan menyebabkan kerusakan pada beberapa bagian masjid, termasuk plafon, ventilasi (roster), etalase, serta perlengkapan ibadah. Selain kerusakan fisik, satu orang jemaah mengalami gangguan pendengaran akibat tekanan suara dari ledakan dan dilarikan ke RSUD dr. Soebandi Jember untuk mendapatkan perawatan medis.
Tidak terdapat laporan korban jiwa dalam insiden ini.[7]
Penyelidikan
Penyelidikan dilakukan oleh Kepolisian Daerah Jawa Timur dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk tim Penjinak Bom (Jibom), Laboratorium Forensik (Labfor), Brimob, serta dukungan dari Detasemen Khusus 88.[8]
Dalam proses olah tempat kejadian perkara (TKP), aparat menemukan indikasi adanya bahan kimia di lokasi ledakan.[9] Temuan tersebut menyebabkan proses pengumpulan barang bukti dilakukan dengan prosedur khusus guna memastikan keselamatan dan akurasi analisis forensik.[10]
Polisi juga mengamankan rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi untuk membantu merekonstruksi kejadian sebelum ledakan terjadi. Sejumlah saksi, termasuk warga sekitar dan pengurus lingkungan, turut dimintai keterangan.
Hingga beberapa hari setelah kejadian, penyebab pasti ledakan masih belum dapat dipastikan dan masih dalam tahap penyelidikan lebih lanjut.
Respons
Aparat kepolisian segera melakukan sterilisasi area pascakejadian dan memasang garis polisi di sekitar masjid untuk kepentingan penyelidikan. Akses ke lokasi dibatasi sementara waktu guna mencegah potensi bahaya lanjutan.
Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta tetap menjalankan aktivitas seperti biasa selama proses penyelidikan berlangsung.[7]