Pesawat yang terlibat adalah Cessna 208B Grand Caravan, pesawat turboprop bermesin tunggal yang umum digunakan untuk penerbangan perintis dan regional.[5] Pesawat tersebut dioperasikan oleh Smart Air untuk penerbangan penumpang bersubsidi di wilayah Papua dan sekitarnya.[6]
Pada saat kejadian, pesawat mengangkut 13 orang, terdiri dari 11 penumpang dan 2 awak pesawat, yakni Pilot in Command (PIC) Capt. Tania K dan Second in Command (SIC) FO Bagus.[7]
Pesawat
Jenis pesawat: Cessna 208B Grand Caravan
Operator: Smart Air (PT Smart Cakrawala Aviation)
Nomor registrasi: PK-SNS
Rute: Nabire (NBX) – Kaimana (KNG)
Jumlah orang di dalam pesawat: 13 orang
Kronologi
Pesawat lepas landas dari Bandara Douw Aturure Nabire menuju Bandara Kaimana sekitar pukul 12.45–13.01 WIT.[8] Tidak lama setelah lepas landas, pilot mendeteksi adanya gangguan pada mesin pesawat yang menyebabkan penurunan daya dorong(thrust power).[9]
Pilot kemudian menghubungi petugas Air Traffic Control (ATC) dan memutuskan untuk melakukan Return to Base (RTB) atau kembali ke bandara asal.[10] ATC mengarahkan pesawat untuk melakukan pendekatan ke Runway 17.[11]
Namun, saat melakukan manuver kembali ke bandara, pesawat terus mengalami penurunan ketinggian dan tidak mampu mencapai landasan pacu.[12] Demi keselamatan penumpang dan awak, pilot memutuskan melakukan pendaratan darurat di area pantai di sekitar Logpond atau Pantai Kaladiri, yang berada di ujung landasan Bandara Douw Aturure Nabire.[13]
Pesawat akhirnya mendarat di perairan dangkal atau bibir pantai sekitar pukul 13.14–13.40 WIT.[14]
Evakuasi dan penanganan
Setelah pendaratan darurat, seluruh penumpang dan awak pesawat berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat oleh tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, serta petugas UPBU Bandara Douw Aturure Nabire.[15]
Kepala Kantor Basarnas Nabire menyatakan bahwa tidak terdapat korban jiwa maupun luka serius dalam insiden ini.[16] Beberapa penumpang dilaporkan mengalami trauma dan menjalani pemeriksaan medis lanjutan.[17]
Kepolisian Resor Nabire melakukan pengamanan lokasi kejadian serta pengumpulan informasi awal.[18] Proses penarikan pesawat ke area pantai dilakukan untuk keperluan investigasi.[19]
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara melakukan koordinasi dengan operator penerbangan, aparat keamanan, dan instansi terkait untuk memastikan penanganan insiden berjalan aman dan terkendali.[21]Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dijadwalkan melakukan investigasi lebih lanjut guna mengetahui penyebab pasti insiden tersebut.[22]
Hingga pernyataan resmi terakhir, penyebab teknis insiden masih dalam proses penyelidikan.[23]
Dampak
Insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa. Aktivitas Bandara Douw Aturure Nabire sempat dilakukan pengamanan di sekitar lokasi kejadian, namun tidak dilaporkan adanya gangguan signifikan terhadap operasional penerbangan secara keseluruhan.[24][25]